Bagikan:

Menatap Makassar Sebagai Kiblat Toleransi

Kota ini punya banyak modal historis sebagai kota pelabuhan dan perdagangan.

BERITA | AGAMA DAN MASYARAKAT | PILIHAN REDAKSI | NASIONAL

Jumat, 12 Jun 2015 13:59 WIB

Author

Rio Tuasikal

 Menatap Makassar Sebagai Kiblat Toleransi

Ilustrasi: Toleransi

KBR, Makassar pernah disebut bisa jadi kiblat toleransi Indonesia. Seberapa istimewa kota daeng ini hingga didaulat demikian? Muhaemin Latif dari UIN Makassar mengatakan kota ini punya banyak modal historis. Semua dimulai dengan posisi Makassar sebagai kota pelabuhan dan perdagangan.

"Raja-raja dulu sudah melakukan perdagangan tanpa pembedaan agama. Perdagangan semata ekonomi," jelasnya dalam perbincangan Agama dan Masyarakat KBR, di Universitas Islam Makassar, Rabu (10/6/2015) malam.

Nurtaufik Sanusi dari UIM mencatat hal senada. Letak geografis Makassar di titik silang jalur perdagangan membuat penduduknya lebih inklusif. "Makassar mirip Madinah, akulturasi banyak terjadi," jelasnya.

Namun situasi itu berubah ketika VOC masuk. "Saat itu, kegiatan ekonomi VOC mendiskreditkan agama tertentu," ungkap Muhaemin.
Dalam konteks saat ini, Makassar meneguhkan dirinya jadi kota untuk semua golongan. Tidak tercatat konflik atas nama agama pecah di wilayah ini. Makassar pada 2013 jadi tempat Global Peace Festival yang dihadiri perwakilan 100 lebih negara.

Bahkan, Jusuf Kalla yang jadi mediator banyak konflik adalah putera asli daerah ini.

Namun bukan berarti Makassar toleran 100 persen.
Seorang Anggota GMKI Makassar curhat dalam kesempatan itu. Dia yang asli NTT merasa didiskreditkan dalam hal suku dan budaya. "Kalau melewati lorong di Makassar, ada kata-kata tidak menyenangkan," jelasnya.

Kata Muhaemin, "kasus-kasus itu tidak bisa digeneralisasi---meski memang tidak bisa dinegasikan."

Masa depan Makassar toleran berada di pundak generasi muda.

"Bukan hanya pada tatanan elit seperti kyai dan dosen," pungkas Muhaemin.

Untuk itu, tambah Muhaemin, pemuda harus mencari kesamaan-kesamaan di antara mereka. "Bukan malah membuat dikotomi antar mereka sendiri," jelas Muhaemin lagi.

Nurtaufik menambahkan, "Berpeganglah pada persamaan-persamaan itu."

Dengan sikap sederhana itu, Muhaemin dan Nurtaufik setuju, Makassar bisa mendaulat dirinya jadi kiblat tren toleransi Indonesia. Kalau Makassar jadi kiblatnya, sudah pasti pemuda di Makassar lah yang jadi trendsetter-nya.  

Editor: Malika

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Genjot Investasi untuk Ancaman Resesi

Most Popular / Trending