Share This

Rapat Pemegang Saham Rio Tinto, Aktivis Lingkungan Minta Stop Kerusakan di Grasberg

Menurut Pius, sejumlah organisasi pemerhati lingkungan mencatat sejak 1997, ada lebih dari 200 ribu ton ampas penambangan yang dibuang ke sungai setiap harinya.

BERITA , NASIONAL

Kamis, 12 Apr 2018 16:04 WIB

Ilustrasi: kawasan pertambangan Freeport Indonesia. (Foto: Situs Pajak.go.id)

KBR, Jakarta - Perwakilan Perkumpulan Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat, Pius Ginting, meminta perusahaan tambang asal Inggris Rio Tinto menarik diri dari operasi tambang Grasberg, Papua. Hal itu disampaikan saat aktivis lingkungan tersebut menghadiri pertemuan tahunan pemegang saham Rio Tinto di London, Rabu (11/4/2018) lalu.

Pius menyoroti operasi tambang Grasberg yang merusak lingkungan dan disebut kerap melanggar Hak Asasi Manusia. Perbuatan itu dinilai bertentangan dengan komitmen yang digaungkan Rio Tinto terkait pelestarian lingkungan.

"Responnya ini sangat mengkhawatirkan. Karena mereka membuang ke sungai setiap hari. Dia bilang tidak mendukung pembuangan limbah ke sungai. Tapi berdasarkan studi menurut dia tidak alternatif lain yang bisa dilakukan," ujar Pius saat dihubungi KBR, Kamis (12/4/2018).

Menurut Pius, sejumlah organisasi pemerhati lingkungan mencatat sejak 1997, ada lebih dari 200 ribu ton ampas penambangan yang dibuang ke sungai setiap harinya. Akibatnya kawasan di Kabupaten Mimika pun rusak.

Pius juga mengungkapkan pendekatan senjata dan kekerasan yang kerap digunakan oleh aparat keamanan dalam menjaga area tambang. Februari 2018, seorang warga Pulau Karaka ditembak hingga tewas oleh Brimob Polri yang menjaga Tambang Grasberg.

"Chairman mengatakan tidak tahu tentang hal itu. Padahal di laporan yang ditampilkan di website (Rio Tinto), mereka tampak mengontrol semuanya."

Baca juga:

Berulang kali pemerintah Indonesia mengumumkan tengah dalam proses negosiasi untuk membeli 40 persen saham Rio Tinto di Tambang Grasberg. Ini merupakan jalan lain yang ditempuh Indonesia untuk mewujudkan kepemilikan 51 persen saham di Freeport. Pasalnya, Grasberg bukan hanya dikuasai Freeport McMoran, melainkan juga Rio Tinto yang turut memegang kendali 40 persen operasional Freeport Indonesia melalui hak partisipasi atau participating interest.

Akan tetapi, menurut Pius, manajemen Rio Tinto dalam pertemuan tahunan itu justru membantah kabar tersebut. Dia bilang, Rio Tinto menyatakan belum ada rencana menarik diri dari operasi tambang di Grasberg.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.