Kelangkaan Reagen Hambat Uji Covid-19 di Indonesia

"Kalau reagennya terhambat itu jumlah sample yang diperiksa setiap hari berkurang. Dari target yang diminta oleh presiden 10.000 per hari di Indonesia. jadi harus dipastikan jumlah supply reagennya"

BERITA | NASIONAL

Rabu, 22 Apr 2020 20:31 WIB

Author

Lea Citra, valda kustarini

Kelangkaan Reagen Hambat Uji Covid-19 di Indonesia

ilustrasi rapid test

KBR, Bogor- Lembaga Biomolekuler Eijkman menyebut, kelangkaan reagen dapat menghambat uji laboratorium pemeriksaan Covid-19. 

Menurut Kepala Lembaga Biomolekuler Eijkman, Amin Soebandrio, saat ini stok reagen di Laboratorium Eijkman hanya sampai 2 hingga 3 minggu ke depan. Padahal idealnya, harus dilakukan pengujian spesimen setiap hari.

"Ya dengan sendirinya kalau reagennya terhambat itu jumlah sample yang diperiksa setiap hari berkurang. Dari target yang diminta oleh presiden 10.000 per hari di seluruh Indonesia, jadi harus dipastikan jumlah supply reagennya," kata Amin Soenbandrio saat dihubungi KBR, Rabu (22/04/2020).

Amin mengatakan, meski dengan reagen yang terbatas Laboratorium Eijkman tidak membatasi pengujian setiap harinya. 

Ia bahkan menyebut Eijkman pernah menerima spesimen sebanyak 600 spesimen dalam satu hari. 

Untuk mengantisipasi kekurangan reagen, Eijkman telah memesannya ke vendor penyedia reagen di Eropa dan Amerika Serikat. Apalagi saat ini, kelangkaan reagen tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

"Minta semua vendor yang biasa mensuplai ke Eijkman untuk bisa menjamin suplainya. Memang tidak bisa beli dalam jumlah besar sekaligus tapi bertahap tiap minggu kita pastikan ordernya bisa dibuat," ujarnya.

Untuk mengantisipasi kelangkaan ini, Amin menyebut, saat ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengembangkan kit pemeriksaan covid-19. 

Ia mengatakan dalam waktu beberapa minggu ke depan kit itu sudah bisa diproduksi.

"BPPT sedang berupaya membuat alatnya sendiri, tapi juga beberapa reagen masih tergantung sama impor. Tapi mudah-mudahan itu bisa membantu (persediaan) reagen dalam negeri," kata Amin.

Epidemiolog Ragukan Target Tes Covid-19 dari Pemerintah

Sementara itu, Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono meragukan pencapaian target tes Covid-19 10.000 perhari. 

Pandu menyesalkan penyediaan reagen dan angka target tidak seimbang. Ia menyayangkan keterlambatan pemeirntah mengadakan reagen di Indonesia.

"Kekosongan reagen di beberapa provinsi yang, sehingga mereka tidak bisa memberikan layanan tes. Jadi kembali ke layanan tes yang sedia kala gitu. Ini yang menjadi problem. Dan mencari reagen ini dari sumber-sumber tidak satu saja gitu. Apakah mungkin juga dibantu internasional dari Australi, atau mungkin minta bantuan dari beberapa negara yang masih punya kelebihan reagen," kata Pandu.

Pandu melanjutkan, pemerintah seharusnya lebih serius mengeksekusi target tersebut. Saat ini Indonesia memerlukan ratusan ribu rapid test perhari.

Pandu pun menyarankan pemerintah menggenjot produksi reagen dalam negeri. Sebab negara-negara di dunia pun memerlukan reagen. 

"Pemerintah seharusnya mematangkan segala rencana produksi dan penyediaan reagen di Indonesia," pungkasnya.

Sebelumnya, Pemerintah menyebut laboratorium pemeriksaan Covid-19 kekurangan dan berhenti beroperasi karena kehabisan reagen. 

Juru bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan impor reagen dari luar negeri belum datang. 

Ia mengklaim pemerintah akan segera mendistribusikan reagen, begitu impor sampai ke Tanah Air.

Yurianto mengatakan, hingga Rabu (22/4/2020), sebanyak 55.732 spesimen telah diperiksa dari 47.361 kasus. Dari pemeriksaan itu, sebanyak 39.943 orang negatif Covid-19.

Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mengusung Pilkada yang Sehat dan Berkualitas