PPLN: Partisipasi Pemilih Melonjak 100 Persen di Sejumlah Negara

KBR68H, Jakarta - Kelompok Kerja Panitia Pemungutan Luar Negeri (Pokja PPLN) mengklaim partisipasi pemilih di sejumlah negara naik hingga 100 persen.

BERITA

Jumat, 11 Apr 2014 22:33 WIB

Author

Abu Pane

PPLN: Partisipasi Pemilih Melonjak 100 Persen di Sejumlah Negara

ppln, pemilu, luar negeri


KBR68H, Jakarta - Kelompok Kerja Panitia Pemungutan Luar Negeri (Pokja PPLN) mengklaim partisipasi pemilih di sejumlah negara naik hingga 100 persen. Ketua Pokja PPLN, Wahid Supriyadi mencontohkan, partisipasi pemilih seperti di Sudan sudah mencapai 88,3 persen, sementara di Aman 41,7 persen. Padahal jumlah partisipasi pemilih di luar negeri pada Pemilu 2009 lalu, hanya berada di kisaran 22 persen. Dengan begitu, Pokja PPLN mengklaim golput di luar negeri menurun. (Baca: PDI-P Klaim Sementara Menang Pemilu Luar Negeri)

"Trend di beberapa perwakilan cukup bagus kalau dilihat dari kehadirannya ya. Memang masih ada yang berada di bawah target. Tapi itu belum di hitung dengan suara per pos ya. Kita lihat juga misalnya di Beijing. Beijing itu belum dihitung suara yang dikirim lewat pos, sudah 25 persen. Artinya nanti ada peningkatan.Tapi ada beberapa yang naik cukup lumayan, seperti Sudan sudah 88, 3 persen. Artinya itu sudah di atas Pemilu sebelumnya," ujar Wahid di Jakarta, Jumat (11/4).
   
Ketua Pokja PPLN, Wahid Supriyadi menambahkan, keberhasilan mengurangi angka golput merupakan buah dari kebijakan memajukan waktu Pemilu di luar negeri. Pada 2009 lalu, Pemilu di dalam dan luar negeri dilakukan serentak. Sementara tahun ini Pemilu di luar negeri dilakukan lebih cepat, yakni seminggu sebelum Pemilu dalam negeri dilaksanakan. Meski begitu Wahid kecewa, sebab Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) di luar negeri belum semuanya bisa ikut memilih. Sebab mereka tidak mendapat izin dari majikan masing-masing.

Editor: Nanda Hidayat

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Upaya Kurangi Risiko Bencana Iklim

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Perkara Bukber Tahun ini

Kabar Baru Jam 10