Serikat Pekerja Tolak Penundaan THR

"Kalau buruh haknya tidak diberikan ya makin sulit lagi. Sementara pengusaha sudah mendapatkan banyak insentif dari pemerintah, misalnya potongan pajak, kemudahan impor," kata perwakilan KSPI.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 29 Apr 2020 20:26 WIB

Author

Valda Kustarini, Adi Ahdiat

Serikat Pekerja Tolak Penundaan THR

Ilustrasi: THR buruh.

KBR, Bogor - Serikat pekerja menolak sikap Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang membolehkan penundaan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) berdasar kesepakatan.

Penolakan ini disampaikan Ketua Departemen Komunikasi dan Media Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Kahar S. Cahyono. Ia menegaskan pembayaran THR harusnya dilakukan sesuai Permenaker No. 6/2016.

"Harusnya aturan itu ditegakkan, jadi ada sikap tegas dari pemerintah untuk perusahaan agar mematuhi ketentuan tentang THR," kata Kahar saat dihubungi KBR, Rabu (29/4/2020).

"Ketentuan THR itu kan dibayarkan H-7 sebelum hari raya, jadi 7 hari sebelum hari raya harus dibayarkan. Kalau dicicil kemudian ditunda, tidak dibayarkan sepenuhnya, maka bukan THR lagi, karena THR ini ditunjukan untuk buruh dalam merayakan hari raya."

"Salah dalam hal ini Kemnaker menyetujui adanya penundaan membayar THR dengan cara mencicil, karena ini akan menjadi alasan perusahan yang mampu untuk melakukan hal yang sama," kata Kahar lagi.

Berita Terkait:

Ketua Departemen Komunikasi dan Media KSPI Kahar S. Cahyno menilai situasi ini bisa saja dimanfaatkan 'perusahaan nakal' yang sengaja menunda pembayaran THR dengan dalih pandemi.

"Kesulitan para buruh ini jangan diabaikan, kalau buruh haknya tidak diberikan ya makin sulit lagi. Sementara pengusaha sudah mendapatkan banyak insentif dari pemerintah, misalnya potongan pajak, kemudahan impor," kata Kahar.

"Buruh yang  diharapkan itu dari upahnya, karena buruh tidak mendapatkan bansos dan bantuan yang lain. kalau THR dipotong akan semakin terpuruk," tandasnya lagi.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Pemkot Solo Tak Mau Ambil Resiko Buka Aktifitas Pendidikan Saat Masih Pandemi

Realita Belajar dari Rumah di Daerah Terpencil

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Duterte Larang Pelajar Kembali Bersekolah Hingga Vaksin Corona Ditemukan