Hadapi Tahun Basah, Petani Diminta Rutin Pantau Lahannya

KBR68H, Jakarta - Para pengamat cuaca dan iklim menyimpulkan, curah hujan dan musim kemarau akan cenderung basah pada tahun ini.

BERITA

Selasa, 04 Jun 2013 12:54 WIB

Author

Doddy Rosadi

Hadapi Tahun Basah, Petani Diminta Rutin Pantau Lahannya

tahun basah, petani, curah hujan, kemarau, BMKG

KBR68H, Jakarta - Para pengamat cuaca dan iklim menyimpulkan, curah hujan dan musim kemarau akan cenderung basah pada tahun ini. Itu disebabkan serangkaian anomali di kawasan sekitar Indonesia yang berdampak hingga akhir tahun. Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian mengatakan, menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia menyebabkan curah hujan tinggi di sebagian wilayah Indonesia hingga saat ini. Seberapa besar pengaruh tahun basah ini kepada sejumlah komoditas pertanian? Simak perbincangan penyiar KBR68H Agus Luqman dan Rumondang Nainggolan bersama Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian) Erma Budiyanto dalam program Sarapan Pagi.

Komoditas apa saja yang terancam gagal panen?

Kebetulan kami di tanaman pangan. Pengalaman kami kemarau basah terjadi tahun 2010-2011 itu yang terdampak dari tanaman pangan khususnya padi, jagung, kedelai. Kalau kemarau basah itu tanaman palawija khususnya kedelai dan jagung biasanya mengalami penurunan, karena kalau hujan terus tidak begitu baik tumbuhnya. Kemudian karena hujan terus pola tanam untuk padi berubah, biasanya padi kemudian palawija itu biasanya petani menanam lagi. Biasanya itu akan mendorong peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman, hama, dan penyakit.

Jagung dan kedelai ini penurunan berapa persen kalau dari tahun-tahun lalu? 


Kemarin bisa sampai 6 persen sampai 7 persen, kalau melihat data tahun 2010. 


Itu besar atau sedikit?

Saya kira cukup besar apalagi kedelai dicanangkan swasembada 2014.

Dari Kementerian Pertanian sendiri apa yang sudah disosialisasikan kepada para petani khususnya yang menanam kedelai dan jagung?

Ini sebetulnya terkait informasi BMKG, kalau awal musim kemarin itu prediksinya 2013 normal dan musim kemarau akan maju. Tapi kemarin saya kaget ada prediksi bahwa kemarau ini akan basah, kami mengubah strategi yang normal sekarang harus mengubah lagi untuk bisa mengadaptasi iklim yang diprediksi akan basah.

Kira-kira ini akan dikaji dahulu atau langsung segera disampaikan?

Saya kira akan disampaikan karena pengalaman kami 2010 dampaknya. Pertama pola tanam di petani akan berubah yang tadinya padi-padi-palawija akan menjadi padi-padi-padi. Ini konsekuensinya terhadap peningkatan serangan hama.

Antisipasinya seperti apa untuk peningkatan serangan hama?

Hari ini kami rapat koordinasi pengamanan produksi beras untuk bagaimana mengantisipasi serangan hama ini.

Kerepotannya apa kalau seperti tahun 2010-2011 ketika kemarau basah?

Waktu 2010 kita memang belum siap terhadap kondisi perubahan iklim ekstrem. Tapi sekarang dengan adanya Inpres No. 5 Tahun 2011 yang bunyinya adalah pengamanan produksi untuk bisa merespon cepat perubahan iklim ekstrem. Aparat sudah diinstruksikan oleh  Presiden untuk mengambil langkah-langkah cepat apabila terjadi perubahan iklim ekstrem, termasuk gubernur, bupati, dan 18 kementerian yang lainnya juga diinstruksikan untuk mengambil langkah-langkah cepat. Jadi saya pikir kami sudah pengalaman, kami akan mengkoordinasikan kembali tentang komando. Ini saya kira sangat penting sekali koordinasi dalam komando penanganan.
  
Musim tanam padi sudah atau akan?

Akan. Juni ini ada yang sudah tanam, kami juga sudah melakukan gerakan-gerakan pra tanam bagaimana menghilangkan populasi awal OPT atau meminimalisasikan populasi OPT. Kemudian sekarang ada daerah yang mau tanam dan ada yang sudah tanam. Untung sekarang ada prediksi, dulu begitu sehingga kami bisa menyiapkan hal-hal yang diperlukan untuk mengantisipasi perubahan iklim.

Untuk petani apa yang bisa disampaikan?

Saya kira kita sudah tahu dampaknya, areal banjir akan meningkat, serangan OPT juga akan meningkat. Oleh karena itu para petani diharapkan bisa memantau lahannya dengan baik. Kadang-kadang ada petani yang waktu tanam saja datang ke sawah kemudian ditinggalkan, terus panen datang, tidak pernah mengamati areal sawahnya.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kiat Menjalani Isolasi Mandiri bagi Remaja Terinfeksi COVID-19

Bantu Sesama di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 8

Demi Oksigen Somasi Dilayangkan