Pandemi Covid, Sri Mulyani: APBN Defisit 1 Kuadriliun

"Defisit sebesar Rp 1.028,5 triliun atau 6,27% di dalam rangka untuk menalangi dan mendorong ekonomi agar tetap bisa bertahan dalam menghadapi tekanan Covid dan diharapkan bisa pulih kembali,"

BERITA | NASIONAL

Selasa, 19 Mei 2020 11:54 WIB

Author

Astri Septiani

Pandemi Covid, Sri Mulyani: APBN Defisit 1 Kuadriliun

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut total dana penanganan dan pemulihan ekonomi nasional akibat dampak wabah Covid-19 mencapai Rp641,17 triliun.

“Pemerintah akan melakukan dan mengakselerasi penanganan masalah ekonomi ini,” kata Menkeu Sri Mulyani dalam keterangan pers daring terkait program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Jakarta, Senin (19/05).

Menkeu Sri Mulyani  merinci total dana untuk PEN itu di antaranya dukungan konsumsi mencapai Rp172,1 triliun.

Dana konsumsi di antaranya dari Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp37,4 triliun, sembako sebesar Rp43,6 triliun, bantuan sosial di Jabodetabek Rp6,8 triliun.

Sedangkan subsidi bunga kepada UMKM, dunia usaha dan masyarakat sebesar Rp34,12 triliun dan insentif perpajakan kepada UMKM, dunia usaha dan masyarakat Rp123,01 triliun.

Selanjutnya, subsidi bahan bakar nabati untuk program B-30 sebesar Rp2,78 triluun, kemudian pembayaran kompensasi sesuai audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebesar Rp90,4 triliun masing-masing untuk Pertamina Rp45 triliun dan PLN Rp45,42 triliun.

Selain itu, dukungan untuk pemerintah daerah sebesar Rp15,1 triliun terdiri dari cadangan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik sebesar Rp9,1 triliun, Dana Insentif Daerah (DID) pemulihan ekonomi Rp5 triliun, dan penyediaan fasilitas pinjaman ke daerah Rp1 triliun.

Defisit APBN

Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan defisit APBN bakal melebar menjadi 6,27% terhadap produk domestik bruto. Angka ini lebih besar dari yang sudah tercantum dalam Peraturan Presiden  Nomor 54 tahun 2020 yaitu 5,07% terhadap PDB.

"Oleh karena itu APBN akan mengalami defisit sebesar Rp 1.028,5 triliun atau 6,27% di dalam rangka untuk menalangi dan mendorong ekonomi agar tetap bisa bertahan dalam menghadapi tekanan Covid dan diharapkan bisa pulih kembali," kata Sri Mulyani saat videoconference, Senin (18/5/20).

Sri Mulyani menyebut pendapatan negara tahun ini hanya akan mencapai Rp 1.691,6 triliun. Lebih rendah dari target Perpres 54 tahun 2020 yang sebesar Rp 1.760,9 triliun. Hal ini kata dia disebabkan pemberian insentif pajak dan pelemahan ekonomi di semua sektor.

Ia menyebut  tambahan stimulus fiskal antara lain subsidi bunga UMKM Rp34,2 triliun, diskon tarif listrik  yang diperpanjang menjadi 6 bulan mencapai Rp3,5 triliun, penambahan bansos tunai yang diperpanjang periodenya hingga desember mencapai Rp19,62 triliun, dan cadangan stimulus sebesar Rp60 triliun.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Antisipasi Arus Balik Pemudik ke Jakarta