covid-19

Pemred Bukan Segalanya, Independensi Newsroom Jauh Lebih Penting

KBR68H

BERITA

Kamis, 20 Jun 2013 15:15 WIB

Author

Doddy Rosadi

Pemred Bukan Segalanya, Independensi Newsroom Jauh Lebih Penting

forum pemred, wahyu muryadi, heru hendratmoko, independensi newsroom

KBR68H – Pemimpin Redaksi TEMPO Wahyu Muryadi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Forum Pemimpin Redaksi. Forum ini sempat membuat heboh ketika mengelar pertemuan Pemred dari seluruh Indonesia di Bali, akhir pekan lalu. Independensi para pemimpin redaksi dipertanyakan karena adanya sponsor dari sejumlah pengusaha untuk perhelatan acara itu. Pacsa mundurnya Wahyu Muryadi, masih perlukan keberadaan Forum Pemred? Simak perbincangan penyiar KBR68H Agus Luqman dan Arin Swandari dengan Pemimpin Redaksi KBR68H Heru Hendratmoko yang ikut hadir dalam pertemuan I Bali. Perbincangan dilakukan dalam program Sarapan Pagi

Ada tanggapan mundurnya Wahyu Muryadi dari Forum Pemred?

Pertama saya harus mengapresiasi dan saya mendengar ada mekanisme verifikasi di internal Tempo. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya dalam struktur redaksi itu pemred bukan segalanya, kemandiran atau independensi newsroom jauh lebih penting dan Tempo sudah membuktikan itu. Saya kira patut dicontoh oleh media-media lain.

Lalu Forum Pemred yang masih terbentuk itu menurut anda seharusnya bubar atau bagaimana?

Semalam ada diskusi di kalangan teman-teman AJI, saya bilang ini sangat bagus kalau Wahyu Muryadi sebelum menyatakan keluar di depan para pengurus Forum Pemred sekaligus menyatakan pembubaran Forum Pemred. Karena menurut saya satu-satunya yang ada Forum Pemred di dunia ini cuma di Indonesia. Kedua saya kira penting bahwa pemred bukan entitas tunggal, sama dengan wartawan ada wartawan baik, ada wartawan kurang baik, ada wartawan tidak baik. Jadi saya kira banyak mudharatnya, banyak negatifnya.
 
Anda mengkhawatirkan Forum Pemred nanti ditunggangi?

Akan jadi alat. Saya khawatir betul kalau ini dilembagakan akan jadi alat, alat kepentingan yang ada didalamnya. Itu masalahnya karena kita tidak bisa menjamin di dalam Forum Pemred tidak ada pemain-pemain yang nakal, memanfaatkan nama lembaga ini untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.
 
Kalau mau dikaitkan dengan pemilu 2014 ada Surya Paloh yang calon presiden, ada Oesman Sapta juga mau jadi calon presiden. Ini mau dimainkan seperti apa kira-kira?


Saya juga tidak tahu kalau soal itu karena tidak tahu agendanya. Saya datang ke Bali sebenarnya semata-mata karena menghormati Wahyu, kalau yang lain mengundang saya mungkin tidak datang.

Ada butir-butir yang disepakati, menurut anda apakah ada yang aneh di dalam butir-butir kesepakatan tersebut?

Pertama yang disebut kesepakatan itu tidak ada. Saya tidak pernah menerima sebelumnya atau diajak bicara tentang sembilan butir kesepakatan itu. Kalau melihat isinya itu tidak pernah menyentuh problem aktual dari media di Indonesia, termasuk para jurnalisnya. Saya kira kritik dari teman-teman AJI Jakarta itu betul fokus kesana, karena sebagai pemred berkepentingan dengan isu-isu seperti itu. Bayangan saya ada pembahasan di antara para pemred yang datang ke sana membicarakan apa masalah kita, tidak ada tahu-tahu muncul butir-butir kesepakatan itu yang entah siapa yang mengonsep, artinya itu disiapkan lebih dulu.

Kalau kemudian Forum Pemred ini dibubarkan saja, mungkinkah dibentuk lagi forum semacamnya?

Sebelumnya sudah ada Editors Club tapi juga ada kritik karena elitis dan ada rumor dimainkan juga. Makanya dibentuk Forum Pemred yang sayangnya jatuh pada lubang yang sama. Kalau sekadar forum ya itu cair tidak perlu dilembagakan, apalagi dilegalkan.     




Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona