Mengintip Cita-Cita Besar Kelompok Anarko Sindikalis

Berbeda dengan serikat pekerja biasa, kelompok Anarko-Sindikalis ini tidak menuntut kenaikan upah. Mereka punya cita-cita besar untuk merevolusi kehidupan sosial.

BERITA , NASIONAL

Jumat, 03 Mei 2019 18:31 WIB

Author

Adi Ahdiat

Mengintip Cita-Cita Besar Kelompok Anarko Sindikalis

Seorang peserta aksi May Day 2019 menempel pamflet di sebelah simbol Anarko-Sindikalis, Karawang, Jawa Barat (1/5/2019) (Foto: ANTARA/M Ibnu Chazar/ama).

Peringatan May Day 2019 diwarnai kericuhan di sejumlah daerah. Menurut Kapolri, Tito Karnavian, aktor utama dalam kericuhan itu ialah kelompok Anarko Sindikalis.

“Ada satu kelompok namanya Anarcho Syndicalism, dengan simbol huruf A. Ini bukan kelompok fenomena lokal, tapi fenomena internasional,” ujar Tito di Mabes Polri, Jakarta (2/5/2019).

Menurut Tito, kelompok ini sudah lama berkembang di Rusia, Eropa, Amerika Selatan dan Asia. Sedangkan di Indonesia, eksistensi mereka baru terlihat tiga tahun belakangan di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Malang, dan Jakarta.

“Mereka sayangnya melakukan kekerasan aksi vandalisme dengan coret-coret simbol ‘A’, ada yang merusak pagar, jalan,” tukas Tito.

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, telah memerintahkan Polri untuk menyelidiki kelompok ini lebih jauh.

“Kami ingin tahu siapa otak di balik itu semua dan apa tujuannya. Namanya mengerikan, anarcho, anarkis,” ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta (2/5/2019).


Cita-Cita Besar Anarko Sindikalis

Menurut Solidarity Federation (Solfed), asosiasi pekerja internasional yang berbasis di Eropa, Anarko Sindikalis adalah gerakan yang memperjuangkan kebebasan pekerja.

“Di setiap negara gerakan sindikalis berkembang secara berbeda, sesuai dengan kondisi yang berlaku di sana,” tulis Solfed dalam situs resminya.

Solfed menjelaskan bahwa Anarko Sindikalis berbeda dengan gerakan Marxis. Gerakan sindikalis tidak didasari teori-teori abstrak, melainkan dihidupkan oleh kelompok-kelompok yang berbagi prinsip dan tujuan dasar sama.

Anarko Sindikalis juga berbeda dengan serikat pekerja yang sekedar memperjuangkan kenaikan upah.

Kelompok ini justru punya tujuan besar untuk merevolusi kehidupan sosial dengan berlandaskan prinsip sukarela, demokrasi langsung, kesetaraan dan juga kerja sama.

Berikut adalah paparan singkat mengenai tujuan dasar dari gerakan Anarko Sindikalis:


1. Menghapuskan Negara

Anarko Sindikalis meyakini bahwa negara adalah aktor utama yang mengekang kebebasan pekerja.

Solfed menyebut, awalnya masyarakat patuh pada negara karena dijanjikan kesejahteraan dan keamanan.

Tapi dalam kenyataannya, negara acap kali tak mampu memenuhi janji tersebut. Kepatuhan masyarakat terhadap negara kerap menjadi sia-sia.

Solfed juga menilai bahwa negara bisa ‘merampok’ warganya lewat praktik-praktik korup yang dibiarkan oleh hukum. Karena itu, Anarko-Sindikalis meyakini bahwa negara harus dihapuskan.


2. Menghapuskan Kapitalisme

Anarko Sindikalis meyakini bahwa sistem kapitalisme telah menyuburkan eksploitasi manusia, di mana kelompok pemegang modal memeras tenaga kelompok pekerja.

Kapitalisme juga dinilai telah membuat ketimpangan, di mana sebagian orang hidup mewah, sementara sebagian lainnya bahkan tidak mampu memperoleh kebutuhan dasar seperti pangan, pakaian dan tempat tinggal.

Karena itu, Anarko Sindikalis ingin menghapuskan kapitalisme. Sebagai penggantinya, barang-barang kebutuhan masyarakat akan diproduksi secara bersama-sama dan dibagi secara proporsional.


3. Menghentikan Eksploitasi Lingkungan

Selain memeras manusia, Anarko Sindikalis juga menilai bahwa kapitalisme mendorong eksploitasi besar-besaran terhadap lingkungan.

Karena itu, Anarko Sindikalis bercita-cita menyelamatkan keberlanjutan lingkungan, yang dimulai dengan cara menghapus sistem kapitalisme.

Bagi kelompok Anarko Sindikalis, berbagai cita-cita tadi hanya bisa dicapai lewat perlawanan terhadap kekuasaan. Baik itu lewat aksi pemogokan massal, ataupun aksi demonstrasi.

(Sumber: A history of Anarcho-syndicalism, www.solfed.org.uk)

Editor: Agus Luqman
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Eps.5: Kuliah di Iran, Cerita dari Bahesty Zahra

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17