Tahun Ini, Menag Bakal Getol Bahas Penyatuan Kalender Hijriah

"Jadi Majelis Ulama Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama segera mengadakan forum kajian ilmiah yang dihadiri oleh sejumlah ahli, para pakar ilmu falak, astronomi."

BERITA | NASIONAL

Senin, 03 Jun 2019 21:35 WIB

Author

Dwi Reinjani

Tahun Ini, Menag Bakal Getol Bahas Penyatuan Kalender Hijriah

Menteri Agama, Lukman (kedua kiri) didampingi Ketua MUI Bidang Kerukunan Umat Beragama, Yusnar (kanan), Ketua Komisi 8, Ali Taher (kiri) usai Sidang Isbat penentuan Idulfitri 2019 di Jakarta, Senin (3/6/2019). (Foto: ANTARA/ M Adimaja)

KBR, Jakarta - Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sepakat melakukan kajian intensif mengenai penyatuan kalender Hijriah.

Menurut Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin langkah ini diperlukan agar kelak tak ada lagi perbedaan dalam penentual 1 Syawal. Baik antara Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU), ataupun dengan organisasi Islam lain.

"Setelah Ramadan ini kami bisa melakukan pertemuan intensif dalam rangka penyatuan kalender Hijriah. Jadi Majelis Ulama Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama segera mengadakan forum kajian ilmiah yang dihadiri oleh sejumlah ahli, para pakar ilmu falak, astronomi," jelas Lukman kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/6/2019).

"Lalu kemudian melakukan pertemuan intensif yang kemudian diperluas oleh wakil dari ormas-ormas Islam. Sehingga harapannya, tentu kita memiliki kalender Hijriah yang bisa disepakati bersama," lanjut Lukman.

Wacana penyatuan kalender Hijriah bukan saja mencuat tahun ini. Sebelumnya pada 2017 lalu, ide penyeragaman kalender Islam santer dibicarakan.

Namun menurut Lukman kala itu kementerian, DPR serta lembaga pengkaji masih mencari formula yang tepat untuk menyatukan kalender.

Bahkan pada 15 Mei 2018, Lukman saat itu mengatakan tengah melakukan konsolidasi rutin agar gagasan tersebut bisa terealisasi pada tahun yang sama.

Namun saat ditanya mengenai kendala dalam proses penyatuan, Menteri Agama Lukman Hakim enggan berkomentar. Ia hanya berharap setelah Ramadan tahun ini, kementeriannya bersama Komisi 8 DPR dan lembaga keagamaan lain dapat mengkaji wacana tersebut dengan sungguh-sungguh.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun