Menteri Darmin Nasution Masih Bingung Jargon 'Revolusi Mental'

"Saya kadang berpikir Revolusi Mental itu kayak apa? Lalu ada yang membuat nilai-nilai yang harus dianut. Tapi pertanyaannya, caranya bagaimana?" kata Darmin di kantornya, Rabu (5/4/2017).

BERITA | NASIONAL

Rabu, 05 Apr 2017 16:04 WIB

Author

Dian Kurniati

Menteri Darmin Nasution Masih Bingung Jargon 'Revolusi Mental'

Menko Perekonomian Darmin Nasution. (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution masih kebingungan dengan jargon 'Revolusi Mental' yang diluncurkan Presiden Joko Widodo di awal masa pemerintahan, 2014 lalu. Padahal, pemerintahan Jokowi berlangsung sekitar 2,5 tahun.

Darmin mengatkan jargon itu masih sangat abstrak, meski sudah ada yang mencoba menyusun nilai-nilainya. Menurut Darmin, di masa pemerintahan saat ini masih ada beberapa hal yang belum dimulai bahkan belum diketahui cara memulainya.

"Contohnya istilah Revolusi Mental. Dari awal kita sudah mendengar istilah itu, tetapi bagaimana cara menjalankannya, itu belum ada yang merumuskan. Saya kadang berpikir Revolusi Mental itu kayak apa? Lalu ada yang membuat nilai-nilai yang harus dianut. Tapi pertanyaannya, caranya bagaimana?" kata Darmin di kantornya, Rabu (5/4/2017).

Darmin mengatakan, jargon Revolusi Mental belum menjadi metode yang dapat dapat diamalkan dengan mudah oleh masyarakat. Jangankan jargon revolusi mental, kata Darmin, ajaran agama yang sudah jelas tata caranya saja masih belum mampu membuat orang menjadi bagus, seperti yang diharapkan agama tersebut.

Menurut Darmin, yang paling mudah dilaksanakan saat ini adalah mengubah metode kerja selama di kantor. Darmin mengatakan selama dua tahun belakangan ini tak ada perubahan kinerja di lingkungan Kemenko Perekonomian yang ia pimpin.

"Kantor pemerintahan seperti Kemenko Perekonomian ini tidak memerlukan orang dengan intelijensi luar biasa, melainkan cukup tekun, cermat, dan jujur," tambah Darmin.

Darmin menjabarkan 'revolusi mental' bagi para pegawainya dengan tiga kunci, yaitu tekun, cermat dan jujur. Ketekunan, kata Darmin, akan membuat hasil kerja para pegawai terus meningkat. Sedangkan cermat artinya kemampuan pegawai untuk mengetahui apabila ada hal yang salah.

"Adapun jujur itu menjadi modal dasar untuk menciptkaan lingkungan kerja yang bersih dari korupsi," kata Darmin.

Menurut Darmin, tekun akan membuat hasil kerja para pegawai terus meningkat, sedangkan cermat diperlukan agar pegawai cepat mengetahui apabila menemukan hal yang salah. Adapun jujur, itu menjadi modal dasar untuk menciptakan lingkungan kerja yang bersih dari korupsi.

Darmin mencontohkan salah satu kesalahan yang dibuat oleh anak buahnya, yang nyaris membuatnya malu di sidang kabinet.

"Saya beberapa kali lihat, membuat tabel saja salah. Ini apa sih yang dikerjakan? Mengambil data dari publikasi lain, lalu dimuat di dalam laporan yang akan saya bacakan di sidang kabinet, ada angka yang salah. Jangan lakukan hal-hal seperti itu. Itu kesalahan paling bodoh namanya. Mengutip saja saja, itu kan paling bodoh," keluh Darmin Nasution.
 
Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Sejumlah Kendala Vaksinasi Lansia

Kabar Baru Jam 8

Perkara Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika

Kabar Baru Jam 10