Pandemi Corona, Pakar Matematika UNS Prediksi Puncak Pada Mei

"Jumlah orang yang terinfeksi itu mulai dari 2 mendatar sampai kemudian naik, dan puncaknya di tanggal 11 Mei itu,"

BERITA | NASIONAL

Selasa, 07 Apr 2020 09:29 WIB

Author

Valda Kustarini

Pandemi Corona, Pakar Matematika UNS Prediksi Puncak Pada Mei

Warga beraktifitas di Jalan Cempaka Putih, Jakarta, Senin (6/4/2020).(Antara/Risyal Hidayat)

KBR, Bogor-  Pakar matematika Universitas Sebelas Maret (UNS) Sutanto Sastraredja memprediksi puncak penyebaran virus covid-19 di Indonesia akan terjadi pada  Mei. Hal ini berdasarkan penghitungan menggunakan persamaan diferensial berdasarkan dinamika populasi dengan model SIQR (Suspectible, Infected, Quaratine, Recovery). 

Menurut Sutanto, prediksi ini bisa terjadi jika keadaan penanganan virus covid-19 tidak berubah selama 100 hari. Dalam teorinya, ia membuat batasan waktu mulai dari 2 Maret hingga 10 Juni.

"Hasilnya, setelah saya masukan data-data sejak tanggal 2-22 Maret, saya menggunakan data itu. Maka akhirnya saya punya sebuah grafik jumlah orang yang terinfeksi itu mulai dari 2 mendatar sampai kemudian naik, dan puncaknya di tanggal 11 Mei itu," kata Sutanto Sastraredja pada KBR, Senin (6/4/2020).

Dalam teorinya, virus covid-19 bisa hilang tergantung pada parameter alpha dan beta. Alpha adalah laju karantina dari pasien yang sudah terinfeksi, sedangkan beta adalah laju kontak dari kelompok  rentan.  Jika, laju karantina diperbesar dan laju kontak diperkecil maka virus corona bisa hilang lebih cepat. Namun, jika laju kontak lebih besar daripada laju karantina maka pada  10 Juni virus corona belum selesai di Indonesia.

"Seperti sekarang, kondisi seperti ini, kalau diterus-teruskan orang masih kontak sedemikian rupa itu betanya masih besar, sementara orang-orang yang benar-benar sudah terverifikasi terindentifikasi tapi belum dikarantina. Maka pada tanggal 10 Juni Indonesia belum bebas dari virus corona," ujarnya.

Susanto merekomendasikan  Pemerintah harus segera melakukan rapid test untuk mengetahui individu yang terinfeksi dan yang sehat. Kemudian kelompok yang terinfeksi tersebut dipisahkan ke rumah sakit rujukan atau wisma atlet Kemayoran untuk kemudian diisolasi. 

Kata dia, yang sehat dibatasi pergerakkannya, sehingga bisa memperbesar laju Alpha. Kemudian lengkah selanjutnya yaitu menekan orang yang masih sehat untuk tetap di rumah sehingga bisa menekan laju Beta. 

Skenario Risiko

Gugus Tugas Covid-19 bersama Badan Intelijen Negara (BIN) telah membuat skenario risiko dan kerentanan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Dalam rapat virtual dengan DPR, Senin (6/4/2020), Ketua Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo menyebut puncak pandemi di Indonesia akan terjadi pada Mei 2020.

Doni memperkirakan nantinya jumlah kasus positif Covid-19 di dalam negeri bisa mencapai lebih dari 100.000. Sekitar 49 persennya diprediksi akan muncul di Pulau Jawa.

Berita Terkait: Covid-19 Menginfeksi Satu Juta Orang, Naik 10 Kali Lipat dalam Sebulan

Menurut Ketua Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia bisa saja ditekan asalkan ada langkah pencegahan ketat.

"Ini adalah permodelan, bukan hanya dari BIN tapi juga dari sumber lain di dalam dan luar negeri. Permodelan ini akan bisa kita kurangi bahkan lebih dari 50 persen mana kala kita memiliki tingkat disiplin untuk menyelenggarakan social distancing dan physical distancing," kata Doni di rapat tersebut.

Sampai Senin (6/4/2020) jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 2.491 orang. Sebanyak 192 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh, sedangkan 209 orang meninggal. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Memotret Realitas Pekerja Migran lewat Dokumenter

Soal Cegah Arus Balik

Kabar Baru Jam 10

Pemkot Solo Susun Protokol Kesehatan Menuju New Normal