Pendeta John Djonga: Kelaparan di Yahukimo Bukan Karangan di Pinggir Jalan

Satu warga Distrik Samenage Kabupaten Yahukimo atas Kana Esema yang berusia 18 tahun, kritis akibat kelaparan.

BERITA

Senin, 15 Apr 2013 11:51 WIB

Author

Doddy Rosadi

Pendeta John Djonga: Kelaparan di Yahukimo Bukan Karangan di Pinggir Jalan

kelaparan, yahukimo

Satu warga Distrik Samenage Kabupaten Yahukimo atas Kana Esema yang berusia 18 tahun, kritis akibat kelaparan. Pastor Gereja Katolik Yahukimo, Jhon Djonga mengatakan Kana Esema tidak mendapat pengobatan yang memadai di Rumah Sakit Yahukimo. Sehingga dia semakin kritis. Saat ini korban sudah dirujuk ke rumah sakit di Wamena. Kenapa kelaparan kembali melanda Yahukimo? Simak perbincangan KBR68H dengan Pendeta Katolik Yahukimo Jhon Djonga dalam program Sarapan Pagi

Bagaimana kondisi yang anda bisa ceritakan kepada kami terkait informasi itu?
 
Dari tanggal 26 Maret sampai dengan 2 April saya bersama teman tim untuk investigasi kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat pedalaman di Distrik Samenage, Kabupaten Yahukimo. Selama satu minggu kami bersama dengan keluarga-keluarga yang sakit, korban kematian, dan sebagainya. Kami menemukan data-data yang sangat akurat dimana banyak mereka meninggal karena penyakit yang tidak berat, yaitu sakit perut, mencret, batuk-batuk, dan ISPA. Tapi karena pelayanan kesehatan memang sangat buruk di Kabupaten Yahukimo, maka orang akhirnya meninggal dan ada 61 korban. Diantaranya ada 25 anak yang umur 1-24 tahun dan 25-58 tahun itu ada 36 orang. Ini semua kami mendapat data-data dari petugas kesehatan yang disebut kader, tidak tamat SMP tapi dia dilatih untuk melayani orang sakit di Puskesmas Samenage. Sedangkan seorang mantri dia sudah tiga tahun tidak pernah ke sana, kemudian setelah ditahan gajinya tanggal 2 April  baru kembali kesana setelah diancam dan dimarahi beberapa kepala desa yang ada di sana. Camat juga tidak pernah ke tempat tugas dan juga kepala-kepala desa di Distrik Samenage selama kami di sana tidak ada satupun yang tinggal di tempat.

Jumlah 61 orang yang meninggal di Distrik Samenage itu periode kapan?

Itu menurut data dari seorang kader kesehatan itu sejak Januari 2013 sampai dengan 26 Maret 2013.

Kementerian Kesehatan meragukan data anda sehingga sekarang mereka mengecek ke sana. Anda pernah dihubungi Kementerian Kesehatan?

Pertama saya mau menyampaikan kepada Menteri Kesehatan atau Departemen Kesehatan, jangan percaya laporan-laporan yang bohong dari staf yang datang hanya 1 jam, ini memalukan. Saya mau katakan kepada menteri supaya dia cek di tempat lain, jangan tanya kepada staf yang tidak pernah ke sana. Kedua, saya sebenarnya hanya meneruskan apa yang menjadi keluhan, rintihan, dan kemarahan rakyat dimana selama otsus ini pelayanan kesehatan menjadi lebih jelek daripada dulu. Bayangkan saja bupati sudah 10 tahun dia bertugas sebagai bupati dua periode tidak pernah ke wilayah-wilayah seperti itu, apalagi kepala-kepala dinas yang lain, lalu menteri mau percaya itu silahkan. Tapi saya siap untuk mempertanggungjawabkan data-data akurat kepada menteri atau siapapun. Karena ini bukan karangan di pinggir jalan, ini data yang lengkap hanya saya mau menyampaikan apa yang sudah masyarakat sampaikan. Memang kondisi makan minum juga sangat sulit, tapi saya tidak melihat mereka mati karena kelaparan, ini soal pelayanan kesehatan yang betul-betul tidak ada. Sehingga jangan heran kalau ada yang mencret atau sakit perut anak-anak itu bisa mati, apalagi mereka punya kondisi sangat memprihatinkan.

