Tiket Pesawat Mahal, Turunkan Kunjungan Wisata ke Lombok dan Raja Ampat

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi NTB, I Gusti Lanang Patra mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan turunnya tamu hotel pada libur Lebaran 2019 ini.

, BERITA , NUSANTARA

Jumat, 07 Jun 2019 17:20 WIB

Author

Zainudin Syafari

Tiket Pesawat Mahal, Turunkan Kunjungan Wisata ke Lombok dan Raja Ampat

Wisatawan menikmati suasana di Pantai Tanjung Bias, Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Rabu (1/5/2019). Pantai Tanjung Bias berlatar belakang pemandangan Gunung Agung di Bali, serta keindahan panorama matahari tenggelam yang menawan me

KBR, Mataram - Libur Lebaran Idulfitri 2019 ternyata tidak melulu mendatangkan keuntungan, khususnya bagi pengelola hotel dan restoran di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Jumlah okupansi atau keterpenuhan hotel pada masa libur Lebaran kali ini, rata-rata hanya 20 persen. Padahal, saat libur Lebaran tahun-tahun sebelumnya, okupansi hotel bisa mencapai lebih dari 50 persen.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi NTB, I Gusti Lanang Patra mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan turunnya tamu hotel pada libur Lebaran 2019 ini. Antara lain, karena masih mahalnya harga tiket pesawat. Selain itu, pelaksanaan Pemilu 2019 juga masih menyisakan persoalan sosial, yang ikut mempengaruhi sektor pariwisata, khususnya di NTB.

"Sangat sepi, turun sekitar 20 persenan okupansi hotel sekarang. Mestinya Lebaran itu ramai. Nah banyak sebab, satu rentetannya dengan tahun politik. Berisiko lah, orang takut pergi kemana-mana," kata I Gusti Lanang Patra, kepada kontributor KBR, Zainudin Syafari di Mataram, Jumat (7/6/2019).

Gusti mengatakan, tamu hotel yang biasa melancong dari Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota lainnya di Jawa, biasanya lanjut berlibur ke Lombok. Kini mereka lebih banyak yang berlibur ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. 

"Hal itu karena harga tiket menuju ke sana sering lebih murah daripada ke Lombok. Selain ke negara tetangga, tamu dari Jakarta, juga diduga lebih memilih Bali, karena pertimbangan harga tiket yang relatif lebih rendah," ungkap Gusti lagi.

Kunjungan Wisata ke Raja Ampat Turun

Keluhan penurunan kehadiran wisatawan juga dirasakan pengelola destinasi wisata di Papua Barat, yaitu Raja Ampat. 

Kunjungan wisatawan di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, turun sekitar 30 persen, akibat tingginya harga tiket pesawat ke Papua.

Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat, Yusdi Lamatenggo di Waisai, Rabu (5/6/2019) mengatakan, tingginya harga tiket pesawat ke Papua sangat mempengaruhi jumlah kunjungan wisata ke Raja Ampat.

Dia mengatakan, mahalnya harga tiket pesawat menjadi keluhan insan pariwisata di seluruh wilayah Indonesia bukan hanya Kabupaten Raja Ampat.

Yusdi mengakui, setahun terakhir jumlah kunjungan wisatawan asing maupun domestik yang berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat turun sekitar 30 persen.

"Banyak wisatawan yang sudah mendaftar untuk berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat membatalkan kunjungan karena harga tiket pesawat sangat mahal," ujarnya seperti dikutip Antara.

Karena itu, dia berharap agar harga tiket pesawat ke Papua terutama kota Sorong dan Raja Ampat diturunkan dengan nilai yang wajar dan dapat dijangkau sehingga kunjungan wisatawan ke Raja Ampat meningkat.

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat terus berupaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dengan melakukan promosi baik dalam maupun luar negeri serta menggelar berbagai Festival.

"Meskipun promosi dan berbagai event dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di Raja Ampat, jika harga tiket pesawat tetap mahal target tidak akan tercapai," ujarnya.

Editor: Fadli Gaper 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Jelang Putusan Final MK

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10