Share This

Puasa, Berhenti Merokok, dan Buat Harganya Jadi Mahal

Memunculkan bahaya dan membahayakan orang lain itu hukumnya adalah haram. Ini ada pada rokok yaitu membahayakan diri sendiri dan orang lain yang ada disekelilingnya yang menghirup asap rokok itu

BERITA , NASIONAL

Selasa, 22 Mei 2018 10:52 WIB

Tresia Mahaputri Nusantari Maghfirah, MARS, MPM., Koordinator Divisi Pelayanan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah, mengatakan bulan ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk mulai berhenti merokok. Apalagi dalam pandangan Islam, segala sesuatu yang merusak diri sendiri dan orang lain adalah haram.

“Kalau boleh saya sebutkan hadisnya ya dari Ibnu Abas, Rasullulah SAW bersabda, “tidak boleh melakukan atau menggunakan sesuatu yang berbahaya atau membahayakan”. Jadi dari sini sudah jelas bahwa sesuatu yang berbahaya itu dilarang,” ujarnya. Intinya kata dia memunculkan bahaya dan membahayakan orang lain itu hukumnya adalah haram. “Ini ada pada rokok yaitu membahayakan diri sendiri dan orang lain yang ada disekelilingnya yang menghirup rokok tersebut,” ujarnya. 

Sedangkan dari sisi pemborosan kata  dr Tresia,  sudah dihimbau baik dalam Al-Quran maupun dalam Hadis bahwa perilaku pemborosan itu adalah perilaku dari setan. “Jadi kita tidak boleh berbuat sesuatu yang boros, apa lagi sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan berbahaya bagi tubuh.” 

Terkait hal ini perempuan punya peran penting dalam menghentikan kebiasaan merokok di dalam keluarga kata Dokter Fifi. “Perempuan sebenarnya dalam komunitas yang terkecil, di dalam keluarga itu mempunyai fungsi yang sentral sebenarnya, apa lagi seorang ibu. Beliau sangat memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap suami dan anak-anaknya,” ujarnya.

Dan peran perempuan ini tidak berhenti hanya di dalam keluarga tapi juga di tengah masyarakat.

“Di kita pun juga ada PKK, arisan, gitu kan, perkumpulan-perkumpulan dimana itu perempuan-perempuan itu berkumpul dan menyatukan kekuatan. Dari ibu-ibu yang nganter anak sekolah, kan punya komunitasnya sendiri tuh. Nah kalau Aisyiyah itu sudah punya Germas sendiri, Gerakan Aisyiyah sehat. Di situ kita kampanye berbagai macam, seperti mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan, olahraga setiap hari minimal 30 menitan, tidak mengkonsumsi rokok dan alkohol,” tambah Dokter Fifi. 

Tingginya angka konsumsi rokok di Indonesia yang mencapai 1.322,3 batang per perokok menurut data konsumsi rokok dunia tahun 2014, tidak terlepas dari harganya yang murah. Krisna Puji Rahmayanti dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakau mengatakan harga yang murah akibat cukai yang rendah.

“Sebenarnya kalau kita lihat harga rokok itu bisa kita lihat pertama dari harga ecerannya sendiri, kemudian cukainya dan juga ke PPN. Nah salah satu masalah kenapa harga jual rokok itu masih murah di Indonesia, salah satunya adalah karena cukai kita masih rendah,” jelasnya. 

Meski ada kenaikan cukai setiap tahun kata Krisna nilainya tidak signifikan akibatnya rokok masih berada dalam daya beli masyarakat. 

“Ketika cukai masih dalam rentang daya beli masyarakat, di sisi lain rokok kan, dari sisi agama tadi juga mengulas tadi ya, menimbulkan adiksi, maka rasionalistas pembeli, atau masyarakat menjadi berkurang. Ya namanya juga sudah adiksi, kalau harganya masih dalam jangkauan masyarakat ya mereka akan terus beli. Maka kalau cukai tidak naik secara signifikan, ini akan menjadi masalah kita,” papar Krisna.

Karena itu menurut Krisna cara untuk mengendalikan peredaran rokok adalah dengan menetapkan cukai yang sangat tinggi seperti yang berlaku di beberapa negara lain.

Tetapi Bapak Alex di Manado ragu harga rokok yang mahal akan serta merta menurunkan jumlah perokok. Dia menyarankan pelarangan penjualan rokok secara ketengan.

Senada dengan Krisna, Dokter Tresia Mahaputri Nusantari Maghfirah, MARS, MPM. Koordinator Divisi Pelayanan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah mengatakan Indonesia perlu meniru kebijakan soal rokok yang dibuat negara lain.

“Kami sangat-sangat setuju untuk harga rokok itu dibuat regulasinya dibuat seperti di luar negeri di Amerika, India, Singapura. Mereka itu membuat regulasi bahwa anak-anak di bawah 18 tahun itu tidak boleh merokok, satu, kemudian harganya dibuat mahal dan cukainya signifikan juga ya. Jadi dengan regulasi semacam itu, masyarakat dengan sendirinya juga akaan, daya belinya juga akan tidak mampu untuk membeli hal-hal semacam itu,” tutup dokter Fifi.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.