Pentingnya Underwear Rule bagi Anak

Pendidikan seks bukan hanya soal hubungan seksual, tapi juga soal perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan.

BERITA

Jumat, 13 Jun 2014 16:49 WIB

Author

Perspektif Baru

Pentingnya Underwear Rule bagi Anak

Perspektif Baru, pendidikan seks untuk anak

Kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak kembali mencuat. Hal ini patut diwasapai oleh 

semua pihak, tidak hanya orang tua termasuk juga pihak sekolah. Menurut psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, salah satu pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan seksual pada anak di sekolah. Pendidikan seksual bukan dalam artian memberikan informasi tentang hubungan seksual, tetapi pelajaran mengenai tubuh dan perbedaan antara lelaki dan perempuan. 


Lantas seperti apa pendidikan seksual yang mesti disiapkan untuk anak? Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Ratih Zulhaqqi. 


Dalam dua bulan terakhir banyak sekali pemberitaan di media massa mengenai tindakan kekerasan seksual terhadap anak. Bagaimana pandangan Anda terhadap kasus-kasus ini? 


“Sebenarnya hal ini membuat saya miris karena yang membuat ironis adalah kadang-kadang pelakunya itu orang terdekat. Jadi kalau pandangan dari sisi psikologi, kami melihatnya mungkin orang tua selama ini “belum sadar” bahwa pendidikan seksual mulai usia dini itu penting sekali untuk mencegah hal ini. Kadang-kadang anak yang mengalami pelecehan atau kekerasan seksual adalah anak-anak yang belum tahu itu adalah hal-hal yang membahayakan.”


Jadi, apa saja tindakan yang dikategorikan sebagai pelecehan atau tindak kekerasan seksual terhadap anak?


“Pengertian singkat mengenai pelecehan atau tindak kekerasan seksual adalah tindakan atau aktivitas yang dilakukan terhadap korban, baik anak-anak maupun orang dewasa, yang menimbulkan ketidaknyamanan dan pelanggaran hak. Pelecehan itu ada bagian-bagiannya. Misalnya, jenis bentuk tindakan seksualnya yaitu dari mulai meraba. Lalu ada yang dinamakan petting, yaitu menggesekan alat kelamin, atau meraba-raba bagian yang menimbulkan rangsangan secara seksualitas.” 


Apa dampaknya terhadap anak yang mendapatkan perlakuan tindakan seksual tersebut? 


“Dampaknya banyak dan luas, yang paling sering muncul adalah perubahan perilaku. Misalnya, semula ceria menjadi murung. Bagi mereka yang mengalami kekerasan secara fisik, pastinya akan mengalami kesakitan, seperti luka atau iritasi di alat kelamin. Bahkan ada yang menjadi sangat ketakutan karena takut dianggap sebagai orang yang salah. Kadang-kadang anak yang menjadi korban malah takut dimarahi oleh orang tuanya, sehingga mereka cenderung menarik diri, dan tidak mau berteman. Mereka lebih sering melakukan kegiatan secara sendiri, walaupun ada beberapa anak yang tetap bisa beraktivitas seperti biasa.” 


Lalu, bagaimana dengan ciri-ciri pelaku yang melakukan tindakan kekerasan seksual atau paedofil?


“Ciri-ciri secara spesifik mungkin tidak ada, dalam artian kita tidak bisa melihat bahwa orang yang berkaraterisitik tertentu adalah paedofil atau pelaku kekerasan seksual. Tapi kalau ciri-ciri secara perilaku, biasanya orang-orang yang cenderung atau masuk dalam katagori paedofil adalah mereka yang lebih charming di lingkungannya, mudah merayu anak, atau bahkan yang sering menjadi idola anak-anak. Mereka mengetahui bagaimana cara mengambil hati anak-anak.” 


