Manajemen RSUD Pasar Rebo Diharapkan Serahkan Bayi Magie

Keluarga Magie Dwilistiani berharap RSUD Pasar Rebo mengeluarkan anaknya yang ditahan lebih dari sepekan karena alasan administrasi keuangan.

BERITA | PILIHAN REDAKSI | NASIONAL

Jumat, 08 Mei 2015 22:22 WIB

Author

Yudi Rachman

Manajemen RSUD Pasar Rebo Diharapkan Serahkan Bayi Magie

Ilustrasi: foto bayi di salah satu ruangan perawatan. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Keluarga Magie Dwilistiani berharap RSUD Pasar Rebo mengeluarkan anaknya yang ditahan lebih dari sepekan karena alasan administrasi keuangan. Menurut alasan keluarga, bayi yang lahir prematur itu ditahan karena orang tuanya tak sanggup membayar proses persalinan yang mencapai Rp 64 juta.

Meski begitu, ibu bayi, Magie mengatakan, sesuai kesepakatan dengan RS, pihak keluarga bakal mencicil besaran tunggakan tersebut. Karena itu menurut dia, pihak RS tak perlu lagi menahan bayinya yang saat ini berada di ruang bayi sehat. Namun kata dia, justru manajemen RSUD Pasar Rebo mengancam akan memasukkan anaknya ke panti sosial apabila tidak membayar administrasi sekitar Rp 64 juta.

"Saya takut anak saya diapa-apain, kemarin dari pihak dokternya bilang begini kalau administrasinya tidak diselesaikan anaknya masuk panti. Saya bilang alasannya apa? Kan saya tanggung jawab. Orang tuanya masih ada. Suami dan saya masih ngurusin. Memangnya anak ini sudah jadi milik negara? Kan ada orang tuanya. Tidak bisalah dok semudah itu. Kata itu saja saya sudah bingung dan bikin panik," jelas Magie Dwilistiani orang tua bayi saat dihubungi KBR, Jumat (8/5).

Berikut kronologis penahanan bayi Galih Prasetyo-Magie Dwilisitiani oleh pihak RSUD Pasar Rebo

1. Bayi pasangan Galih Prasetyo-Magie Dwilisitiani, lahir pada 31 Maret 2015 pukul 09:47 WIB dengan kondisi prematur dan harus masuk ruang NICU/PICU RSUD Pasar Rebo.

2. BPJS untuk bayi baru jadi ditolak, karena keterlambatan 3x24 jam (peraturan BPJS).

3. Pihak rumah sakit pada akhrinya mengusulkan kami untuk mencicil biaya yang sudah mencapai 64 juta rupiah. Galih dan Magie sepakat untuk menerima usulan rumah sakti dengan harapan bayi bisa keluar.

4. Mereka baru menyicil Rp 200.000 karena Galih baru bekerja dengan status percobaan selama 3 bulan.

5. Galih sudah menyetujui permintaan rumah sakit untuk mensurvei dan melihat rumah kontrakannya. Namun 1 minggu usai keputusan untuk menyicil, pihak rumah sakit tetap tidak mau untuk mengeluarkan bayinya.

6. Menurut informasi dari dr. Ellen Rostati Sianipar yang merawat bayi Galih, dia sudah masuk ruang bayi sehat. Bahkan dokter yang menanganinya sudah memberikan pernyataan jika sudah bisa pulang.

7. Hari ini, Jumat (08/05/2015), istri Galih yaitu Magie, kembali bertemu dengan pihak RS yang diwakili Dedi. Dia meminta keluarga Galih untuk membayar lagi cicilannya sebagai bukti keseriusan dalam proses cicilan pembayaran proses persalinan. Padahal Galih dan istri sudah tegaskan sudah tidak memiliki uang lagi karena selama ini untuk biaya tebus obat.

Editor: Dimas Rizky

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Ilmuan Iran Dibunuh, PBB minta semua pihak menahan diri

Kabar Baru Jam 7

Menagih Penuntasan Kasus Pembunuhan Pendeta Yeremia

Kabar Baru Jam 8

Rumah Sakit Penuh, Pemkab Cilacap Sewa Hotel untuk Karantina Pasien Covid-19