Share This

Sejak Bom Surabaya, Kominfo Hapus 1.200an Konten terkait Terorisme

Per Rabu (16/5/2018) pukul 08.00 WIB, Kemenkominfo menghapus 562 konten di Facebook dan Instagram, 301 konten di Youtube dan Google Drive, 287 konten di aplikasi Telegram, 113 akun di Twitter, dan 22 di situs, forum diskusi, atau berbagi file.

, NASIONAL

Rabu, 16 Mei 2018 16:50 WIB

Ilustrasi. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengklaim telah menghapus lebih dari 1.200 konten dan akun media sosial sejak serangan teroris di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Staf Ahli Menkominfo, Donny BU memperkirakan jumlah ini akan terus meningkat. 

Kata dia, ribuan konten yang dihapus berasal dari pelbagai platform termasuk aplikasi pesan instan. Langkah bersih-bersih konten itu berdasar pada temuan lembaga pemerintah, laporan masyarakat dan sistem filter Kominfo.

"Kenapa ini bisa dilakukan, selain koordinasi dengan sejumlah pihak, juga berdasarkan laporan dari sejumlah pihak," terangnya dalam diskusi terorisme di Kemenkominfo, Jakarta, Rabu (16/5/2018).

"Juga memang ada peningkatan yang dilakukan oleh mesin AIS (mesin pengais konten negatif), mesin filtering untuk crawling konten negatif," tambahnya.

Per Rabu (16/5/2018) pukul 08.00 WIB, Kemenkominfo menghapus 562 konten di Facebook dan Instagram, 301 konten di Youtube dan Google Drive, 287 konten di aplikasi Telegram, 113 akun di Twitter, dan 22 di situs, forum diskusi, atau berbagi file.

Baca juga:

Donny menjelaskan, mesin AIS bekerja lebih panjang menjadi dua jam dari yang awalnya 1 jam. Mesin ini bertugas menyeleksi konten negatif terkait terorisme dan provokasi dengan kata kunci.

"Mesin AIS, setiap 2 jam per hari melakukan crawling," jelasnya.

Dia mendorong masyarakat turut aktif melaporkan konten negatif di internet. Masyarakat bisa melapor ke Kominfo melalui aduankonten.id dan stophoax.id.

Masyarakat juga bisa melapor ke kepolisian atau kelompok seperti Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo) dan ICT Watch. "Secara teknis take down tidak sulit, tapi mendeteksinya akan sulit kalau kerja sendiri-sendiri," paparnya lagi.

Baca juga:





Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.