Gempa Malang, Pengungsi Butuh Bantuan Makanan

"Sampai sekarang tak ada makanan. Di rumah tak ada air, tak bisa masak. Takut."

BERITA | NUSANTARA

Senin, 12 Apr 2021 21:42 WIB

Author

Eko Widianto

Gempa Malang, Pengungsi Butuh Bantuan Makanan

Sejumlah anak bermain di sekitar bangunan yang rusak akibat gempa di Malang, Jawa Timur, Minggu (11/4/2021). (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

KBR, Malang - Lebih dari 780 warga di Kabupaten Malang mengungsi pascagempa melanda wilayah itu pada Sabtu (10/4/2021) lalu.

Para pengungsi tersebar di lima titik di Kecamatan Dampit dan Ampelgading.

Pemerintah daerah menyediakan dapur umum untuk kebutuhan pangan para pengungsi. Dapur umum disiapkan di tiap balai desa. Di Balai Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, dapur umum melayani sekitar 500 orang pengungsi dan relawan.

Kepala bidang Penanggulangan Bencana Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang Yafan Supriyadi mengatakan ada sekitar 30 relawan di dapur umum, guna menyiapkan makan pengungsi dua kali sehari.

"Sejauh ini ada sekitar 2.050 bungkus makanan disalurkan ke pengungsi. Kita melayani dua kali makan. Sekitar 500-an orang, sesuai permintaan di lapangan," kata Yafan.

Yafan menambahkan korban gempa saat ini masih membutuhkan bahan makanan, susu dan makanan bayi. Selain itu, pengungsi juga membutuhkan terpal dan selimut.

BPBD Kabupaten Malang mencatat gempa pada Sabtu lalu menyebabkan sekitar 2.364 rumah dan bangunan rusak. Sekitar 600-an rumah rusak berat. Kerusakan juga terjadi pada 160-an sekolah, 40-an rumah ibadah dan sekitar sembilan fasilitas kesehatan.

Butuh bahan pangan

Sementara itu, para pengungsi mengeluhkan minimnya stok pangan dan kebutuhan lain. Termasuk terpal, selimut dan susu bayi.

Salah seorang pengungsi korban gempa di Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Umbar Iswahyuti mengatakan stok pangan menipis. Sementara warga sedang bersiap menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Iswahyuti mengatakan saat ini sebagian warga mengungsi di tenda pengungsian. Sebagian lain menumpang di rumah tetangga yang masih layak huni. Di Desa Majangtengah, ada sekitar 25 rumah rusak berat.

"Sampai sekarang tak ada makanan. Di rumah tak ada air, tak bisa masak. Takut. Juga tak ada bahan makanan. Di rumah juga kayak gini, takut ada gempa susulan," kata Iswahyuti.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Tanda Kekuasaan Allah di Mesir

Siapa Nama Firaun pada Masa Nabi Musa

Kabar Baru Jam 7

Prokes Buat Objek Wisata, Mungkin Diterapkan?

Surat At-Tin: Ayat-ayat Berupa Fakta Arkeologi