Galau Jauh dari Gadget? Awas Kena Nomophobia

Perlu aturan main kapan boleh dan tidak boleh pegang gadget. Demi kesehatan jiwa Anda.

BERITA

Minggu, 15 Jun 2014 01:11 WIB

Author

Guruh Dwi Riyanto

Galau Jauh dari Gadget? Awas Kena Nomophobia

Gadget, kecanduan gadget

KBR, Jakarta- “Kalau makan bersama, kita tumpuk gadget. Siapa yang ambil duluan, dia yang bayarin makan,” cerita Muty di program Klinik KBR. Ini adalah kesepakatan yang dibuat Muty dan teman-temannya setiap kali mereka berkumpul untuk makan bersama. Begitu gadget ditumpuk, di saat itulah mereka bisa menikmati waktu dan kebersamaan, tanpa diganggu atau teralihkan perhatiannya ke gadget. 


Kebiasaan untuk selalu memantau gadget ini rentang mengakibatkan rasa takut yang berlebihan akibat kehilangan karena berjauhan dengan ponsel. Ini yang disebut gejala nomophobia. Sebuah studi yang dilakukan oleh SecurEnvoy, perusahaan yang berkaitan dalam teknologi ponsel, menunjukkan 53 persen pengguna ponsel mengaku tak berdaya tanpa ponsel. 


Kecanduan gadget 


Ada sejumlah ciri-ciri seseorang mulai terkena nomophobia, kata psikolog Mina Amir. Pertama, kecanduan gadget membuat orang salah tingkah ketika ia berada dalam situasi tidak bisa memeriksa gadget, seperti di situasi formal. Kedua, korban kecanduan menghindari keadaan yang memungkinkan ia tidak dapat memegang gadget. “Kalau di tempat baru, cari, colokan ada di mana ya. Malah, ada yang sampai menghindar pergi ke tempat baru karena khawatir di sana ada colokan atau tidak,” kata dia merujuk pada masa-masa sebelum marak power bank. 


Ketiga, orang rela bersusah payah untuk mendapatkan gadget. “Dia sudah nyetir sekian jauh dan pulang lagi demi mengambil ponsel yang ketinggalan,” tutur Mina.


Siapa saja yang rentan terhadap kecanduan gadget? Psikolog Mina Amir mengatakan setidaknya ada dua golongan kelompok itu yaitu mereka yang tidak bisa mengendalikan waktu dan diri dari gadget, juga orang yang setiap hari bekerja dengan menggunakan ponsel. 


Untuk kelompok pertama, jelas Mina, kebanyakan adalah anak muda atau ABG. Sementara di kelompok kedua di antaranya adalah pialang saham atau jurnalis. Muty yang juga bekerja sebagai jurnalis mengaku sebagai bagian dari kelompok yang kedua. “Saya agak cemas kalau tak pegang gadget, takut ketinggalan berita!”


Kecanduan gadget punya pengaruh baik, sekaligus yang buruk. “Gagdet menjadi bahan perbincangan dan bersosialisasi,” kata psikolog Mina Amir. Ia mencontohkan remaja yang memperbincangan isu yang tengah ramai di media sosial atau anak-anak yang memperbincangkan game yang sama-sama mereka mainkan. Namun, ia mengingatkan, kecanduan gadget juga berdampak buruk. Di antaranya adalah gangguan pola makan dan belajar bagi anak. Bagi remaja, itu bisa mengganggu pola tidur. 


Kecanduan gadget juga dinilai mengganggu hubungan sosial. Muty bercerita, beberapa hari sebelumnya ia menyaksikan pasangan yang pergi ke tempat makan bersama. Namun bukannya berbincang atau menikmati makanan, melainkan asik dengan gadget sendiri-sendiri. Ketika berkumpul, memegang gadget dan asik sendiri juga dinilai menyinggung lawan bicara. “Lawan bicara berharap orang saling menghargai. Ketika orang bicara, diharapkan lawannya menyimak dan tidak buka gadget,” kata psikolog Mina Amir. 


Mengobati kecanduan gadget


Muty mengaku mulai mengurangi kebiasaan untuk terus di depan gadget setelah kerap diminta untuk liputan di luar daerah. 


“Kadang ke tempat-tempat yang tidak ada sinyalnya, di saat seperti itu, jadinya bisa lebih beradapatasi,” ceritanya. Namun, begitu ia mendapatkan sinyal, gadget kembali erat di tangan. “Kalau ada sinyal langsung cek,” katanya sambil tertawa. 


Kecenderungan untuk mulai menyadari agar mengambil jarak dari gadget kian muncul di masyarakat modern. Psikolog Mina Amir mengaku pernah membaca tentang sebuah restoran yang sengaja tidak memasang wi fi. Tempat makan itu memberi pengumuman bahwa mereka memang sengaja tidak memasang akses internet gratis itu agar pelanggan bisa menikmati makan dan berbincang bersama. 


Mina menambahkan, membuat aturan main atau komitmen dengan diri sendiri juga menjadi solusi. Ia mencontohkan, orang bisa berkomitmen tiga jam tanpa gadget dan tidur tanpa menyalakan gadget. Untuk anak-anak, Mina menyaranak agar orang tua menekankan aturan penggunaan gadget. “Jangan berikan gadget pada anak, pinjamkan saja,” katanya. Dengan kesadaran bahwa gadget adalah pinjaman, anak akan khawatir gadget bisa diambil kembali jika tidak digunakan dengan semestinya. 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18