Caleg Perempuan Diisi Muka Kroni

39 persen dari 79 calon legislatif perempuan yang melenggang ke Senayan berasal dari keluarga elit politik.

BERITA

Rabu, 14 Mei 2014 16:29 WIB

Author

Vitri Angreni

Caleg Perempuan Diisi Muka Kroni

Caleg, perempuan, Dirga Ardiyansyah, Puskapol UI, parpol

KBR - Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia mencatat 39 persen dari 79 calon legislatif perempuan yang melenggang ke Senayan berasal dari keluarga elit politik. Ini memperlihatkan kegagalan partai politik melakukan pengkaderan terhadap perempuan yang benar-benar punya kamampuan dan basis di akar rumput dalam lima tahun. Dirga Ardiyansyah, peneliti dari Puskapol UI mengatakan, mekanisme perekrutan caleg yang dilakukan parpol harus dibuat lebih terbuka agar bisa menjaring sosok-sosok yang kompeten. Berikut petikan wawancara selengkapnya.

Apa dampak yang paling berbahaya kalau memang mereka yang bercokol di parlemen kita?

“Sebenarnya kesalahan besar ada di partai politik. Karena proses pencalonan minimal 30 persen, sebenarnya kalau berkaca dari 2009-2014 mereka punya lima tahun. Di tahun 2009 pun sama polanya, anggota-anggota legislatif yang terpilih juga sama profilnya hampir 40 persen adalah punya hubungan kekerabatan dan kedekatan dengan elit politik di lokal atau partai. Ini yang menyebabkan sebenarnya dalam lima tahun tidak berbuat apa-apa. Sebenarnya banyak sekali perempuan-perempuan potensial yang punya basis di akar rumput, punya kerja yang konkret dibandingkan dengan hanya hubungan kekerabatan yang dekat dengan elit atau akses terhadap ekonomi. Ini yang menyebabkan sebenarnya harusnya partai lebih memberikan peluang kepada perempuan yang punya basis riil konkret.”

 
Tapi sepertinya sulit bagi partai politik untuk tidak melibatkan kerabat mereka dan memilih orang luar yang baru ditemukan walaupun soal kapabilitas lebih bagus. Apakah Anda melihat ada sistem yang harus diperbaiki di partai politik?

“Ini sebenarnya pola-pola yang memang harusnya lebih diubah mekanismenya dimana memang lebih terbuka, lebih berupaya mencari sosok-sosok yang kompeten. Karena kalau kita lihat dengan tergusurnya hampir 50 persen incumbent yang sebenarnya sama polanya. Ini memperlihatkan bahwa sebenarnya dia tidak bisa bertahan nantinya, dia harus digantikan oleh sosok-sosok yang kategorinya sama tetapi beda orang. Artinya ketika nanti elit politik di partai bergeser itu digantikan oleh caleg-caleg yang memang punya hubungan kedekatan terhadap caleg perempuan maupun caleg laki-laki juga tentunya. Polanya sama tetapi mereka tidak bisa bertahan karena memang tidak bisa berbuat banyak di DPR.”


Menurut apa yang dikerjakan oleh Puskapol, partai politik yang paling banyak urusan kekerabatan ini semua parpol atau beberapa parpol tertentu?

“Secara agregat seluruh partai relatif sama. Tetapi kalau kita lihat memang dari urutan-urutan komposisi di semua partai relatif sama. Kalau kita lihat memang ada sisi beberapa partai yang cukup dominan perolehan suara caleg perempuannya sebenarnya di peringkat satu adalah PPP. PPP ini juga sebenarnya kalau dilihat lebih dalam kepada caleg-caleg terpilihnya kontribusi suara caleg perempuan mereka sangat signifikan tinggi pada kisaran 22 persen. Tapi kalau kita lihat memang ada istri dari ketua umumnya, anak dari ketua umumnya, istri dari wasekjen, dan sebagainya. Ini yang menyebabkan sebenarnya kalau pola di partai-partai lain juga sama.”


Ini terjadi juga di partai lain?

“Iya tentu saja sama. Cuma memang kalau bisa dilihat bahwa PDIP sebagai partai pemenang juga ya mereka kalau kita lihat di 20 besar peraih suara terbanyak ada tiga orang PDIP yaitu Margareth Natasha, Puan Maharani, dan Rieke Dyah Pitaloka. Dua yang pertama yaitu Margareth anak gubernur, Puan anak ketua umumnya, Rieke yang memang aktivis kita bisa bilang punya kapabilitas bekerja sebagai kader partai. Ini profil-profil yang bisa kita lihat lebih banyak dari keluarga elit itu.”


Ini harus disudahi ya politik dinasti ini?

“Iya karena ini langkah pragmatisnya partai ketika mereka ditekan untuk memberikan 30 persen memenuhi kuota. Tetapi mereka sebenarnya tidak bisa melakukan langkah-langkah yang instant seperti itu karena terbukti akhirnya ketika mereka mengajak keluarganya kemudian ini yang disebut oligarki. Polanya juga bukan hanya kerabat tetapi juga elit-elit lokal, kemudian bertransformasi naik ke level berikutnya di level nasional untuk mengamankan kepentingannya.”            

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Inggris Perpendek Masa Karantina Turis Asing

Menggunakan Sains Data untuk Atasi Kemacetan di Jakarta

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Beda Nasib Serapan Insentif Usaha di Progam Pemulihan Ekonomi Nasional