Kota Samarinda Banjir, 20 Ribu Jiwa Terdampak

"Jangan membangun hanya memasang slogan smart city, tapi nyatanya tidak ramah lingkungan,” kata salah satu warga.

BERITA , NUSANTARA

Selasa, 11 Jun 2019 12:20 WIB

Author

Adi Ahdiat

Kota Samarinda Banjir, 20 Ribu Jiwa Terdampak

Warga mendorong motornya yang mogok akibat melintasi area banjir di kawasan Simpang Lembuswana, Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (10/6/2019). (Foto: ANTARA/Kirana Larasati/jhw/hp)

KBR, Samarinda - Banjir yang melanda Kota Samarinda, Kalimantan Timur, belum kunjung surut sejak H-1 Lebaran hingga Selasa (11/6/2019).

Menurut laporan Sekretaris Kota Samarinda, Sugeng Chairuddin, area banjir terus meluas dari satu kecamatan menjadi tiga kecamatan.

"Dari tiga kecamatan yang terendam banjir yaitu Kecamatan Samarinda Utara, Kecamatan Samarinda Ulu, dan Kecamatan Sungai Pinang dengan jumlah warga terdampak mencapai 20 ribu jiwa," jelas Sugeng Chairuddin, Sekretaris Kota Samarinda, seperti dikutip dari Antara (11/6/2019).

Banjir menggenangi sejumlah kawasan perumahan serta jalan-jalan raya. Ketinggian airnya bervariasi mulai dari selutut hingga sebadan orang dewasa.


Banjir Lumpuhkan Aktivitas Warga

Luasnya area banjir membuat aktivitas warga Kota Samarinda lumpuh selama lima hari terakhir.

Warga yang terdampak kini dilaporkan butuh banyak bantuan mulai dari makanan, air bersih, pakaian, obat-obatan dan selimut.

Sebagian besar korban dilaporkan tidak punya peralatan dan fasilitas untuk memasak. Karena itu, pihak-pihak yang berencana memberi bantuan diharap bisa membawa makanan siap saji.

Korban dari kelompok perempuan dan anak-anak juga memerlukan bantuan khusus berupa pembalut dan popok.


Banjir Diduga Akibat Alih Fungsi Rawa

Genangan banjir di Samarinda dilaporkan berasal dari luapan Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus.

Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda, Misman, menilai luapan sungai terjadi akibat maraknya alih fungsi kawasan rawa menjadi perumahan.

Misman juga memandang, luapan sungai dipengaruhi karena daerah resapan air sudah banyak tertutup semen.

“Kalau sudah begini, lantas apa yang dilakukan? Samarinda ini masih bisa kok diselamatkan dari bencana banjir yang lebih besar lagi. Banyak cara yang bisa dilakukan, jangan membangun hanya memasang slogan smart city, tapi nyatanya tidak ramah lingkungan,” kata Misman.

Misman meminta pemerintah agar menyetop pemberian izin untuk alih fungsi kawasan rawa, sekaligus menjaga tumbuhan yang hidup di kawasan tepi sungai.

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Bagaimana Pengaturan Sistem Zonasi? Apa Manfaatnya?

Kabar Baru Jam 14

Zonasi PPDB Masih Jadi Keluhan

Kabar Baru Jam 13