Di Distrik Samenage ini ada berapa layanan kesehatan?

Dari data yang ada itu ada satu puskesmas. Puskesmas itu ada satu mantri tapi tidak pernah ke sana, lalu ada kader yang tugas tapi obatnya dari satu puskesmas. Sementara jaraknya antara puskesmas dengan desa sangat jauh, harus lewat gunung, kali, semacam itu.

Apakah kondisi di Distrik Samenage seperti ini juga terjadi di distrik-distrik lain?

Saya sangat yakin, kebetulan saya juga melayani distrik lain di Kabupaten Yahukimo dan Distrik Kurima. Saya memang belum mengumpulkan data, tapi dalam perjalanan saya bulan Desember di sana itu ada banyak cerita tentang kematian masyarakat di kampung. Karena memang tidak ada petugas dan saya yakin ini adalah kejadian atau peristiwa-peristiwa seperti pejabat katakan ini biasa di kampung-kampung. Jadi di pedalaman-pedalaman seperti Kabupaten Yahukimo dan sebagainya pasti korban karena kelalaian pelayanan kesehatan itu lebih banyak.

Sampai sekarang ini Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua, Kementerian Kesehatan katanya mengirim tim menuju ke Samenage. Apakah sampai saat ini anda mendengar informasi tim itu sudah sampai ke Samenage?

Yang saya dengar kemarin ada tim dari kabupaten saja, ada dokter dan beberapa bidan atau perawat. Apakah mereka masih di Samenage saya belum tahu, hari ini ada utusan khusus dari UP4B yang mau melihat kondisi riil di sana.

Apa yang mereka lakukan di sana?

Dari penjelasan pemerintah, bahwa masih sangat kurang tenaga-tenaga medis. Maka saya dengar bahwa mereka yang ke sana hanya sementara, hanya untuk investigasi, mengobati masyarakat yang sakit. Saya tanggal 26 juga membawa satu pasien dan sekarang ada di Wamena dalam keadaan kritis namanya Kana Sema, 18 tahun, perempuan. Penyakitnya itu sama dengan dua yang sudah menjadi korban, yaitu seluruh badan bengkak dari kaki sampai kepala dan ini belum ditangani oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo. Mereka sekarang ada di Wamena, saya sudah melaporkan ke rumah sakit di Yahukimo dan juga kepada tim yang datang untuk melihat.

Sebelum tahun 2012 pernah ada kasus semacam ini?

Saya baru mulai tugas baru awal tahun ini di Distrik Samenage. Memang dulu pernah ada cerita tentang kelaparan di wilayah ini, saya lihat kondisi sekarang memang masyarakat lapar. Ada cerita tentang raskin, sudah bertahun-tahun masyarakat belum pernah dapat. Ada satu sekolah di sana mungkin sudah 10-12 tahun, tetapi sampai saat ini sekolah itu tidak punya nomor induk nasional. Gurunya juga sampai saat ini tidak ada guru yang sebenarnya pendidikan guru, yang ada honorer tamatan SMA. Muridnya banyak sekali ada 200 lebih dan untuk sembilan desa hanya 1 sekolah. Ini sangat menyedihkan karena jarak antarkampung sangat jauh, lalu punya sungai yang besar-besar, maka saya usulkan supaya bangun satu sekolah baru yang bisa membantu anak-anak.                     

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Ngopi Bersama Azul Eps33: Gembira Bersama Temenggung

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Pemisahan Sel Napi LGBT Tuai Protes