Hari Kebebasan Pers Sedunia, SEAJU Tuntut Negara ASEAN Perbaiki Kesejahteraan Jurnalis

Masalah upah rendah paling banyak dikeluhkan jurnalis Indonesia, Myanmar, Timor Leste, dan Thailand. Sedangkan ancaman kekerasan paling banyak dikeluhkan jurnalis Kamboja.

BERITA , NASIONAL , INTERNASIONAL

Jumat, 03 Mei 2019 14:49 WIB

Author

Adi Ahdiat

Hari Kebebasan Pers Sedunia, SEAJU Tuntut Negara ASEAN Perbaiki Kesejahteraan Jurnalis

Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) melakukan aksi May Day 2019 di depan Gedung Wisma Antara, Jakarta (1/5/2019) (Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja/pd).

Bertepatan dengan Hari Kebebasan Pers Sedunia, South East Asia Journalists Unions (SEAJU) menuntut negara-negara Asia Tenggara untuk memperbaiki kesejahteraan jurnalisnya.

Abdul Manan, Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) sekaligus perwakilan SEAJU, menyatakan, “Kami mendesak pemerintah untuk menunjukkan komitmen dan upaya dalam melindungi jurnalis,” jelasnya dalam situs resmi International Federation of Journalists (3/5/2019).

Abdul menuntut pemerintah kawasan Asia Tenggara agar mereformasi atau menghapuskan undang-undang yang rawan mengkriminalisasi jurnalis.

Pemerintah juga dituntut serius menindak kasus kekerasan yang menimpa awak pers. “Kegagalan dalam menuntut pelaku kejahatan terhadap jurnalis akan melanggengkan siklus kekerasan,” tegas Abdul.

Selain ancaman kriminalisasi dan kekerasan, SEAJU menyoroti masalah upah rendah dan kondisi kerja yang buruk.

Abdul menambahkan, “Bukan hanya perusahaan media yang bertanggung jawab memperbaiki kondisi kerja (jurnalis), tapi juga pemerintah. Pihak berwenang bisa memainkan peran besar untuk memastikan perusahaan media memberi gaji dan fasilitas yang lebih baik, seperti asuransi kesehatan untuk jurnalis,” ujarnya.

Menurut Abdul, perbaikan kesejahteraan diperlukan supaya awak pers bisa terus melayani publik dengan baik, sekaligus menjalankan fungsi pengawas dan penyeimbang kekuasaan (check and balance) dalam proses demokrasi.


Upah Rendah: Masalah Dominan di Asia Tenggara

Menurut hasil survei SEAJU terhadap sekitar 1.000 jurnalis, masalah dominan di Asia Tenggara adalah upah rendah serta kondisi kerja buruk.

Masalah itu paling banyak dikeluhkan jurnalis di Indonesia, Myanmar, Timor Leste, dan Thailand.

Jurnalis Kamboja paling banyak mengeluhkan ancaman kekerasan, Filipina mengeluhkan serangan siber, sedangkan Malaysia mengeluhkan kebijakan sensor.

Sekitar 50 persen jurnalis yang disurvei merasa tidak aman saat bekerja. Hanya ada 2 persen yang merasa sudah dilindungi dengan baik oleh pemerintahnya.

Menurut International Federation of Journalists (IFJ), masalah-masalah tadi perlu dihadapi dengan menguatkan aliansi jurnalis regional.

Seperti dilansir situs resmi IFJ, perwakilan mereka menyebut, “Laporan SEAJU telah menunjukkan, meski ada perbedaan di antara negara-negara, wilayah ini (Asia Tenggara) menghadapi ancaman bersama seperti kondisi kerja dan budaya impunitas. Kita perlu memperkuat aliansi regional demi meningkatkan keamanan jurnalis dan melindungi kebebasan pers di Asia Tenggara,” tulisnya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.