Bagikan:

Cinta Alam dan Partisipasi Konservasi Generasi Muda dalam Aksi Nyata

Kementerian Kehutanan mencatat kawasan konservasi di Indonesia mencapai 25 juta hektar.

BERITA

Kamis, 06 Jun 2013 18:34 WIB

Author

Dimas Rizky

Cinta Alam dan Partisipasi Konservasi Generasi Muda dalam Aksi Nyata

adopsi pohon, konservasi, pangrango

KBR68H, Jakarta- Kementerian Kehutanan mencatat kawasan konservasi di Indonesia mencapai 25 juta hektar. Namun ada 361 ribu hektar yang sudah terdegrasi karena penebangan dan kegiatan lainnya yang merusak hutan. Tentu jumlah itu akan semakin bertambah jika tak ada kepedulian dari berbagai pihak, pemerintah, masyarakat dan generasi muda. Kepedulian itu sangat dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai salah satu konservasi alam.

Kementerian Kehutanan menyebutkan banyak generasi muda yang belum berperan aktif dalam melakukan konservasi alam. Direktur Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung Direktorat PHKA, Kemenhut, Sony Partono mengatakan itu disebabkan belum sadarnya generasi muda akan fungsi hutan, terutama soal fungsi hutan konservasi. Kata dia konservasi alam merupakan benteng terakhir dari kawasan hutan. “Kawasan hutan konservasi itu tidak bisa digunakan untuk produksi. Untuk jasanya seperti untuk kawasan wisata, diperbolehkan. Tapi dengan catatan sesuai peraturan,” jelasnya. Kata dia, salah satu kawasan konservasi itu ada di Pangrango.

Sebagai catatan, Pangrango merupakan kawasan hutan konservasi yang paling tua. Pangrango dipilih karena banyak flora dan fauna yang menjadi “penghuninya” di sana. 


Sementara itu pimpinan Green Radio FM dan KBR68H, Tosca Santoso punya cara pandang lain mengenai kegiatan konservasi hutan. Menurutnya hal itu dilakukan demi anak-cucu, “Begitu pesan orang tua saya dulu,” tandasnya. Faktanya, kata Tosca, jaman telah mengubah cara pandang masyarakat, termasuk generasi muda. Karena banyak kawasan hutan yang mengalami degradasi, untuk kepentingan ekonomi, baik dilakukan secara legal maupun ilegal. Parahnya kata dia, tidak ada upaya rehabilitasi pasca kegiatan penebangan hutan tersebut. 

Dan salah satu bentuk nyata partisipasi yang dilakukan Tosca bersama Green Radio adalah melalui adopsi pohon di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Katanya, sudah ada seribuan orang lebih yang bergabung dengan 22 ribu pohon yang sudah ditanam di sana.
 
Sebagai pelaku yang kegiatan di alam, para pecinta alam kini sudah diwajibkan untuk terlibat dalam konservasi alam. Rahmat Abbas dari Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) mengatakan setidak ada tiga aspek yang harus terpenuhi terkait konservasi alam. “Pertama aspek perlindungan, kita dituntut untuk melindungi alam yang menjadi tujuan kegiatan. Kedua, kita harus mengawetkan potensi yang ada di alam tersebut dan terakhir, diber ruang untuk memanfaatkannya,” terangnya. Karena itu kata dia FMI mendorong aspek konservasi untuk menjadi pelengkap seseorang dianggap menjadi pecinta alam.

Konservasi Alam Juga Harus Libatkan Masyarakat Sekitar

Direktur Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung Direktorat PHKA, Kemenhut, Sony Partono mengatakan pihaknya membuka tawaran kerjasama dari berbagai pihak, baik individu maupun perusahaan untuk mengelola kawasan konservasi hutan. Meski begitu dia mengharapkan adanya timbal balik yang dapat diberikan kepada masyarakat sekitar kawasan. Pasalnya kata dia, banyak masyarakat yang belum paham akan pentingnya konservasi. Hal tersebut menjadi masalah karena masyarakat menganggap lahan mereka tergusur untuk pengelolaan hutan tersebut, yang biasanya mereka gunakan untuk menanam tanaman pangan.

Tosca Santoso punya cara jitu untuk mengajak serta masyarakat. Menurutnya, dengan berdialog, semua pihak menjadi mengerti satu sama lainnya. Berdasarkan pengalamannya dalam program adopsi pohon bersama Green Radio, dia juga menyertakan masyarakat untuk ikut serta. “Berdasarkan riset yang kami buat, rata-rata penghasilan masyarakat di sana berpenghasilan Rp 22 ribu. Karena itu kita perlu berupaya meningkatkan penghasilan mereka lebih dari itu,” katanya. 

Di luar itu, Sony mengatakan pemerintah punya sejumlah program untuk menggalakkan konservasi alam. Misalnya adalah pembentukan kader-kader konservasi.

Dengan program-program tersebut diharapkan masyarakat dan generasi muda, ikut terlibat dalam melakukan konservasi. Menurutnya sudah saatnya masyarakat ikut serta dalam melestarikan lingkungan, tidak hanya mengandalkan pemerintah. Tosca juga setuju dengan hal itu. Menurutnya, “Sekarang ini saatnya kita membayar kembali pada alam. Bukan hanya tidak merusak, keadaan sudah terlanjur rusak, karena itu sudah saatnya membayar alam yang sudah rusak itu,” jelasnya.

Editor: Suryawijayanti 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Berliku Warga Ibu Kota Dapatkan Udara Bersih