“Misalnya, dengan memberikan permen, menyapa, atau pada awalnya memberikan perlindungan. Biasanya seorang paedofil ketika bertemu anak kecil tidak serta merta langsung menyerang. Ada pendekatan dulu, lalu ada pembentukan kepercayaan (trust) dari anak ke orang dewasa tadi, sehingga anak sudah merasa nyaman. Saat rasa nyaman sudah terbentuk, maka dengan mudah kegiatan atau aktivitas seksual itu dilakukan.” 


Kasus kekerasaan seksual kepada anak banyak terjadi di lingkungan sekolah. Apakah pendidikan seks perlu diajarkan di sekolah?


“Sejauh ini yang saya tahu beberapa sekolah di Jakarta, pendidikan seksual sudah diajarkan. Kalau saya tidak salah dimulai di kelas 3. Hal ini saya ketahui karena saya pernah berkunjung ke satu sekolah yang mempunyai pendidikan seksual untuk murid-muridnya. Misalnya, mereka  memanggil semacam lembaga yang bisa mengedukasi dan memberikan informasi yang benar tentang apa saja anggota tubuh yang boleh disentuh dan tidak disentuh. Kita dapat mengatakan itu pendidikan seksual.” 


“Kalau kita bicara soal penting atau tidak penting, tentu penting sekali hal itu dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Ini adalah bagian dari informasi yang sangat penting untuk anak.  Jangan sampai anak mendapatkan informasi seperti itu dari sumber yang tidak akurat, atau yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.” 


Sekolah yang sudah mengajarkan pendidikan seks kepada muridnya, apa nama mata pelajarannya?


“Biasanya khusus. Ada yang memang masuk ke dalam pelajaran biologi ketika kita bicara soal reproduksi, tetapi memang ada yang memiliki mata pelajaran khusus yang namanya pendidikan karakter. Di setiap sekolah itu beda-beda nama mata pelajarannya, tapi tujuannya adalah untuk mengetahui tentang diri mereka termasuk tentang pendidikan seksual.”


Apakah anak sekolah dasar (SD) yang duduk di kelas tiga sudah bisa memahami mengenai pendidikan seks yang diajarkan?


“Pendidikan seksual bukan pendidikan tentang hubungan seksual. Jadi anak usia dini pun perlu untuk diberikan pendidikan seksual, bahkan di pra-sekolah pun sudah harus diberikan. Misalnya, belajar tentang anggota tubuh, atau misalnya tahu perbedaan anak laki-laki dan anak perempuan. Pengetahun ini bisa dimulai sedini mungkin. Kalau pendidikan di sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) pasti berbeda.” 


Jadi pendidikan seks itu bukan semata-mata mengenai pelajaran tentang hubungan seks, tetapi lebih jauh lagi mengenai diri kita. Apa yang harus dilakukan jika di sekolah belum ada pendidikan seksual? 


“Yang harus mereka lakukan adalah membaca berbagai informasi. Tentunya ada beberapa lembaga yang mengeluarkan buku-buku tentang pendidikan seksual, atau bisa mencari di internet. Sebenarnya informasi tentang pendidikan seksual itu banyak. Ada yang namanya under wear rules, yang harus diketahui oleh guru dan orang tua. Under wear rules adalah seperangkat informasi yang berisi misalnya tentang bad touch, good touch, yaitu bagaimana bentuk sentuhan yang buruk dan baik. Lalu juga kalimat rahasia, biasanya para pelaku kekerasan seksual mengatakan, “Jangan bilang siapa-siapa ya. Nanti kalau  bilang siapa-siapa dimarahi Polisi.” Anak harus mengetahui seperti apa rahasia yang baik dan  buruk itu.”


“Dalam under wear rules tersebut ada beberapa poin-poin penting yang perlu diketahui oleh guru maupun orang tua, termasuk informasi tentang anggota tubuh. Your body is your own, tubuhmu adalah milikmu, tidak ada yang boleh sentuh kecuali orang tua, dan dokter di hadapan orang tua.” 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Travel Advisory Amerika Jadi Refleksi?

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11