Mayoritas LGBT Dukung Jokowi - JK

KBR, Jakarta - Kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) kemungkinan besar akan mendukung pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam pilpres 9 Juli mendatang

BERITA

Sabtu, 21 Jun 2014 20:21 WIB

Author

Guruh Dwi Riyanto

Mayoritas LGBT Dukung Jokowi - JK

Jokowi, LGBT, Waria, Pelangi, Pilpres

KBR, Jakarta - Kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) kemungkinan besar akan mendukung pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam pilpres 9 Juli mendatang. Sekretaris Jenderal LSM pemerhati LGBT Arus Pelangi, Widodo Budidarmo beralasan, dukungan itu diberikan terkait rekam jejak capres no 2 tersebut, terhadap kelompok LGBT, terutama bagi waria. Semisal, adanya kucuran anggaran dan program kesehatan bagi kelompok tersebut ketika Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta.

"Kalau di Jokowi untuk tahun kemaren paling tidak ada sedikit anggaran yang dikeluarkan untuk LGBT, khususnya waria, melalui Satpol PP yang mengurangi represif dan mau ketemu. Dari dulu kita mau ketemu sama Satpol PP juga susah," jelas Widodo Budidarmo kepada KBR (21/06). 

Menurut dia, Jokowi bahkan mendukung acara pertemuan kelompok LGBT di Jakarta pada 3 Desember 2013 lalu. Acara yang mempertemukan wakil kelompok LGBT di seluruh Indonesia terselenggara dengan dana yang disediakan Satpol PP Pemprov DKI Jakarta. "Waktu itu ada anggaran tapi diserang FPI juga. Tapi Jokowi tidak mengeluarkan statement juga atas yang terjadi pada 3 Desember 2013," kata Sekretaris Jenderal LSM pemerhati LGBT Arus Pelangi, Widodo Budidarmo di gedung Komisi Pemilihan Umum, Sabtu (21/06).

Sementara untuk pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta, Sekretaris Jenderal LSM pemerhati LGBT Arus Pelangi, Widodo Budidarmo menilai, pasangan tersebut cenderung tak menghiraukan LGBT. Hal itu terlihat dari visi misi yang diserahkan ke KPU. Selain itu, Prabowo tak memiliki rekam jejak mendukung LGBT. Sedang wakilnya, Hatta Rajasa malahan memiliki rekam jejak mendiskriminasi waria. Ini terjadi ketika Hatta menjadi ketua Fraksi Partai Amanat Nasional di DPR. Fraksi itu terang-terangan menjegal calon anggota Komnas HAM Mami Yuli karena ia seorang waria.

Editor: Irvan Imamsyah

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rencana Pembentukan Komponen Cadangan Militer Tuai Polemik