covid-19

Memanfaatkan Pekarangan Menjadi Sumber Pangan Keluarga

KBR68H, Jakarta - Indonesia menjadi salah satu konsumen beras terbesar di dunia.

BERITA

Kamis, 16 Mei 2013 15:31 WIB

Memanfaatkan Pekarangan Menjadi Sumber Pangan Keluarga

pekarangan, lumbung pangan, Kawasan Rumah Pangan Lestari, jakarta

KBR68H, Jakarta - Indonesia menjadi salah satu konsumen beras terbesar di dunia. Populasi Indonesia yang terus meningkat menjadi salah satu faktor meningkatnya konsumsi beras. Salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan itu adalah dengan cara mendorong Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Pendekatan ini mencoba menggunakan pekarangan rumah sebagai lahan untuk menanam sumber pangan bagi keluarga.

Aktivis Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan Said Abdullah mengatakan, program ini  sejatinya bukanlah program baru. Kata dia, program ini telah didorong pemerintah sejak era orde baru. Namun demikian, kata Said, program ini sangat potensial. Pasalnya, luas total pekarangan di seluruh nusantara mencapai 10,3 juta hektar atau sekira 14 persen dari total luas lahan di Indonesia.

Jumlah tersebut kata dia sangat butuh perhatian dari pemerintah. apsalnya, dengan laju pertumbuhan penduduk yang kian kencang, maka kebutuhan akan pangan makin berlipat.

"Bila laju pertumbuhan penduduk 1,3 persen per tahun artinya kita mesti melipatgandakan jumlah produksi pangan kita," ujar Said.

Secara termonologi, menurut Said Abdullah, pekarangan berasal daari kata "karang" yang berarti keras.

"Dahulu di daerah jawa masyarakat bisa menanam tanaman keras di halamannya sehingga disebutlah pekarangan," imbuhnya.

Said menambahkan,fungsi utama pekarangan pada masa lalu adalah sebagai penyimpan cadangan makanan dan pemenuhan gizi masyarakat. Setelah masa orde baru, fungsi pekarangan mulai berubah seiring dengan gaya hidup kelas menengah.

"Para pemilik pekarangan menanam tanaman yang laku secara ekonomi untuk memenuhi gaya hidup kaum menengah," kata Said.

Setelah itu menurutnya fungsi pekarangan bukan lagi sebagai penyimpan cadangan pangan namun sebagai sumber ekonomi masyarakat.

"Celakanya, kini bahkan pekarangan dipandang sebagai lahan tidak produktif," kata Said Abdullah.

Agar program KRPL dapat bertahan lama, kata Said Abdullah pemerintah perlu menggarapnya dengan serius.

"Dulu program diversifikasi pangan pada medio 70-an gagal karena tidak dirancang untuk jangka panjang," kata Said.

Selain itu, menurutnya program KRPL juga harus digarap oleh multisektor yaitu antar kementerian, antar lembaga. Dia menambahkan, yang tidak kalah penting adalah implementasi program ini tidak boleh disamaratakan di seluruh daerah.

"Sebab program pemenuhan pangan itu harus berasas kelokalan," kata dia.

Program KRPL harus disesuaikan dengan kondisi geografis dan kultural serta daya dukung lingkungan.

“Sebab tidak semua wilayah punya tingkat kesuburan yang sama," kata dia.

Peran pemerintah daerah sangat diperlukan dalam mengimplementasikan program ini. Sebab, program ini menyasar hingga tingkat keluarga. Namun sayangnya, menurut Said hingga saat ini kebanyakan Pemda tidak menunjukkan perhatiannya.

"Indikatornya dari maraknya konversi lahan pertanian menjadi lahan hunian," kata dia.

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Niatan Berantas Intoleransi di Lingkungan Pendidikan

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11