IAGI Soal Potensi Defisit Gas: Jenis Produksi Harus Sesuai Kebutuhan

Kebutuhan masyarakat adalah sebuah energi siap saji, bentuknya adalah listrik, gas, dan BBM. Tetapi yang kita produksikan itu ada batubara, crude, dan gas.

BERITA

Jumat, 27 Jun 2014 17:26 WIB

Author

Vitri Angreni

IAGI Soal Potensi Defisit Gas: Jenis Produksi Harus Sesuai Kebutuhan

gas, defisit, neraca, IAGI

KBR, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menyusun neraca gas nasional untuk mengatasi defisit gas pada 2028 nanti. Neraca gas tersebut nantinya akan digunakan sebagai panduan produksi pemenuhan gas nasional.

Dalam perbincangan dalam Program Sarapan Pagi KBR (27/6), Rovicky Dwi Putrohari, Presiden Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), mengatakan krisis ini terjadi karena kebutuhan masyarakat berbeda dengan produksi.

Simak wawancaranya lengkapnya berikut ini. 

Bicara tentang gas di Indonesia kebutuhan atau konsumsi terus meningkat dan potensi atau cadangan juga begitu besar tapi krisis. Kenapa?

“Kita selalu berbicara tentang produksi dan konsumsi tetapi lupa ketika diplot sebagai sebuah neraca. Jadi dalam arti neraca itu berarti berapa yang kita produksi dan berapa yang kita butuhkan. Saat ini kita produksi sekitar 3 TCF per tahun tapi kebutuhannya hampir sama. Artinya kita di satu sisi memproduksi tapi kita juga mengekspor, dan hanya punya selisih sedikit yang bisa kita ekspor untuk saat ini. Kemudian krisis terjadi karena distribusi. Distribusi itu tidak merata di seluruh Indonesia baik distribusi kebutuhan maupun distribusi produksi. Sehingga terasa ada beberapa tempat yang krisis, ada beberapa tempat yang surplus secara neraca Indonesia kita ekspor. Jadi secara keseluruhan Indonesia ini masih ekspor.”

Apakah Anda juga bilang perencanaan kebutuhan energi ini tidak tertata bagus?

“Sebenarnya yang tidak siap itu kalau saya lihat dalam hal ini yang dibutuhkan masyarakat adalah gas dan listrik. Kebutuhan masyarakat adalah sebuah energi siap saji, bentuknya adalah listrik, gas, dan BBM. Tetapi yang kita produksikan itu ada batubara, crude, dan gas. Di sinilah kita harus bermainnya. Kalau kita berpikir tentang pemanfaatan energi ya kita harus siap yang dibutuhkan masyarakat itu yang mana. Masyarakat tidak butuh batubara tapi yang dibutuhkan adalah listrik. Sayangnya daya serap batubara di Indonesia masih rendah, demikian juga untuk gas. Karena lebih banyak listrik kita itu dihasilkan dari solar. Jadi sebenarnya penataannya saja yang tidak tepat jadi secara neraca menjadikan seolah-olah kekurangan di sana kelebihan di sini dan sebagainya.”

Kalau bicara masalah distribusi, masalah utamanya dimana?

“Kalau masalah utama distribusi itu ada dua hal. Satu suplai. Suplai itu kalau misalnya gas itu alami artinya gas itu ada di Sumatera dan sekitar Jawa tetapi yang dibutuhkan mungkin kebanyakan di Jawa misalnya. Tetapi kalau untuk batubara adanya di Kalimantan tidak ada di Jawa, sehingga itu merupakan supply and demand yang natural sedangkan demand itu sendiri ada di manusianya. Penataannya yang kurang tepat misalnya untuk yang di Jawa ini sebenarnya paling bagus listrik dengan geothermal, bukan dengan batubara atau solar. Sedangkan di Sumatera mungkin akan bagus dengan gas karena di Sumatera banyak gas. Pemanfaatan hal seperti itu belum. Kalau saya bilang seharusnya kita itu menggunakan energy source policy, sumbernya dimana ya itu dipakai.”

Kalau penataan antara demand ekspor terus memperhatikan kebutuhan dalam negeri. Masih ada waktu untuk ditata mengingat kontrak ekspor panjang usianya?

“Betul. Ini yang kita harus mulai bermainnya dalam bentuk scheduling. Hal-hal ini yang menurut saya scheduling seperti ini kurang diperhatikan karena scheduling dari eksplorasi sendiri mulai dari sejak eksplorasi sampai ketemu barangkali memerlukan waktu 10-15 tahun itu cukup lama. Kemudian dari mulai ketemu sampai memproduksikan kalau kita lihat sekarang ini bisa 8-12 tahun. Artinya kalau dari eksplorasi sampai produksi itu perlu waktu belasan tahun, sedangkan kalau untuk ekspor itu kebutuhannya saat ini di luar sudah ada sedangkan daya serapnya di Indonesia belum siap.”

