Covid-19 Berdampak Baik terhadap Ekosistem Laut

"Jadi ikan ikan yang pada saat sebelum pandemi kita lihat kurang, sekarang jumlahnya banyak sekali. Sekarang kita lihat tuna cuma dari pelabuhan yang ada di sana, terus juga hiu"

BERITA | NASIONAL

Minggu, 28 Jun 2020 00:28 WIB

Author

Ardhi Rosyadi

Covid-19 Berdampak Baik terhadap Ekosistem Laut

Ilustrasi Wisata Laut

KBR, Jakarta- Pandemi Covid-19 membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Namun di sisi lain, wabah ini memunculkan dampak positif bagi alam termasuk laut. 

Berkurangnya aktivitas manusia dengan melakukan isolasi diri untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 memberikan waktu bagi laut untuk beristirahat sementara waktu. 

Menurut penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM)Yogyakarta tidak adanya aktivitas wisatawan ini juga membawa pengaruh terhadap pengurangan tingkat polusi suara atau kebisingan dari kapal-kapal laut yang mengangkut wisatawan maupun pengiriman barang berkurang. 

Paus dan lumba-lumba berkomunikasi dan berburu dengan sinyal sonik. Namun, hal ini menjadi terganggu oleh kebisingan industri laut hingga sonar. Polusi suara membuat paus betina tidak bisa mendengar paus jantan bernyanyi, padahal ini salah satu daya tarik paus untuk kawin.

Kebisingan juga membuat makhluk laut mengalami tekanan tingkat rendah yang konstan, efek panjangnya belum diketahui. 

Baca Juga:

Jaga Bumi Sembari Ikut Lomba Blog Perubahan Iklim 

Lembaga Konservasi Internasional dalam peringatan Hari Laut tahun ini menjelaskan terumbu karang dan megafauna di Raja Ampat beristirahat dan tumbuh dengan baik saat masa Covid-19. 

Pengelola kampung wisata Arborek, Raja Ampat, Papua Barat, Githa Anathasia mengamini hal tersebut. Kata dia, saat ini sampah di laut Raja Ampat berkurang, dan perairan laut menjadi lebih bersih. 

Pada 2016 lalu, World Economic Forum melansir fakta sampah plastik di laut. Saat ini, ada lebih dari 150 juta ton plastik di perairan bumi. Jumlah itu bertambah 8 juta ton lagi setiap tahunnya.

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention On Biological Diversity) pada 2016, sampah di lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies.

Dari 800 spesies itu, 40%-nya adalah mamalia laut dan 44% lainnya spesies burung laut. Data itu kemudian diperbarui pada Konferensi Laut PBB di New York pada 2017 lalu. Konferensi menyebut limbah plastik di lautan telah membunuh 1 juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, kura-kura laut, dan ikan-ikan dalam jumlah besar, tiap tahun.

Tak hanya itu, Githa juga menjelaskan bahwa sejumlah ikan yang jarang ditemukan justru nampak dalam kondisi seperti saat ini.

"Jadi ikan ikan yang pada saat sebelum pandemi kita lihat kurang, sekarang jumlahnya banyak sekali. Sekarang kita lihat tuna cuma dari pelabuhan yang ada di sana, terus juga hiu," ujar Githa kepada KBR dalam program Ruang Publik, Jumat (26/06/20).

Sementara itu CEO Arborek Dive ini juga menekankan di musim sepi pengunjung karena pandemi seperti saat ini, masyarakat lokal yang setiap harinya menjadi pemandu wisata justru dapat lebih mengeksplorasi alam sekitar.

"Mereka (warga lokal) lebih banyak bermain di sini, terus tidak lupa juga kami terus sampaikan bahwa menjaga alam tidak hanya saat sepi (pengunjung) tetapi juga saat musim liburan," ujarnya.

Sementara itu pakar kelautan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, M Zainuri menjelaskan kerusakan laut khususnya di lokasi pariwisata juga disebabkan kapal wisata maupun perahu motor yang berlabuh.

"Problemnya perahu motor itu mesinnya tidak dimatikan selama menunggu (penyelam). Hampir semua motor (perahu) menggunakan pendingin berasal dari air laut yang dibuang lagi ke laut, tidak hanya coral reefs (terumbu karang) yang buat kami perhatian tetapi juga otomatis permukaan dari air laut itu ada tumpahan minyak yang lama-lama akan mengendap di pinggir pantai," ujar Zainuri dalam program Ruang Publik KBR, Jumat (26/06/20).

Menurut data Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN), dari tahun 2017 hingga 2019 sedikitnya ada empat kapal wisata yang kandas dan mengakibatkan kerusakan terumbu karang di Raja Ampat.

Caledonian Sky (2017), Kapal Amanikan (2018), Kapal berlambung WOW (2019) dan Kapal Aqua Blu (2019).

Dampak C02 Terhadap Kerusakan Laut dan Daratan

Kenaikan jumlah populasi manusia berbanding lurus dengan kenaikan konsentrasi karbondioksida di atmosfer yang menyebabkan pemanasan global. 

Emisi karbon dari mobil, kapal, bangunan dan pabrik merupakan penyebab utama perubahan iklim. Sebagian besar emisi ini masuk ke atmosfer. Jurnal Nature Climate Change merinci konsentrasi CO2 di atmosfer kini berjumlah 392 bagian per juta partikel.

Kenaikan karbondioksida tersebut menyebabkan terjadinya kenaikan temperatur di permukaan bumi, sehingga temperatur yang tinggi menyebabkan terjadinya pelelehan volume es di kutub.

Dampaknya, volume air laut akan meninggi dan menyebabkan tenggelamnya wilayah pesisir.

Tak hanya itu pemanasan global juga mengancam ekosistem laut, yakni menyebabkan suhu air laut semakin naik.

Kondisi ini kian mengancam biota laut, termasuk terumbu karang yang menjadi salah satu penyangga utama ekosistem ini.

Para ilmuwan iklim terkemuka di dunia memprediksi pada tahun 2100, antara lain terjadi kenaikan permukaan laut global akan lebih rendah 10 cm dengan pemanasan global 1,5° C dibandingkan dengan kenaikan suhu global 2° C. 

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pertumbuhan Ekonomi Minus, Pemerintah Gagal Manfaatkan Peluang?