Lebaran Duluan, Jemaah Al Muhdhor: Perbedaan Itu Wajar dan Diperbolehkan

"Perbedaan itu khilafiah, dan itu wajar dan diperbolehkan dalam Islam. Tidak perlu dipertentangkan," ujar Habib Hamid.

BERITA | NUSANTARA

Senin, 03 Jun 2019 10:46 WIB

Author

Adi Ahdiat

Lebaran Duluan, Jemaah Al Muhdhor: Perbedaan Itu Wajar dan Diperbolehkan

Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Jemaah Al Muhdohr di Tulungagung merayakan Idulfitri lebih awal dari jadwal pemerintah. (Foto: Wikimedia Commons)

KBR, Jakarta- Puluhan jemaah Al Muhdhor yang tersebar di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menggelar lebaran pada Senin (3/6/2019). Jemaah pengikut ajaran Habib Sayyid Ahmad bin Salim Al Muhdhor ini merayakan lebaran dengan menggelar salat Id yang dilanjutkan kenduri bersama di Masjid Nur Muhammad, Desa Wates, Kab. Tulungagung, Jawa Timur.

Salat Id diimami oleh Habib Hamid bin Ahmad Al Muhdhor, pengasuh pondok pesantren yang merupakan putra almarhum Habib Sayyid Ahmad bin Salim Al Muhdhor, dan diyakini memiliki hubungan keturunan langsung dengan Nabi Muhammad.

Menurut keterangan Habib Hamid, jemaah Al Muhdhor merayakan Idulfitri lebih awal karena mereka menjalankan puasa Ramadan lebih awal dari jadwal pemerintah.

"Kami melaksanakan puasa dua hari lebih awal dibanding umat Islam pada umumnya," kata Habib Hamid sebagaimana dikutip dari Antara (3/6/2019).

Ia juga menjelaskan bahwa penetapan puasa Ramadan dan Idulfitri jemaah Al Muhdohr dilakukan berdasarkan metode turun-temurun.

"Sudah ada hitung-hitungannya berdasar petunjuk ahli falaq. Keyakinan ini juga sudah diikuti jemaah Al Muhdhor sejak lama, sejak masa Habib Sayyid Ahmad bin Salim Al Muhdhor masih hidup," kata Habib Hamid.

Kepada Antara, Habib Hamid menegaskan dirinya dan jamaah Al Muhdohr tak berkenan diliput media saat pelaksanaan salat Id.

"Ibadah itu urusan yang sangat pribadi. Kami ingin menjalani ibadah dengan tenang dan tidak perlu menjadi sorotan yang nantinya justru memicu perdebatan di masyarakat karena kami menjalani ibadah salat Id lebih awal dibanding umat Islam pada umumnya," katanya. 


Perbedaan Wajar dan Diperbolehkan

Habib Hamid menyebut, tarekat Al Muhdhor memiliki kedekatan dengan tradisi Nahdhlatul Ulama (NU). Namun, perbedaan jadwal puasa dan lebaran antara Al Muhdohr dengan NU tidak dianggap sebagai masalah.

"Perbedaan itu khilafiah, dan itu wajar dan diperbolehkan dalam Islam. Tidak perlu dipertentangkan," ujar Habib Hamid.

Meski jumlah jemaah Al Muhdhor di Tulungagung terbilang sedikit, kurang dari 100 orang, mereka memiliki hubungan baik dengan warga sekitar.

"Semua berjalan normal dan tidak ada gesekan. Hubungan kami dengan pihak pondok (Al Muhdhor) baik, demikian juga mereka juga baik ke masyarakat. Habib (Hamid) juga menyempatkan anjangsana ke rumah kami, warga sekitar," kata Mur, salah satu tetangga dekat Habib Hamid.

Menurut Habib Hamid, penganut ajaran Al Muhdlor tidak hanya ada di Tulungagung dan sekitarnya, tapi juga tersebar di sejumlah daerah di Indonesia dan berjejaring hingga ke Mesir, Timur Tengah.

"Barometer kami (ajaran Al Muhdhor) dari sana (Timur Tengah)," katanya.

(Sumber: Antara)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kala Berbahasa Indonesia Mesti Diatur dalam Perpres

Kabar Baru Jam 10

Basarnas Jabar Targetkan Nol Persen Kecelakaan Laut Pada 2020