Karena memang tidak punya posisi tawar ya?

“Satu bukan hanya posisi tawar tapi karena masalah kesiapan infrastruktur juga. Jadi infrastruktur untuk gas itu ada dua yaitu satu pipa dan yang kedua distribusi untuk pemanfaatan. Katakanlah gas untuk pemanfaatan rumah tangga itu menurut saya potensinya masih besar sekali yang belum dioptimalisasi.”

Soal daya serap yang masih rendah itu dimana intinya?

“Intinya kalau menurut saya dari sisi infrastruktur untuk pemanfaatan ke masyarakat. Sampai sekarang distribusi boleh dibilang masih menggunakan tabung gas, kita belum memanfaatkan pipa untuk distribusi. Ada beberapa tempat yang dikelola oleh PGN tapi sementara ini masih banyak yang bisa dimanfaatkan. Misalnya yang namanya pertumbuhan perumahan atau komplek perumahan itu besar sekali, itu kalau bisa dikombinasikan dengan kebutuhan gas pipa yang di daerah itu saya yakin bisa dimanfaatkan. Jadi hal-hal yang berhubungan dengan direct use istilahnya jadi benar-benar dipakai rumah tangga itu yang menurut saya masih sangat lemah.”

Lemahnya karena teknologi yang mahal atau cara berpikir pemerintah?

“Cara berpikir pemerintah saya melihatnya masih dalam neraca seluruh Indonesia dengan kebutuhan ekspor impor. Jadi masih melihat bahwa gas itu sebagai sebuah komoditas, bukan sebuah energi. Jadi hitung-hitungannya menjadi untung rugi, padahal bukan harus untung rugi bahwa ini adalah energi untuk kebutuhan sendiri. Hal yang sangat mudah saya contohkan untuk gas itu kalau dipakai di dalam negeri multiplier effect-nya dalam 5 tahun itu 25 dolar. Sedangkan kalau dijual di dalam negeri hanya sekitar 7 dolar, kemudian kalau seperti ekspor itu bisa sampai 15 dolar, kalau direct use orang pasti lihat mending jual ke luar 15 dolar dapat. Itu kalau berpikir sebagai komoditas bahan, tapi kalau energi harusnya 7 dolar pun saya jual di dalam negeri tidak apa-apa karena multiplier effect-nya 25 dolar artinya untungnya 7 dolar ditambah 25 dolar artinya kita sebenarnya untung 32 dolar. Seperti itu tidak kepikiran, pendek pikirannya.”

Kalau begitu dari urusan gas ini apa yang masih bisa diharapkan oleh warga?

“Kalau menurut saya yang paling bagus disiapkan infrastruktur untuk pemanfaatan dalam negeri. Dua hal tadi yaitu pipeline untuk transmisi dan pipa untuk distribusi.”

Itu sudah dibicarakan sejak zaman Gus Dur sampai SBY tidak kelar-kelar, kalau bacaan Anda bagaimana?

“Kalau saya melihatnya masalah yang paling mahal di Indonesia yaitu koordinasi. Jadi misalnya antara kementerian untuk urusan perumahan dengan kementerian urusan energi, dua hal itu sebenarnya bisa dimanfaatkan bareng. Dimana yang membutuhkan gas saat ini untuk misalnya real estate yang berkembang, katakanlah sekarang ini diwajibkan setiap ada gedung besar apartemen menggunakan gas itu saya yakin daya serapnya tinggi sekali.”

Mungkin untuk industri dan perumahan perlu SPBU khusus ya jadi tinggal bayar ke PGN atau Pertamina. Anda dan teman-teman pakar geologi juga para pelaku industri ini bagaimana perbincangannya?

“Kalau saya sendiri kebetulan geologinya di upstream dari sisi penyediaan bukan dari sisi downstream.”

Dari apa yang terjadi seperti itu potensi kerugian negara karena cara berpikirnya seperti itu seberapa besar?

“Potensinya kalau saya melihat dalam 5 tahun multiplier effect value itu bisa 25 dolar sedangkan kalau kita jual ke luar hanya 17 dolar itu berarti lost-nya sekitar 8 dolar. Kapasitas produksi kita sebenarnya 3 TCF jadi kalau saya lihat produksi sekarang mungkin sekitar 800 MMCF untuk pupuk, kemudian untuk kebutuhan listrik ini 370 MMCF jadi sekitar 1200 MMCF. Kebutuhan gas tidak hanya untuk energi ya itu untuk kebutuhan bahan baku pupuk dan petrokimia. Kemudian yang untuk energi sendiri sekitar 1,8 TCF jadi sekitar 3 TCF sekarang yang kita butuhkan. Kalau kita lihat selisih antara ekspor impor itu selisihnya sedikit hanya mungkin 0,1 TCF saja per tahun yang kita ekspor.”

(Baca juga: Infrastruktur Jadi Kendala Produksi Gas Nasional)
 




Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17