Tarakan Siap Menjadi Kota Layak Anak

KBR68H, Jakarta - Kota Tarakan Kalimantan Utara tengah bersiap menjadi Kota Layak Anak sejak tahun 2011.

BERITA

Senin, 13 Mei 2013 13:08 WIB

Author

Nur Azizah

Tarakan Siap Menjadi Kota Layak Anak

kota layak anak, tarakan, persiapan

KBR68H, Jakarta - Kota Tarakan Kalimantan Utara tengah bersiap menjadi Kota Layak Anak sejak tahun 2011. Instrumen kebijakan juga sepertinya tengah disusun di Provinsi baru ini. Pemerintah setempat mengklaim proses menuju Kota Layak Anak masih terus bergulir.

Asisten Daerah II Bidang Kesejahteraan Masyarakat Pemerintah Kota Tarakan Yunus Abbas mengatakan, pihaknya kini tengah menggodok lima Peraturan Walikota sebagai alat pelaksanaan Perda Nomer 08/2012 tentang Perlindungan Anak. Lima Perwali itu antara lain Peraturan Walikota soal Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Perwali tentang kebijakan khusus terhadap anak dalam kondisi darurat, termasuk Perwali tentang Standar Pelayanan Anak yang bisa diturunkan dengan pembuatan akte kelahiran gratis bagi setiap anak yang lahir.

Dalam perbincangan Reformasi Hukum dan HAM di Kota Tarakan, Senin (13/5) Yusuf Abbas mengatakan, pemkot Tarakan telah memenuhi sebagian dari 31 indikator Kota Layak Anak. Abbas menambahkan, pihaknya sependapat dengan kemasan 31 indikator yang lebih ringkas tercantum dalam 5 Konvensi Hak Anak. Lima hak itu adalah hak sipil dan kebebasan; lingkungan keluarga serta pengasuhan alternatif;   Kesehatan dasar dan kesejahteraan; Pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni budaya; serta perlindungan khusus.
Namun rupanya program Kota Tarakan ini masih belum sepenuhnya berlaku di masyarakat.

Untuk itu Pemkot Tarakan berharap pihak lain seperti massyarakat dan pelaku usaha juga ikut berpartisipasi mewujudkan program tersebut.
Hal ini juga diakui Rahmi Fadila. Sebagai pemerhati anak, Rahmi meminta agar proses Kota Tarakan menuju Kota Layak Anak dimulai dari lingkugan keluarga. Sebagai lingkungan terkecil, kata Rahmi, keluarga seharusnya mampu menciptakan suasana aman dan nyaman bagi anak anak dan penghuni lain dalam rumah.

"Karena biasanya perampasan hak anak justru datang dari lingkungan keluarga dan sekitar," ujar Rahmi. Suasana yang nyaman dan aman itulah yang menurut Rahmi sanggup membentengi anak anak dari kejahatan di sekitarnya.
"Hal sepele yang bisa menjadi indikator rumah ramah anak adalah tidak memasang colokan lampu di bawah," imbuh Rahmi.

Kota Tarakan memang tengah berproses menciptakan Kota Layak Anak. Tapi benah-benah di lapangan sepertinya belum nampak. Dosen Universitas Borneo yang juga psikolog anak Siti Malekha mengamati hanya segelitir orang yang memahami hak anak dan rencana besar pemerintah setempat itu.

"Banyak masyarakat yang ada di pinggir pantai dan pedalaman. Pemerataan informasi memang masih perlu ditingkatkan," kata Malekha.

Malekha juga meminta agar sosialisasi pemkot Tarakan tak sekedar poster atau selebaran. Melainkan, kata Malekha, sosialisasi langsung berupa pembangunan fasilitas seperti Pojok ASI di pusat perbelanjaan dan kantor pemerintahan, taman bermain juga taman rekreasi.

"Pihak pengusaha juga tidak boleh mempekerjakan anak anak di bawah umur. Dan perusahaan wajib membangun fasilitas bermain anak pada setiap bangunan mereka," katanya.

Fakta lain juga disampaikan seorang guru SMP 10 Tarakan. Widi Lestari mengatakan, siswanya di SMP di Tanjung Pasir juga kebanyakan tak bisa melanjutkan sekolah. Menurut Widi, kebanyakan orangtua di daerah itu bercerai dan tidak lagi memperhatikan anak anaknya.

"Ada juga anak yang baru lulus SMP harus kerja untuk membiayai sekolah adiknya, karena orangtuanya pisah. Anak ini sering sms sama saya. Kabarnya adiknya juga berhenti sekolah karena tidak ada yang membiayai sekolah. Ketika sekolah siap membantu, orangtua menolak karena merasa lebih berhak atas anaknya," terang Widi.

Sudah seyogyanya Pemerintah Kota Tarakan tak berkecil hati untuk terus mempercantik Kotanya menjadi Kota Layak Anak. Masukan warga juga sudah sepatutnya disikapi sebagai lecutan bagi Pemkot agar Kota Layak Anak tak hanya regulasi tanpa aksi.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Presiden Didesak Keluarkan Perppu untuk Batalkan UU KPK

Cek Fakta Top 5 Hoax of The Week 14-20 September 2019

Bangun Sinergi Selamatkan Badak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak