The Great Lockdown: Krisis Ekonomi Global akibat Covid-19

"Kita sudah punya jaring pengaman keuangan global yang lebih kuat, dengan IMF sebagai pusatnya," kata IMF.

BERITA | INTERNASIONAL

Jumat, 17 Apr 2020 14:37 WIB

Author

Adi Ahdiat

The Great Lockdown: Krisis Ekonomi Global akibat Covid-19

Peta sebaran kasus Covid-19 di skala global, Jumat (17/4/2020). (Johns Hopkins University)

KBR, Jakarta - Pandemi Covid-19 memaksa negara-negara dunia menerapkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah demi memutus rantai penularan virus.

Tapi, yang terdampak bukan hanya virus. Kebijakan itu juga membuat banyak kegiatan produksi dan konsumsi terhenti, hingga rawan menimbulkan krisis ekonomi global.

International Monetary Fund (IMF) menyebut masa krisis ini sebagai The Great Lockdown atau masa Karantina Besar.

"The Great Lockdown diproyeksikan akan menciutkan pertumbuhan ekonomi global secara dramatis," kata IMF dalam laporan World Economic Outlook 2020: The Great Lockdown yang dirilis Selasa (14/4/2020).


Pertumbuhan Ekonomi Global -3 Persen, Produksi Barang dan Jasa Merosot Jauh 

IMF mencatat pada tahun 2019 pertumbuhan ekonomi global adalah plus 2,9 persen.

Namun, gara-gara Karantina Besar ini, pertumbuhan ekonomi global sepanjang 2020 diproyeksikan anjlok menjadi minus 3 persen.

Sederhananya, angka-angka itu menunjukkan bahwa kapasitas produksi barang dan jasa di seluruh dunia akan merosot jauh, yang tentu akan berimbas pada hilangnya penghasilan masyarakat.

"Pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih buruk mungkin saja terjadi jika pandemi dan penerapan karantina berlangsung lebih lama," kata IMF dalam laporannya.

"Negara ekonomi berkembang bisa lebih terpukul lagi karena penutupan perusahaan yang diperpanjang dan bertambahnya pengangguran," lanjut IMF.


Solusi: Pinjaman Uang dan Kerja Sama Internasional

IMF menilai The Great Lockdown bakal memunculkan situasi yang lebih sulit dari The Great Depression atau masa Depresi Besar.

Depresi Besar adalah krisis ekonomi akibat kejatuhan pasar saham Amerika Serikat tahun 1930-an. Krisis di masa itu membuat banyak perusahaan besar bangkrut, hingga masyarakat di berbagai negara ikut terdampak dan kehilangan pekerjaan.

Tapi, sekarang kondisi sudah berubah jauh. IMF optimis krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 bisa lebih diantisipasi.

"Ketika ekonomi dunia menghadapi Depresi Besar tahun 1930-an, tidak ada lembaga pemberi pinjaman uang antarnegara," kata IMF. 

"Perbedaan penting dengan krisis saat ini (pandemi Covid-19), kita sudah punya jaring pengaman keuangan global yang lebih kuat, dengan IMF sebagai pusatnya. IMF sudah secara aktif membantu negara-negara rentan," lanjutnya.

Selain lewat pinjaman uang, IMF optimis krisis akibat Covid-19 bisa dihadapi dengan kerja sama internasional di bidang teknologi dan kesehatan.

"Negara-negara sangat butuh kerja sama untuk memperlambat penyebaran virus dan mengembangkan vaksin. Selama penularan masih terjadi, tidak ada negara yang aman dari pandemi sampai intervensi medis (vaksin) itu tersedia," lanjutnya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Dorong Penggunaan Medis, PBB Hapus Ganja dari Daftar Narkotika Paling Berbahaya

Liburan di Rumah Aja! #coronamasihada

Eps9. Bijak Energi

Menanti Nasib Ekspor Benur

Kabar Baru Jam 7