Mama Aleta, Pejuang Lingkungan dari NTT

Perempuan asal Provinsi Nusa Tenggara Timur Aleta Baun atau yang lebih dikenal dengan "Mama Aleta" meraih penghargaan lingkungan hidup "Goldman Environmental Prize 2013" bersama sejumlah lainnya yang mewakili enam kawasan benua.

BERITA

Selasa, 16 Apr 2013 11:44 WIB

Author

Doddy Rosadi

Mama Aleta, Pejuang Lingkungan dari NTT

mama aleta, pejuang lingkungan, Goldman Enviromental Prize

Perempuan asal Provinsi Nusa Tenggara Timur Aleta Baun atau yang lebih dikenal dengan "Mama Aleta" meraih penghargaan lingkungan hidup "Goldman Environmental Prize 2013" bersama sejumlah lainnya yang mewakili enam kawasan benua. Perwakilan Goldman Enviromental Prize 2013 di Indonesia Dita Ramadhani mengatakan perempuan yang berasal dari Desa Naususu, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT ini mendapat penghargaan atas upaya penyelamatan lingkungan, sosial, dan budaya masyarakat Mollo. Apa saja sebenarnya aktivitas sehari-hari Mama Aleta? Simak perbincangan KBR68H dengan Nifron, Warga Binaan Aleta Baun dalam program Sarapan Pagi

Aktivitas Mama Aleta sampai sekarang apa saja?

Aktivitas Mama Aleta dari kampung ke kampung mengumpulkan warga terus mengarahkan warga bagaimana menjaga lingkungan. Tapi menjaga lingkungan menggunakan kearifan lokal mereka, seperti misalnya ada lokasi tertentu yang tidak boleh dirusak dan itu dijaga secara adat, misalnya ada di posisi ketinggian itu bisa hidup terus dan mendatangkan sumber daya air. Posisi-posisi tertentu dimana tidak bisa melakukan aktivitas yang bisa mendatangkan bahaya longsor misalnya, jadi aktivitas beliau seperti itu.
 
Dulu di wilayah Molo ada beberapa perusahaan marmer, untuk saat ini seperti apa kondisinya? apakah warga saat ini digerakkan oleh Mama Aleta untuk memperbaiki lingkungan bekas penambangan ini?

Kalau untuk sekarang ini warga diarahkan untuk mengkonservasi. Karena setelah peninggalan perusahaan tambang marmer itu lingkungan jadi rusak, sekarang itu mengarahkan warga untuk tanam pohon di sekitar lokasi tambang. Karena di sekitar lokasi tambang itu sudah terjadi longsor.
 
Apakah ada perubahan semenjak Mama Aleta dan kawan-kawan melakukan aktivitas lingkungan dengan sekarang kondisinya?

Ada soalnya sewaktu aktivitas tambang itu berjalan tambang itu banyak alat berat yang masuk. Dia beroperasi di daerah bisa dibilang daerah hutan, terus ada dekat sumber-sumber air. Jadi kalau tambang berjalan terus getaran dari alat berat menyebabkan longsor di sekitar sumber air yang hilang tertimbun. Kalau sekarang pada musim kemarau terancam kering, upaya kami dengan Mama Aleta sementara membuat konservasi di sekitar itu supaya air itu bagaimana mengalir bisa dipakai oleh warga.

Setelah digerakkan oleh Mama Aleta apakah masyarakat semakin meningkat untuk menjaga lingkungan sekitar?

Kalau untuk kesadaran mereka memang sadar dan turut mendukung. Walaupun tidak langsung di lokasi itu, tetapi di sekitar mereka juga melakukannya dan secara tidak langsung ketika kita berbicara tentang lingkungan mereka juga mendukung bahwa lingkungan ke depan harus dijaga dan. Salah satu ancaman yang harus kita hindari adalah ancaman kegiatan tambang di wilayah Molo.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pilkada Serentak Diwarnai Calon Tunggal