Yenny Wahid: Saya Akan Tetap Bantu Partai Demokrat

KBR68H, Jakarta - Pekan lalu Yenny Wahid putri mendiang bekas Presiden Abdurahman Wahid memutuskan tak jadi bergabung dengan partai Demokrat.

BERITA

Senin, 22 Apr 2013 10:27 WIB

Author

Airlambang

Yenny Wahid: Saya Akan Tetap Bantu Partai Demokrat

yenny wahid, partai demokrat, SBY, PKBIB

KBR68H, Jakarta - Pekan lalu Yenny Wahid putri mendiang bekas Presiden  Abdurahman Wahid memutuskan tak jadi bergabung dengan partai Demokrat. Meski begitu dia berjanji tetap membantu demokrat. Apa alasannya? Simak perbincangan reporter TempoTV Alif Imam dengan  Ketua Umum DPP Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) Zannuba Ariffah Wahid   di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Pusat,   seputar umroh, partai demokrat dan target pemilu tahun depan.

Suasana apa yang didapat kalau umroh?

Pertama kalau saya memang orang yang selalu butuh mendapatkan suasana spiritual untuk bisa menyeimbangkan hiruk pikuk duniawi ini. Sehingga perspektif kita terjaga, tidak terlalu larut dalam hingar bingar keduniawian sehingga melupakan hal-hal yang paling esensial untuk apa kita ada di dunia ini.

Hingar bingar dalam kehidupan anda yang paling riuh adalah situasi politik?

Salah satunya itu.
 
Termasuk juga situasi politik pekan-pekan ini yang menyebut bahwa anda mau masuk ke Partai Demokrat tetapi kemudian enggan karena jabatan yang diinginkan tidak diberi walaupun presiden sudah memberi penjelasan. Apa tanggapan anda?

Presiden betul, memang iya itu yang terjadi. Jadi saya beberapa kali bertemu dengan Pak SBY, awalnya beliau memang mengundang kami untuk datang kemudian saya datang bersama ibu saya. Suasananya sangat baik, sangat kekeluargaan kita berbincang-bincang banyak hal termasuk diantaranya beliau menawarkan untuk bersinergi politik. Sinergi politik itu tidak dibahas teknisnya seperti apa tapi beliau intinya meminta kami membantu Partai Demokrat. Ibu saya mengingatkan karena kultur yang kami anut bahwa apalagi usia saya juga masih muda, ibu saya mensyaratkan saya harus konsultasi dengan yang sepuh-sepuh, lebih senior. Karena sebagai orang yang masih muda tentu perlu bimbingan dalam membuat keputusan, supaya tidak keliru. Jadi saya minta waktu kepada Bapak Presiden dan beliau memberikan. Ketika saya tengah proses konsultasi tersebut tiba-tiba di luar ramai dari para petinggi Demokrat yang sebetulnya tidak mengerti proses yang terjadi.

Sebetulnya apa yang ditawarkan Pak SBY?

Tidak ada kemudian tawar menawar posisi, sama sekali tidak ada. Karena bukan itu dorongan yang membuat saya bergabung dengan sebuah partai atau tidak bukan karena posisinya. Tapi apakah kita bisa melakukan tugas secara efisien, apakah bisa melakukan proses pengembangan politik dengan baik dalam wadah tersebut.
 
Bukankah yang hanya bisa dijalankan kalau kita memegang posisi penting di dalam partai itu? 

Bisa saja salah satu instrumennya seperti itu. Tetapi apabila diberikan ruang tanpa posisi strategis sebetulnya bisa mempengaruhi kebijakan di dalam partai. Kalau posisi strategis seperti ketua umum, sekjen, dan sebagainya itu sudah di-handle Pak SBY. Jadi acuannya hanya posisi strategis itu terlalu kecil menurut saya, kami tidak berbincang itu sama sekali.

Menolak tawaran ini kemudian lebih banyak karena ajuan?

Saya tidak menolak Partai Demokrat. Ini harus saya luruskan, saya menolak berada di dalam struktur sebuah partai di luar PKBIB.  Jadi berbeda dengan Partai Demokrat, karena tawaran yang saya dapatkan bukan hanya dari Partai Demokrat.

Kemudian tidak bisa lagi bekerja untuk Partai Demokrat walaupun tidak terlibat di sana?

