Mahalnya Hidup Sehat di Kota Besar

Biaya kesehatan masyarakat Jakarta akibat polusi udara mencapai Rp 37,4 triliun.

BERITA

Senin, 19 Mei 2014 22:23 WIB

Author

Indra Nasution

Mahalnya Hidup Sehat di Kota Besar

kesehatan, polusi, biaya kesehatan

KBR, Jakarta - Anda tahu biaya kesehatan yang dikeluarkan warga Jakarta akibat polusi udara pada tahun 2010? Ini jawabannya: Rp 37,4 triliun!


Data tersebut didasarkan dari hasil studi  Cost and Benefit Analysis on Fuel Economy Policy in Indonesia (CBA) pada tahun 2012 yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Bengkaknya biaya ini akibat banyaknya penyakit yang ditimbulkan, mulai dari asma, ISPA, pneumonia, penyempitan saluran pernafasan dan sebagainya. 


“Untuk pengendalian pencemaran kami menyusun kajian tentang Cost and Benefit Analysis on Fuel Economy Policy in Indonesia. Kami memintah pihak lainnya untuk mengendalikanpencemaran polusi,” kata Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Manufaktur, Prasaran dan Jasa Kementerian Lingkungan Hidup Sulistyowati.


Sulis mengatakan upaya pemerintah untuk mengurangi polusi udara, dengan menyusun aturan dan program yang berkaitan pengendalian udara. “Dengan adanya aturan untuk membatasi emisi, pemerintah membuat program­program, untuk ketaatkan dari stakeholder yang merupakan penyumbang dari polusi, seperti program langit biru dan juga ada program Adipura,” kata Sulis.


Sulis mencontohkan terkait dengan asap di Riau yang muncul karena pembakaran hutan pihaknya telah menginvestigasi terhadap perusahaan yang diduga menjadi penyebab hutan terbakar di Sumatera. “Ini masih invesitgasi apakah petani itu ditunggani apa tidak,” terang Sulis.


Sementara menanggapi kualiatas udara yang terus memburuk, Kementerian Kesehatan menempatkan timnya di sejumlah kota untuk memantau tingkat kesehatan udara. Ini juga termasuk juga daerah yang mengalami bencana seperti Sinabung dan Riau, jadi berbagai macam upaya terus dilakukan,” kata Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti. 


Kemenkes mendukung dengan memperkuat kapasitas dari tenaga kesehatan. Ali mengatakan saat ini ada tim pencegahan penyakit dan penyehatan lingkungan. Lingkungan luas tidak hanya udara tetapi juga air  ini, ada direktorat yang khusus untuk menangangi itu,” kata Ali. Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbal, Ahmad Syariduddin menilai kondisi udara di kota­ kota besar Indonesia relatif tinggi tingkat pencemarannya. Ini tidak luput dari emisi dari yang dimunculkan beberapa sumber. “Kalau kita pila sekitar 70% disumbang kendaraan bermotor, 25% industri, 5% dari domestik bisa dari rumah tangga dan pengelolaan sebuah kota,” kata Ahmad Syariduddin yang disapa Puput. 


Menurut Puput saat ini polusi sangat dekat terhadap kegiatan masyarakat. Dia mencontohkan saat berkendaraan kita sudah terpapar polusi. “Begini simpelnya sehari­hari yang bergulat di jalan seperti naik ojek di baju kita pasti tericum bau bensin itu hydrokarbon pasti sangat tinggi, efek langsung pusing­pusing. Dan kalau partikel debu terkontaminasi oleh zat lain seperti logam berat itu berefek hipertensi marah­marah dan emosional,” kata Puput.


Menurut Puput, untuk mengatasi ini pemerintah harus menciptakan ruang terbuka hijau minimal 30% dari luas wilayah itu. Ruang terbuka hijau ini akan mempermudah menetralisir pencemaran udara. “Kalau ada itu berbagai polutan bisa diserap, sehingga kalau turun hujan bisa diguyur  sehingga tidak terus menerus di udara jika tidak ada penyaringan maka dia akan terpapar di udara,” jelas Puput. 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kesiapan Mental sebelum Memutuskan Menikah

Kabar Baru Jam 8

Setahun Pandemi dan Masalah "Pandemic Fatigue"

Kabar Baru Jam 10