Embrio Pertahanan untuk Siber Harus Dimulai dari Kampus

KBR68H, Jakarta - Kemhan menggandeng beberapa kalangan yang ahli di bidangnya untuk mengatasi serangan siber.

BERITA

Kamis, 30 Mei 2013 13:01 WIB

Author

Doddy Rosadi

Embrio Pertahanan untuk Siber Harus Dimulai dari Kampus

pertahanan siber, kampus, cyber army

KBR68H, Jakarta - Kemhan menggandeng beberapa kalangan yang ahli di bidangnya untuk mengatasi serangan siber. Misalnya Kamis lalu diadakan Cyber Defense Contest yang diikuti ahli IT di Indonesia. Serangan digital yang diantisipasi Kemhan adalah ancaman yang dianggap membahayakan negara. Jika serangan itu gangguannya tidak mengganggu kedaulatan kita, maka kita serahkan kepada kepolisian untuk menangani. Sejauh apa keseriusan pemerintah dalam memerangi kejahatan siber ini? Simak perbincangan penyiar KBR68H Agus Luqman dan Rumondang Nainggolan dengan Pendiri Akademi CSIRT (Computer Security Incident Response Team) IGN Mantra dalam program Sarapan Pagi.

Beberapa waktu lalu ada cyber army contest, responnya bagaimana?

Kalau saya lihat cukup banyak pesertanya sekitar 30 tim mereka berkumpul di Medan.

Kementerian Pertahanan sudah mengisyaratkan akan membentuk desk atau komando cyber army. Sejauh mana anda melihat keseriusan pemerintah terhadap potensi cyber army di Indonesia?

Saya lihat mungkin mengikuti negara-negara lain yang sudah mulai bergerak ke cyber defense. Kalau Amerika sudah lama, kemudian menandingi yang besar seperti Cina, saat ini di Asia saya lihat Vietnam yang agresif.
 
Dari sejumlah negara itu Indonesia bisa belajar dari negara mana untuk keseriusan dan kesiapannya?

Kembali lagi saya melihatnya regulasi dan anggaran. Kalau pemerintah melihat itu sebagai proyek ya repot, tapi kalau itu sebagai inisiatif untuk masa depan ya bagus sekali. Karena itu melindungi potensi pertahanan kita, apalagi sekarang yang namanya cyber space atau dunia maya sangat lebar untuk mereka bisa masuk dan keluar seenaknya.

Apakah jaringan keamanan Indonesia di dunia maya masih rapuh?

Iya jelas. Kita mungkin masih berdoa supaya tidak ada serangan besar-besaran ke Indonesia, bandingkan dengan Malaysia yang sudah sangat concern di bidang keamanan informasi, kita masih tambal sulam melihatnya.

Kalau begitu jika Kementerian Pertahanan berencana membentuk pasukan cyber ini menurut anda apa yang harus dipersiapkan pemerintah?

Saya melihatnya harus ada perencanaan. Kalau perencanaannya sekilas atau tidak memikirkan untuk 3-5 tahun ke depan saya pikir nanti seperti kontes saja, setelah kontes selesai. Ini kurang bagus kalau ingin mempertahankan supaya ada namanya pasukan cyber. Seperti Amerika mereka sudah melakukan perencanaan, koordinasi, integrasi, sinkronisasi sampai dia membuat pasukan cyber jumlahnya lebih dari 30 ribu, apalagi Cina yang sudah sangat siap kalau perang cyber ya silahkan. Kalau Cina saya melihat yang terdeteksi sudah lebih dari 1 juta tentara cyber.

Sebetulnya potensi serangan terhadap Indonesia dari dunia maya seperti apa?

Misalnya kita ketergantungan bank. Kalau ekonomi kita diganggu oleh para pasukan cyber yang ingin menyerang negara kita dimatiin semua transaksi semua ekonomi kita apa yang terjadi, misalnya ATM dimatikan seminggu kita tidak bisa ambil uang, tidak bisa transaksi, kemudian kelapiran, saling rush, dan sebagainya. Karena transaksi elektronik itu celah untuk bisa diganggu. Apalagi sistem radar kita lemah, kalau itu dimatikan listriknya dari jarak jauh, semua bandara di Indonesia diganggu apa yang terjadi.
 
Apakah SDM kita bisa bersaing dengan negara-negara lain?

Saya beberapa kali mengadakan seminar dan melakukan kontes sebenarnya cukup banyak tapi masih kurang banyak. Karena kebanyakan anak-anak ini otodidak, tidak melalui pendidikan yang terstruktur, tidak melalui perencanaan. Contoh seperti kemarin situs kepresidenan di-hack, itu anak berpotensial tapi tidak terarah.

Tidak masuk dalam satu institusi pendidikan yang resmi ya?

Iya tidak ada pendidikan yang khusus menangani tentang cyber defense. Katakanlah di kita ada Universitas Pertahanan itu isinya para tentara yang belajar tentang pertahanan, tapi untuk belajar yang cyber defense ini sangat sedikit. Apalagi yang ofensif itu jauh sekali, kalau dirasiokan jumlah penduduk dengan yang mengerti internet jauh sekali.

Kira-kira berapa?

Satu persenpun dari penduduk kita sangat tidak sampai.

Itu makanya anda membentuk Akademi CISRT (Computer Security Incident Response Team)?

Iya. Saya juga kerjasama dengan beberapa kampus supaya setiap kampus memiliki incident response team kalau itu embrio untuk pertahanan cyber di masing-masing kampus. Jadi kalau diperlukan negara bisa langsung diambil, itu misinya. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Bagaimana Kinerja KPK Setelah Komisioner Kembalikan Mandat?

Kabar Baru Jam 11