Saya akan membantu Partai Demokrat tetap. Karena beberapa kader saya tetap nyaleg dan diberikan tempat di Partai Demokrat. Jadi di daerah dimana mereka mencalonkan diri saya akan bantu Partai Demokrat. Namun di daerah dimana kader saya mencalonkan diri melalui wadah lain saya akan bantu mereka juga. Ada kader kita nyaleg lewat Nasdem, Gerindra, PPP saya akan bantu semua di daerah-daerah tersebut. Jadi prinsipnya memang dari awal konsultasi ke para senior dan sesepuh itu hasilnya adalah saya diminta untuk tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana, ini lepas yang ajak siapa. Jadi bagi saya, ketika ini saya sampaikan Pak SBY sangat mengerti, jadi saya tidak menolak Partai Demokrat.

Tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana, tapi kerap kali justru membuat tidak bergerak kemana-mana, bagaimana?

Maksudnya saya pada saat ini tidak mengambil ancang-ancang kesana. Sehingga untuk mengambil langkah-langkah kesana juga tidak menjadi prioritas saya. Prioritas saya bahwa teman-teman yang selama ini berjuang dalam wadah PKBIB dan ingin menyalurkan aspirasi mereka melalui partai politik, bisa saya fasilitasi. Kalau saya pribadi mengalir saja, tidak mesti mengubah warna saya menjadi satu warna tertentu.

Tapi sudah ada target dalam momentum Pemilu 2014, peran apa yang mau dimainkan anda?

2014 nanti ada dua hajatan besar yang akan dilakukan republik ini. Pertama pemilu legislatif, kedua pilpres. Pemilu legislatif kita tidak berhimpun dalam satu wadah yang terkonsolidasi sendiri, karena kader kita memencar kemana-mana pada pemilu legislatif. Namun dalam pemilihan presiden kita masih bisa melakukan konsolidasi secara utuh, karena kita nanti akan mendorong kader-kader kita ke satu calon tertentu. Jadi bagi saya hanya punya waktu satu tahun untuk mempersiapkan itu, sudah sibuk sendiri tidak usah saya sibuk sendiri untuk nyalon atau apapun posisi strategis. Kita sudah akan sangat sibuk untuk mempersiapkan calon mana yang akan kita dukung nanti.

Pak SBY melihat potensi suara-suara itu bisa dialihkan ke siapapun yang akan diunggulkan ya?

Pasti. Pak SBY melihat gerbong kami gerbong yang besar, gerbong yang cukup solid, gerbong yang punya militansi sementara di sisi lain Partai Demokrat sendiri memerlukan suntikan suara. Itu pemikiran yang sangat rasional, kalau kemudian bergabung menjadi satu tentu bagi Partai Demokrat akan sangat menguntungkan sekali. 

Gerbong ini warga NU atau PKBIB?

PKBIB. Saya tidak akan mengklaim bahwa saya bisa mempengaruhi semua warga NU, saya bisa klaim hanyalah satu bahwa saya punya komitmen untuk berjuang bagi warga NU itu saja. Saya tidak pernah dari awal punya pretensi untuk mengklaim saya ini bisa menyatukan warga NU tidak ada.
Anda juga terbuka menyatakan siap berkampanye untuk suami yang kebetulan di Gerindra. Tidak akan memecah potensi dukungan calon presiden kelak? karena Gerindra jangan-jangan mengeluarkan calon baru yang tidak berhubungan dengan Demokrat.

Bisa saja. Konteks kerjasamanya ada dua konteks, konteks pemilu legislatif itu kita berpencar dan saya akan membantu kader-kader kita yang berada dalam wadah berbeda-beda, terhimpun dalam satu kesatuan sebagai sebuah pelangi Indonesia. Kemudian pemilihan presiden kita berharap bisa bersatu kembali. Perkara kemudian punya pilihan politiknya sendiri-sendiri itu lain, terserah mereka.

Tapi anda tidak mengunci mendukung satu calon tertentu saja begitu?

Tidak saya akan lebih mengandalkan kemampuan untuk mempersuasi. Kalau mereka percaya pada ide yang kita tawarkan bahwa calon yang akan kita dukung itu betul-betul bisa membawa kebaikan bagi Indonesia, saya percaya bahwa masih bisa terkonsolidasi dengan baik. Selain itu kita juga akan melakukan konsolidasi melalui Ormas Getara (Gerakan Kebangkitan Nusantara) yang sudah dideklarasikan oleh Gus Dur tapi belum sempat aktif, ini akan saya aktifkan kembali.    

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Polisi Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Beraksi Sendiri