Koopsusgab untuk Apa?

Penerbitan Perpres itu dimaksudkan memberi payung hukum pelibatan personil TNI dalam pemberantasan tindak pidana terorisme. Hingga kini belum jelas benar apa sebenarnya yang diatur di sana.

OPINI , EDITORIAL

Jumat, 21 Jun 2019 00:05 WIB

Author

KBR

Koopsusgab untuk Apa?

Ilustrasi: Tentara (Foto: Antara/M Risyal Hidayat)

Kementerian Pertahanan menyatakan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) tinggal menunggu diteken Presiden.  Sekretaris Jenderal Kemenhan menyebut aturan itu sudah diparaf para menteri terkait. Sayangnya dia enggan membabar isi dari aturan tersebut.

Pada setahun silam, saat revisi Undang-Undang Tindak Pidana Terorisme mencuat, wacana pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI)  dalam penindakan kasus terorisme. Penerbitan Perpres itu dimaksudkan  memberi  payung hukum pelibatan personil TNI dalam pemberantasan tindak pidana terorisme. Hingga kini belum jelas benar apa sebenarnya yang diatur di sana.

Dalam sejumlah kasus terorisme, kepolisian juga melibatkan personil TNI. Tak perlu menggunakan Perpres atau lainnya. Operasi Tinombala penangkapan kelompok teroris pimpinan Santoso misalnya. Berkali-kali operasi yang mulai digelar pada awal 2016 itu diperpanjang. Hingga kini Satgas Tinombala masih memburu sisa-sisa kelompok itu.

Jadi, tidak ada urgensi membentuk satu komando khusus untuk memberantas terorisme. Apalagi sudah ada badan khusus juga pasukan khusus di kepolisian yang terampil  menangani itu. Prestasi Densus 88 terhitung bagus dalam soal ini.

Lalu untuk apakah pemusatan Komando yang diisi pasukan elit dari tiga matra tersebut? Yang muncul kemudian adalah tudingan  pemborosan anggaran, pasukan yang menganggur,  dan mungkin gesekan antardua lembaga yang berebut memberantas terorisme.

Karena itu, pemerintah perlu segera membikin terang kepada publik isi Perpres tersebut. Tentu agar pemberantasan teroris bisa dilakukan dengan lebih mangkus dan sangkil. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

News Beat

Kabar Baru Jam 7