Pengungsi Syiah di Sampang Ingin Pulang ke Kampung Halaman

KBR68H, Jakarta - Kemarin sore sekitar 200 pengungsi Syiah yang mendiami GOR Tenis Indoor Sampang akhirnya bersedia direlokasi ke Rusunawa di Argopuspo, Sidoarjo.

BERITA

Jumat, 21 Jun 2013 14:00 WIB

Author

Doddy Rosadi

Pengungsi Syiah di Sampang Ingin Pulang ke Kampung Halaman

pengungsi syiah, sampang, relokasi, pulang ke kampung halaman

KBR68H, Jakarta - Kemarin sore sekitar 200 pengungsi Syiah yang mendiami GOR Tenis Indoor Sampang akhirnya bersedia direlokasi ke Rusunawa di Argopuspo, Sidoarjo. Mereka direlokasi setelah mendapat ancaman massa yang hendak membakar gedung olahraga tersebut. Sebenarnya ratusan penganut Syiah itu menolak direlokasi.  Mereka akhirnya bersedia direlokasi meski atas dasar terpaksa. Bagaimana kondisi para pengungsi Syiah tersebut saat ini? Simak perbincangan penyiar KBR68H Agus Luqman dan Arin Swandari dengan Aktivis Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia (YLBHU) Pembela Pengungsi ,Agus Setiawan dalam program Sarapan Pagi.

Tepatnya relokasi dimana?

Posisinya di rumah susun Puspa Agro di Sidoarjo.

Ini milik pemerintah Sidoarjo?

Kebetulan saya kurang jelas tapi yang pasti itu milik pemerintah.

Bagaimana kondisi teman-teman Syiah saat ini?

Teman-teman Syiah relatif sudah baik daripada tadi malam yang sangat syok. Kebetulan kemarin kita langsung bagi-bagi kamar rumah susun itu.

Kalau anda membandingkan kondisi tempat lama dengan tempat baru bagaimana?

Jika kita bicara kenyamanan pasti akan lebih nyaman di tempat baru. Tapi masalahnya teman-teman ingin pulang kampung yang sebenarnya warga kampung sendiri awam, tetangga sangat welcome. Karena hubungan antara tetangga yang ada di Karanggayam dengan teman-teman di GOR itu saling kunjung mengunjungi biasa, teman-teman di GOR menginap di kampung halamannya tiga hari seminggu itu biasa, tidak ada masalah. Perlu diketahui kemarin waktu terjadi pengusiran ada lima orang dari GOR yang saat ini ada di TKP, lagi ada pembantu saudaranya yang hajatan. Jadi penggusuran kemarin minus lima orang yang tidak tahu apa yang terjadi di GOR.

Sampai kapan di sana?

Jadi kemarin kita ketemu Pak Edi Pur, perwakilan pemprov. Kemudian teman-teman pengungsi menyampaikan keinginannya ingin pulang, kapan dibangun, kapan diganti, dan kami juga menekankan mekanisme rekonsiliasinya bagaimana. Pak Edi Pur secara tegas mengatakan bahwa konteks dia berada di sini adalah mengurus kedatangan pengungsi dari GOR, hal yang harus dilakukan pertama adalah menyediakan tempat, menyediakan pelayanan, selanjutnya tugasnya hanya itu. Artinya untuk urusan rehabilitasi, rekonstruksi itu bukan tugas pemprov. Pemprov tidak berani mengatakan berapa lama, artinya sama dengan GOR bisa sembilan bulan, dua tahun, lima tahun. Kemudian saya sampaikan jangan-jangan ini setelah dua tahun kemudian ditarik ke Jakarta karena dianggap pemprov tidak mampu melakukan upaya rekonsiliasi. Jadi seakan-akan pemprov ini sekadar menerima limpahan karena kegentingan kemarin dari Sampang.

Apa lagi yang akan dilakukan teman-teman untuk mengupayakan rekonsiliasi?

Ini semakin sulit karena jarak sudah sangat jauh. Kalau dulu dari GOR ke TKP 20 kilometer sekarang jaraknya sudah 100 kilometer. Kita bingung juga tapi secara teknis kita akan bertarung di Jakarta untuk memastikan rekonsiliasi, penegakan hukum ini harus dilaksanakan pemerintah pusat.

Bertarung di Jakarta maksudnya apa?

Kita mendesak pemerintah pusat untuk melakukan itu.
 
Soal pemaksaan kemarin, apakah selama perjalanan ada trauma atau kekagetan yang cukup mengguncang para pengungsi?

Kita para pendamping tidak diizinkan masuk dari awal. Jadi saya datang jam 7 malam hari Rabu, kita sudah tidak bisa berkomunikasi dalam artian masuk ke GOR, bisanya ketemu satu orang itupun harus ke Polres Sampang. Saya ketemu ke Wakapolres katanya demi keamanan, demi sterilisasi karena tidak mau tiba-tiba ada senjata tajam dan sebagainya di GOR. Saya bilang kalau saya datang tanpa bawa tas, anda geledah atau ada yang mengikuti saya bagaimana katanya tidak bisa apakah anda bertanggung jawab kalau ada sesuatu dalam GOR. Saya bilang bagaimana saya bertanggung jawab bisa saja ada orang yang memasukkan. Pokoknya tidak boleh siapapun masuk, kalau mau ketemu panggil orang itu ajak ngobrol di halaman. Artinya kita tidak bisa mendampingi dalam perjalanan situasinya, tapi yang kita dengar dari beberapa pengungsi di GOR bahwa syok itu sudah terjadi sejak tadi malam ketika teman-teman pendamping tidak boleh masuk. Pagi hari mereka tidak makan karena memang tidak boleh keluar dari GOR.

Anak-anak bagaimana?

Ketika kemarin tiba di rusun ya nangis semua.

Berapa anak-anak yang ada di GOR?

Sekitar 35 itu 12 tahun ke bawah.
              

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Foto Ikatan Besar Mahasiswa UI Tidak Akui Jokowi - Ma'ruf Hoaks

Jokowi Didesak Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM di Periode Kedua

Kanker Payudara dan Tubuh Perempuan

Kabar Baru Jam 15