Pansel KPK: Dari 260 Juta Orang Indonesia, Kita Butuh 5 Orang Baik Saja

Pernyataan itu dilontarkan Ketua Pansel KPK saat membahas syarat anti-radikalisme untuk calon pimpinan KPK.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 19 Jun 2019 14:38 WIB

Author

Adi Ahdiat

Pansel KPK: Dari 260 Juta Orang Indonesia, Kita Butuh 5 Orang Baik Saja

Ketua Pansel calon pimpinan KPK, Yenti Garnasih (tengah), saat meninggalkan Gedung KPK seusai pertemuan dengan pimpinan KPK di Jakarta, Rabu (12/6/2019). (Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)

KBR, Jakarta - Panitia Seleksi (Pansel) pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut, pihaknya membutuhkan lima orang baik untuk menjalankan KPK.

“Dari 260 juta orang di Indonesia masak tidak ada lima orang yang baik. Kan kita hanya butuh lima saja," kata Ketua Pansel KPK, Yenti Ganarsih, seperti dikutip Antara, Rabu (19/6/2019).

Pernyataan itu dilontarkan Yenti saat membahas syarat anti-radikalisme untuk calon pimpinan KPK. Ia menyebut, pihaknya mencegah agar tidak ada penganut radikalisme yang masuk.

"Kami berjaga-jaga dan berusaha agar tidak ada orang yang terpapar paham itu (radikalisme) jadi komisioner KPK,” jelasnya.

"Ini (radikalisme) masalah lama yang memang ada di Indonesia, dan kita harus menjaga keutuhan NKRI, Bhineka Tunggal Ika. Jangan sampai ada yang mengganggu keutuhan itu," tambahnya lagi.


Baca Juga: Integritas Diragukan, Pansel KPK: Kami Independen


Kerja Sama dengan BNPT dan BNN

Sebelumnya, Yenti mengaku bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk mencari calon pimpinan KPK.

"Kenapa ada BNPT dan BNN? Berkaitan dengan pemahaman psikologi dan kecenderungan seseorang terpapar radikalisme, keadaan Indonesia, dinamika yang terjadi radikalisme sehingga Pansel tidak mau kecolongan kalau ada yang kecenderungan ke radikalisme, tapi tentu penilaiannya nanti menggunakan penliaian yang bisa dilakukan secara psikologis, klinis tetapi juga data dari BNPT sendiri," jelas Yenti, seperti dikutip Antara (17/6/2019).

Jika BNPT membantu menyaring orang-orang berpaham radikal, BNN membantu menghalau masuknya sindikat narkotika ke dalam tubuh KPK.

"Untuk BNN, bukan saja calon itu bukan pengguna narkoba, tetapi lebih dari itu. Catatan-catatan yang bersangkutan terlibat dalam sindikat-sindikat narkotika ini penting karena di beberapa negara sangat mungkin orang yang terpilih punya backing dari kartel-kartel narkoba," ungkap Yenti.

Dalam melakukan penelusuran latar belakang calon pimpinan KPK, Pansel KPK juga bekerja sama dengan Polri, Kejaksaan, Badan Intelijen Nasional (BIN), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan juga KPK sendiri.

Selain memiliki rekam jejak bersih, Pansel KPK berharap para calon pimpinan KPK bisa berpikir out of the box, dan punya visi konstruktif terkait pemberantasan korupsi di era Industri 4.0.

Editor: Citra Dyah Prastuti 

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Koalisi Gemuk Pemerintah Dinilai Ancam Demokrasi