Imbauan Ibadah di Rumah Belum Efektif

Banyak warga masih menggelar salat jemaah di masjid

BERITA | NASIONAL

Selasa, 28 Apr 2020 02:45 WIB

Author

Alfath Asmunda, Valda Kustarini, Lea Citra, Astri Yuana Sari

Imbauan Ibadah di Rumah Belum Efektif

Warga melaksanakan salat tarawih pertama, Kamis (23/4/2020) tanpa pembatasan jarak di Masjid Islamic, Lhokseumawe, Aceh. ANT/Rahmad

KBR, Jakarta- Imbauan ibadah di rumah selama Ramadan terbukti belum efektif. Warga di banyak daerah masih menyelenggarakan salat berjemaah di masjid. 

Di Lhokseumawe, Aceh, pemerintah kota juga tak melarang salat tarawih di masjid. Meski begitu, Sekda Lhokseumawe, Teuku Adnan mengklaim mereka tetap memberlakukan pembatasan ketat selama ibadah berlangsung.

"Yang paling penting jaraknya diatur. Kita sudah terapkan 50 sentimeter minimal. Tiap jemaah wajib pakai masker. Kemudian sebelum masuk masjid cuci tangan lah pakai sabun. Lanjut saja salat jemaah seperti biasa," ujar Adnan kepada KBR.

Adnan berujar aturan pembatasan itu baru diberlakukan di masjid-masjid besar atau yang kerap disinggahi pendatang. 

"Masjid-masjid dulu yang besar seperti Islamic Center, Jami', Baiturrahman, masjid-masjid di pinggir yang disinggahi orang-orang pendatang. Karena kita kan nggak tahu, yang mana orang datang, orang dari luar," lanjutnya. 

Namun, tarawih pertama di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Kamis (23/4/2020), terpantau tidak ada pembatasan jarak dalam barisan jemaah. 

Hasan Basri, seorang jemaah menyebut, tarawih Ramadan kali ini sangat sepi, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang sampai puluhan ribu orang. Hasan tetap ikut salat jemaah, walau ada rasa khawatir tertular virus Corona. 

"Apalagi di antara ramai-ramai begini, kita tidak tahu ada yang dari mana. Saya sendiri ada sedikit merasa takut. Tapi yang penting kita jangan bersentuhan dengan orang lain," ujar Hasan. 

Bergeser ke Kabupaten Bogor, Jawa Barat, situasi kurang lebih sama juga bisa ditemukan di wilayah Ciomas. Warga setempat, Ahmad Farhan mengatakan masih melaksanakan salat tarawih berjemaah di masjid. 

"Selama masjidnya masih dibuka, ya sudah, ke masjid saja. Karena kan sayang juga kalau salat di rumah. Kalau di masjid kan pahalanya lebih besar. Kita dapat pahala iktikaf, pahala berjemaah di masjid dan lain-lain," ungkap Farhan. 

Menurutnya, jumlah jemaah yang hadir pada Ramdan kali ini berkurang drastis. Ini lantaran perempuan dan anak-anak dilarang ikut. 

Jemaah juga melakukan pembatasan jarak dalam barisan salat. Namun, tidak ada aturan baku. Penerapannya diserahkan kepada masing-masing jemaah.

"Masalah saf itu tergantung kesadaran sendiri. Ada yang kasih jaraknya lumayan jauh sampai satu meter sesuai dengan anjuran. Tapi ada juga sekedarnya saja, tidak sampai satu meter. Paling cuma satu jengkal ada lah," lanjutnya.

Farhan menyebut warga sekitarnya memang cenderung santai dalam menyikapi wabah Corona. Alhasil, kepatuhan terhadap protokol kesehatan cenderung rendah. 

"Karena mungkin di sini juga kita kondisinya suasananya kayak biasa aja. Kalau di tempat lain kan mungkin benar-benar kondisinya lengang. Kalau di sini, ya masih seperti biasa aja. Jadi kita walaupun di berita ramai ada Covid, tapi di lingkungan sini, seperti tidak ada Covid," kata Farhan. 

Situasi berbeda ditemukan sekitar 7 kilometer dari Ciomas. Ratusan warga Kelurahan Margajaya, Kota Bogor bersedia beribadah tarawih di rumah masing-masing. 

Pimpinan pengurus masjid setempat, Suwanto mengatakan tak sulit memberi pemahaman ke warga tentang bahaya penyebaran Covid-19. 

"Sebelum memutuskan ini, kita diskusikan bersama di grup pengurus dewan kemakmuran masjid. Kemudian dengan beberapa orang juga, berdasarkan aturan imbauan dari pemerintah itu. Mereka (warga) menerima putusan itu," ujar Suwanto.

Pengurus masjid berinisiatif menggelar pengajian virtual selepas Salat Subuh. Program ini sebagai pengganti pengajian yang sebelumnya rutin dilakukan di masjid. 

"Kendala sampai saat ini alhamdulillah tidak ada, lancar saja. Jemaah dibagikan tautan pengajian live streaming ini, sehingga tinggal meng-klik saja. Misalkan ada yang belum bisa, kami pandu dengan tutorial lewat grup WhatsApp," tutur dia. 

Sementara itu, pemerintah berulang kali mengimbau warga beribadah di rumah selama Ramadan guna memutus rantai penyebaran Covid-19. 

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD meminta pemerintah daerah dan tokoh masyarakat membantu memberikan pemahaman kepada khalayak.

"Tarawih itu sifatnya sunnah sedangkan menghindari penyakit itu sifatnya wajib. Haram kalau kita melawan penyakit yang sudah jelas-jelas cara bekerjanya penyakit seperti itu, kok masih didatangi hanya karena keperluan yang sunnah," ujar Mahfud dalam telekonferensi yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (25/4/2020).

Cendekiawan muslim, Quraish Shihab juga mengajak masyarakat menaati imbauan pemerintah untuk beribadah di rumah. Menurutnya, anjuran itu tidak bertentangan dengan agama.

"Nabi Muhammad hanya melakukannya (tarawih di masjid) tiga kali, tiga malam berturut-turut. Setelah itu beliau melaksanakannya di rumah. Itu demikian, kalau kita tidak ke masjid, itu tidak ada masalah. Bahkan kita bisa berkata, kalau kita salat di rumah, itu justru meneladani Rasul SAW yang salat di rumah," 

"Jadi adalah kewajiban setiap warga untuk mengikuti kebijakan pemerintah yang didukung oleh para ahli. Sehingga bisa dikatakan berdosa lah mereka yang melanggar ketetapan-ketetapan itu. Karena apa yang ditentukan itu tidak bertentangan dengan ajaran agama dan hidup kita," jelas eks-Menteri Agama ini. 

Editor: Ninik Yuniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Malaysia Mulai Terapkan Biaya Karantina Semua WNA Rp16 Juta

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17