Data PHK Simpang Siur, Kemnaker Akhirnya Benarkan Data Gugus Tugas

"Jadi data terakhir itu 1,6 juta, saya buka catatannya 1,6 juta itu baik ter-PHK maupun dirumahkan. Baik sektor formal maupun sektor informal, totalnya ada, angka kemarin 1,6 juta."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 16 Apr 2020 14:24 WIB

Author

Resky Novianto, Adi Ahdiat

Data PHK Simpang Siur, Kemnaker Akhirnya Benarkan Data Gugus Tugas

Ilustrasi: Pegawai hotel, salah satu kelompok pekerja yang sangat rentan kena PHK atau dirumahkan akibat Covid-19. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Data karyawan yang kena PHK dan dirumahkan akibat pandemi Covid-19 simpang siur.

Pada Senin (13/4/2020) Ketua Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo menyebut jumlah total pekerja yang terdampak itu ada sekitar 1,6 juta orang.

Pada Selasa (14/4/2020) perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyebut jumlahnya ada sekitar 2,8 juta orang.

Kemudian pada Kamis (16/4/2020), perwakilan Kemnaker meralat laporannya, hingga hasilnya menjadi sama dengan laporan Gugus Tugas.

"Jadi data terakhir itu 1,6 juta, saya buka catatannya 1,6 juta itu baik ter-PHK maupun dirumahkan. Baik sektor formal maupun sektor informal, totalnya ada, angka kemarin 1,6 juta," kata juru bicara Kemnaker Soes Hindharno saat dihubungi KBR, Kamis (16/4/2020).


Pengangguran Diprediksi Terus Bertambah

Di kesempatan terpisah, peneliti dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Akhmad Akbar Susamto memprediksi jumlah pengangguran akan terus meningkat.

“Dalam beberapa pekan terakhir gelombang PHK semakin merebak di sejumlah sektor seperti manufaktur, pariwisata, transportasi, perdagangan, konstruksi, dan lain-lain,” kata Akhmad dalam siaran persnya yang dilansir Antara, Rabu (15/4/2020).

Akbar memperkirakan, jumlah orang yang kena PHK dan dirumahkan akibat Covid-19 bisa mencapai kisaran 4-9 juta orang, tergantung keparahan penyebaran Covid-19 dalam beberapa bulan ke depan.

"Lapangan usaha yang diasumsikan mengalami dampak paling parah adalah penyedia akomodasi, transportasi, makanan dan minuman, pergudangan, serta perdagangan baik berskala besar maupun eceran," katanya.

"Sementara jika dilihat dari sisi wilayah, diasumsikan bahwa DKI Jakarta akan mengalami dampak paling parah, kemudian Jawa Barat, dan provinsi lain di Jawa dengan perkiraan dampak pandemi Covid-19 lebih besar di perkotaan dibandingkan di perdesaan," katanya lagi.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Malaysia Mulai Terapkan Biaya Karantina Semua WNA Rp16 Juta

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17