Di Ukraina, Pelawak Jadi Presiden

Setelah resmi dilantik, ia akan mewarisi persoalan konflik militer dengan kelompok separatis, serta masalah pencaplokan wilayah Ukraina oleh Rusia.

RUANG PUBLIK | BERITA | INTERNASIONAL

Senin, 22 Apr 2019 19:21 WIB

Author

Adi Ahdiat

Di Ukraina, Pelawak Jadi Presiden

Volodymyr Zelensky, mantan bintang drama satir yang terpilih menjadi presiden (Foto: ANTARA/REUTERS/Valentyn Ogirenko/cfo).

Komedian Ukraina, Volodymyr Zelensky, berhasil meraih mayoritas suara dalam Pilpres Ukraina yang tengah berlangsung (22/4/2019).

Menurut laporan BBC.com, saat ini hampir semua surat suara di Ukraina telah selesai dihitung dan Zelensky mendapat perolehan suara sekitar 73 persen.

Petro Poroshenko, capres petahana yang menjadi lawannya, sudah mengakui kekalahan sejak exit poll pertama kali diumumkan.


Pernah Membintangi Serial “Pelayan Rakyat”

Sebelum menjadi capres, Zelensky terkenal sebagai bintang drama satir berjudul Servant of the People atau Pelayan Rakyat yang sudah tayang sejak empat tahun lalu.

Dalam serial tersebut ia memainkan peran sebagai guru yang tak sengaja terpilih menjadi presiden, setelah videonya yang berisi ocehan soal korupsi jadi viral di media sosial.

Di kehidupan nyata Zelensky memiliki perusahaan entertainment yang ditaksir bernilai hingga sepuluh juta dolar. Meski begitu ia tak memiliki pengalaman atau rekam jejak di dunia politik.

Menariknya, dalam wawancara dengan NBCnews.com, Dmitry Razumkov selaku penasihat Zelensky mengatakan bahwa presiden tak harus punya pengalaman politik.

“Anda tidak perlu pengalaman apapun untuk melakukan itu (jadi presiden). Anda hanya perlu jadi manusia yang baik,” ujar Razumkov (22/2/2019).


Mewarisi Konflik Militer

Meski Zelensky mampu memenangkan hati mayoritas pemilih, ada banyak juga keraguan yang ditujukan bagi dirinya, terutama dari kalangan pakar dan pengamat politik.

Melinda Haring, seorang peneliti dari Foreign Policy Research Institute, meragukan bahwa Zelensky bisa membangun koalisi parlemen di partai.

Dalam wawancara dengan CNN.com, Melinda Haring menyebut, "Bagi Zelensky, menang adalah bagian yang mudah. ​​Bagian yang sulit adalah membangun koalisi partai di parlemen untuk membantunya menyelesaikan tugasnya, atau pemerintahannya tidak akan berhasil,” ujarnya.

Di samping menghadapi politik parlemen, Zelensky juga akan mewarisi persoalan konflik militer antara negara Ukraina dengan kelompok separatis yang telah menewaskan sekitar 13.000 orang sejak tahun 2014 lalu.

Ia juga mewarisi masalah korupsi di tubuh pemerintahan, serta pencaplokan wilayah Ukraina oleh Rusia.

Terlepas dari mampu atau tidaknya Zelensky menghadapi berbagai masalah warisan itu, pemerintah Uni Eropa (UE) telah menyatakan dukungan penuh bagi kepemimpinan Zelensky.

Pada 22 April 2019, Presiden Komisi UE, Jean-Claude Juncker, mengirim surat ucapan selamat kepada Zelensky.

Sebagaimana dikutip oleh REFRL.org, surat tersebut berisi pernyataan yang berbunyi, "Ini adalah pencapaian besar dalam lingkungan politik, ekonomi, dan keamanan yang kompleks, dengan latar belakang tantangan terus-menerus terhadap integritas wilayah Ukraina," sebut Juncker.

Ia juga menegaskan, "Sebagai presiden Ukraina, Anda dapat mengandalkan dukungan kuat UE untuk jalur reformasi Ukraina. Anda juga dapat mengandalkan dukungan UE yang berkelanjutan dan teguh terhadap kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas teritorial Ukraina," tulisnya.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17