ADB: Krisis Ekonomi Diprediksi Kian Berat, Ratusan Juta Orang Kehilangan Pekerjaan

"Secara global akan ada sekitar 158 juta sampai 242 juta orang yang kehilangan pekerjaan. Ini tujuh kali lebih besar dari angka kehilangan kerja yang terjadi saat krisis keuangan global tahun 2008."

BERITA | INTERNASIONAL

Jumat, 15 Mei 2020 15:47 WIB

Author

Adi Ahdiat

ADB: Krisis Ekonomi Diprediksi Kian Berat, Ratusan Juta Orang Kehilangan Pekerjaan

Lahan parkir di sebuah gedung di Jakarta sepi akibat pandemi Covid-19. Pendapatan bisnis parkir pun turun 75-90 persen, Kamis (30/4/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 diprediksi bakal semakin berat. Hal ini disampaikan Asian Development Bank (ADB) dalam laporan Updated Assessment of the Potential Economic Impact of Covid-19 yang dirilis Jumat (15/5/2020).

Pada April 2020, ADB sempat memprediksi pandemi akan menyebabkan kerugian ekonomi global sekitar US$2 triliun untuk skenario jangka pendek (3 bulan), atau US$4 triliun untuk skenario jangka panjang (6 bulan).

Tapi pada Mei 2020, perhitungan terbaru ADB menunjukkan kerugian itu bakal berlipat ganda jadi sekitar US$5,8 triliun untuk skenario jangka pendek, atau US$8,8 triliun untuk skenario jangka panjang.

Prediksi kerugian ini meningkat karena penularan Covid-19 masih terjadi di ratusan negara, banyak negara masih memberlakukan lockdown atau pembatasan sosial, dan sektor industri yang terdampak kian meluas.

"Secara global, analisis menunjukkan akan ada sekitar 158 juta sampai 242 juta orang yang kehilangan pekerjaan. Ini tujuh kali lebih besar dari angka kehilangan kerja yang terjadi saat krisis keuangan global tahun 2008," jelas ADB dalam laporannya.

"Kehilangan kerja besar-besaran ini akan berdampak signifikan pada peningkatan kemiskinan. Ini akan melukai ekonomi secara permanen," lanjutnya.


Berita Terkait:


Pemerintah Harus Lindungi Pendapatan Warga

Untuk mengatasi masalah ini, ADB menilai pemerintah perlu menerapkan kebijakan perlindungan sosial yang kuat di negerinya masing-masing.

"Intervensi kebijakan dapat secara signifikan meredam dampak Covid-19, bisa mengurangi kerugian ekonomi 30 persen untuk jangka pendek dan 40 persen untuk jangka panjang," jelas ADB dalam laporannya.

ADB menyarankan pemerintah meningkatkan anggaran kesehatan, memastikan lalu lintas perdagangan terus berjalan, memberi insentif untuk industri yang terdampak, sambil tetap menerapkan protokol pencegahan Covid-19.

ADB juga mendorong pemerintah membuat kebijakan khusus untuk melindungi pendapatan masyarakat.

"Kebijakan kuat untuk melindungi pendapatan dan pekerjaan sangat penting demi menghindari luka ekonomi jangka panjang. Terganggunya perdagangan dan kehilangan pekerjaan adalah pemicu utama penurunan tingkat konsumsi."

"Untuk menjaga agar konsumsi tidak turun tajam, pemerintah harus memberi dukungan berupa bantuan tunai sementara, subsidi pengangguran, dan distribusi komoditas esensial terutama makanan."

"Dukungan pendapatan warga ini juga harus diimplementasikan dengan benar, dengan memastikan transfer dana dilakukan secara efisien seperti lewat pembayaran digital, serta dengan mencegah korupsi," jelas ADB.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Valentino Rossi Akan Kembali Ke Arena Balap Pada MotoGP Eropa

Kisruh Rencana Pengadaan Mobil Dinas Pimpinan KPK

Kabar Baru Jam 7

Nakesku Sayang, Nakesku Malang

Eps3. Ketika Burgermu Memanaskan Bumi