Jazz Di Antara Tiga Gunung

Tak harus terpaku pada satu pola dalam partitur, jazz selalu bisa meliuk luwes. Dan lincah, seperti kanak-kanak yang tengah bermain di lapangan luas, bebas merdeka. Saling melengkapi. Kadang mungkin terjerembab. Tak apa. Karena pada akhirnya intuisi musik

BERITA

Rabu, 26 Jun 2013 19:47 WIB

Author

Heru Hendratmoko

Jazz Di Antara Tiga Gunung

Jazz Gunung Bromo, Probolinggo, Butet Kertaredjasa, Balawan, Alit dan Gudil

KBR68H, Probolinggo - Jazz itu bebas. Jazz itu merdeka. Seperti kehidupan, jazz juga penuh improvisasi. Tak harus terpaku pada satu pola dalam partitur, jazz selalu bisa meliuk luwes. Dan lincah, seperti kanak-kanak yang tengah bermain di lapangan luas, bebas merdeka. Saling melengkapi. Kadang mungkin terjerembab. Tak apa. Karena pada akhirnya intuisi musikal yang berbicara, dan kesetiaan telinga untuk mendengar nada dan bunyi yang keluar dari beragam instrumen.


Keluar Sekat


Di kawasan Gunung Bromo, tepatnya di sebuah ruang terbuka di areal Java Banana, Wonotoro, Probolinggo,  Jazz Gunung yang rutin digelar setiap tahun sejak 2009, barangkali merupakan terjemahan sempurna dari sebuah konsep jazz yang merdeka. Diapit tiga gunung: Pundak Lembu, Ringgit, dan Lingga, panggung Jazz Gunung adalah bumi pada ketinggian 2,000 meter dpl dengan atap langit terbuka. 


Setting panggung dibuat unik, tak ada back-drop dengan deretan logo sponsor sebagaimana biasa kita lihat di berbagai pertunjukan lain. Panggung Jazz Gunung benar-benar bersih, kecuali sebuah karya instalasi dari tegakan bambu sebagai latar panggung yang ditata secara artistik. 


Instalasi serupa, tapi dari bahan tali, menghiasi tebing beton dan pohon di sebelah kanan panggung yang, ketika mendapat sorot lampu, menampakkan struktur temali yang sedap dipandang. Jazz Gunung berhasil lepas dan keluar dari sekat gedung pertunjukan penuh tata krama, dengan cara  kembali ke alam. Tak salah kalau Jazz Gunung kemudian memajang semboyan: Indahnya Jazz, Merdunya Gunung. 


Selama dua hari berturut-turut, 21-22 Juni lalu, ribuan penonton dari berbagai daerah, termasuk beberapa turis asing, seakan terbetot untuk memadati areal pertunjukan. Di antara deretan pengunjung, tampak pengusaha Arifin Panigoro dan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Yang disebut terakhir ini muncul pada hari kedua pertunjukan dan sempat didaulat maju ke panggung, berjam-session bersama Idang Rasjidi dan Djaduk Ferianto.


Di tengah suhu dingin dan embusan angin perbukitan yang kadang terasa menusuk, baik musisi maupun penonton sama-sama menghangatkan badan dengan memakai baju dan jaket tebal serta penutup kepala.  Brrr…..


Hujan


Pertunjukan hari pertama sempat terhenti beberapa jam karena hujan. Itu terjadi  ketika Sierra Sutejo membawakan lagu pertama. Sierra sebetulnya tetap ingin melanjutkan lagunya, namun karena hujan turun kian deras, panitia terpaksa menghentikan pertunjukan. Penonton pun beringsut dari bangku kayu, mencari tempat berteduh. 


Tapi kendala alam ini justru jadi berkah bagi penonton yang datang terlambat karena masih berkesempatan untuk menikmati sajian musisi yang mereka tunggu.  Apalagi sesudah hujan, bulan terang menjelang purnama, menaungi langit Bromo sepanjang malam.


Sederet grup tampil pada hari pertama, mulai dari Cantrek, Blambangan Art School, Sierra Sutejo, Balawan & Batuan Ethnic Fusion, Bandanaira, dan Yovie Widianto Fusion. Sedangkan pada pertunjukan hari kedua, panggung Jazz Gunung diisi oleh kelompok Tahez Komez, Kramat Madura, Kulkul, Ring of Fire, Rieka Roeslan, dan Barry Likumahua Project . 


Dialog


Jazz, lebih dari sekadar musik, ia adalah ruang dialog dengan bunyian yang melampaui tata bahasa bikinan manusia. Di atas panggung, komunikasi bisa terjadi antar-musisi tanpa kita harus paham apa arti harfiah dari rangkaian bunyi yang mereka ucapkan. Tapi bahkan tanpa harus berupaya memahami maknanya, para penonton justru tampak larut dalam rentetan dialog musikal yang terdengar nyaman di telinga. Tampaknya itu jauh lebih penting ketimbang kata-kata verbal yang keluar dari, misalnya (kalau mau membandingkan), mulut politisi yang sering tak bisa dipercaya. 


Dialog musikal, baiklah kita menyebutnya begitu, antara Idang Rasjidi dengan Djaduk Ferianto atau antara I Wayan Balawan dengan seorang pemain beat box dari California, misalnya, merupakan suguhan indah yang mampu membuat penonton terpaku di tempat duduknya, sesekali senyum bahkan tertawa karena kejenakaan para musisi. Jazz tak harus rumit, memang.


Kejenakaan, juga sedikit kenakalan, justru jadi warna tersendiri di arena Jazz Gunung. Panggung pertunjukan yang terbuka, udara dingin yang kian malam makin menyengat, memang perlu dihangatkan dengan penampilan yang tidak kaku, apalagi resmi. 


Suasana tidak resmi ini memang sudah terasa, tidak hanya dari setting panggung dan bangku penonton yang tak terlalu berjarak, tapi juga oleh penampilan pembawa acara Alit dan Gundil, serta Butet Kertaradjasa yang mampu mengocok perut pengunjung karena lontaran kata-kata mereka yang “sembarangan”,”bengal”, bahkan tak jarang “ngaco”. Bukan tak mungkin, ketika panggung diisi grup yang sedikit membosankan, sebagian penonton malah berharap ketiga pembawa acara ini segera muncul.


Apa boleh buat.


Foto-foto Jazz Gunung bisa Anda nikmati di Jazz, Jazz, Jazz, Gunung, Gunung, Gunung



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

Samoa Menetapkan Status Darurat Campak

Laporan Prakiraan Cuaca Sepekan Ke Depan Dari BMKG

Bakal Eksklusif, Masuk Pulau Komodo Mesti Pakai Membership?

Kabar Baru Jam 8