Ketum PBSI: Indonesia Bisa Samai Prestasi Cina 2-3 Tahun Lagi

Sejak didaulat sebagai Ketua Umum PBSI, Gita Wirjawan mulai membuat sejumlah gebrakan. Dia mendatangkan Rexy Mainaky yang sukses melatih atlet Inggris, Malaydia dan Filipina di tingkat dunia untuk menjadi Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI.

BERITA

Jumat, 12 Apr 2013 11:36 WIB

Author

Doddy Rosadi

Ketum PBSI: Indonesia Bisa Samai Prestasi Cina 2-3 Tahun Lagi

PBSI, bulutangkis, olimpiade, piala sudirman

Sejak didaulat sebagai Ketua Umum PBSI, Gita Wirjawan mulai membuat sejumlah gebrakan. Dia mendatangkan Rexy Mainaky yang sukses melatih atlet Inggris, Malaydia dan Filipina di tingkat dunia untuk menjadi Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI. Selain itu, Gita juga mulai menerapkan kelas motivasi kepada seluruh pebulutangkis nasional di Cipayung. Hal lain yang akan mulai diterapkan adalah mengukur VO2 Max yaitu tes yang dilakukan sehingga tekanan pada pasokan oksigen ke otot jantung harus berlangsung maksimal. Apa saja impian Gita bagi bulutangkis nasional selama dia menjabat sebagai Ketua Umum PBSI? Simak perbicangan KBR68H, Tempo TV dan Portalkbr.com dengan Gita Wirjawan di ruangannya di Gedung Kementerian Perdagangan lantai 5 yang luas dan nyaman serta dihiasi sejumlah alat musik seperti keyboard dan gitar listrik, Rabu (10/4) lalu.

Apakah target juara masih tetap realistis untuk tim Sudirman kita?

Selama ini tidak realistis. Saya selalu mengatakan probabilitas menang di bawah 50 persen dan tugas kita antara sekarang sampai Piala Sudirman adalah untuk meningkatkan angka 49 persen menjadi angka yang lebih besar. Tapi yang pasti kawan-kawan di Cipayung yang sudah diseleksi itu semangatnya luar biasa dan kita sudah melihat perjalanan yang panjang ini sudah mulai ditempuh dengan kecepatan yang layak. Kader-kader yang muda sudah mulai semangat dan itu juga mendorong yang lebih senior untuk lebih semangat, tinggal nanti bagaimana kita pompa saja antara sekarang sampai nanti. Sudah 28 pemain kita pilih, tentunya saya sudah mempedomankan program makan, minum, latihan, angkat besi, gym, dan segalanya yang lebih intensif dibandingkan sebelumnya. Terus kita juga akan memberikan wejangan motivasi mulai dari weekend ini saya akan datang ke sana, tiap minggu kita akan mendatangkan pembicara, termasuk pemain legenda kita Susi Susanti juga akan saya datangkan untuk memberikan wejangan agar mereka lebih semangat. Tapi tentu saja tahun ini adalah All England, kedua Sudirman, ketiga World Championship, keempat Sea Games. Sudirman kita realistis dalam arti chance kita tidak besar, tapi kalau kita lihat satu grup dengan India dan Tiongkok ini kita akan fight semaksimal mungkin, akan dipilih top duanya. Insyaallah kalau itu kita bisa lolos sebagai salah satu dari top dua dari grup itu kita bisa maju ke depan. Kalau World Championship probabilitasnya untuk nomor-nomor tertentu kita cukup optimis, kalau Sea Games jauh lebih yakin.

Target realistis untuk Sudirman apa?

Kalau kita masuk semifinal sudah bagus. Tapi kalau kita lihat kemarin sudah ada tanda-tanda yang lumayan di Australia kita dapat tiga gelar, All England kita bisa mengulangi kinerja yang bagus oleh Liliyana dan Tantowi dan kita memasukkan sembilan partai di kuartal final, empat partai di semifinal. Dari awal saya bilang ini perjalanan jauh dan panjang, saya yakin tidak ada alasan 2-3 tahun lagi jauh lebih bersinar daripada sebelumnya.

Anda menerapkan sesi motivasi untuk para pemain, apa dasarnya? apakah memang motivasi para pemain kita sudah begitu parahnya sehingga perlu kelas khusus motivasi?

Bukan begitu saya melihat justru untuk kita bisa lebih bersaing dengan pemain-pemain yang luar biasa dari Tiongkok, India, Denmark, dan segalanya. Kita harus kerja lebih keras apapun makanannya, minumannya, larinya, kita akan ukur VO2 max-nya, kita akan ukur IQ-nya. Saya selalu percaya jangan otot saja, ini harus ada kecerdasan untuk jadi pemenang dan kita harus benar-benar bisa create winner di Cipayung ini dan mereka sangat merangkul semangat-semangat seperti ini. Tapi kalau kita konsisten dengan bukan hanya sistem latihan tapi dengan sistem kesejahteraan, kita harus pompa juga kompensasinya. Mereka sudah merasakan kok seperti kemarin di All England mereka dapat bonus tiga kali gaji, pemain dan pelatih sudah kita eksekusi implementasi, kita juga janjikan Sudirman juga akan kita kasih bonus lima kali gaji. Mudah-mudahan itu bisa memompa mereka dan kita lihat saja nanti, waktu yang akan menilai.

Kita sudah bukan negara terkuat lagi untuk bulutangkis, di Asia Tenggara saja kita sama Thailand sudah kalah di Sea Games kemarin. Apa sebenarnya yang salah, apakah regenerasi atau faktor lainnya?
 
Ada beberapa variabel tentunya sistem pembinaan prestasinya. Saya yakin sekali dengan Rexy Mainaky sebagai Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi ini lebih terarah, kedua tentunya sistem kompensasi, kalau untuk pelatih kita harus bisa mendatangkan pelatih-pelatih dunia. Ini sudah datang dari luar, kita datangkan orang-orang Indonesia yang mengajar di luar termasuk Rexy yang sudah mengajar di Inggris, Malaysia, Filipina. Terus Reony Mainaky akan balik, kemarin juga Hendrawan sudah ngomong ke saya dia lagi pikir-pikir. Dari dalam juga Susi Susanti, Rudi Hartono,  semuanya sangat memberikan kontribusi, semangat semuanya. Jadi mereka melihat kita komit dan tidak terlalu neko-neko, saya coba bikin ini sesederhana mungkin dan fokus ke pembinaan prestasi. Kemudian kaderisasi ini bagaimana kita bisa menciptakan kader-kader baru dan mereka ini adalah yang sangat berkualitas dari sisi teknis dan juga kecerdasan. Makanya kita sepakat semua untuk bikin sekolah, memulai pembangunannya tahun ini. Insyaallah kalau itu bisa awal tahun depan atau pertengahan tahun depan sudah selesai kita bisa menarik kader-kader muda dari seluruh provinsi. Dipandu dengan turnamen-turnamen yang baru kita luncurkan Sidu Cup bulan April ini, seluruh SD-SMP di sepuluh kota luar biasa partisipannya 10.000 jumlahnya. Bulan Mei kita akan gulirkan olimpiade badminton SD-SMP di beberapa provinsi, ini juga akan semarak sekali. Saya yakin ini kalau bisa dilakukan secara konsisten pasti kita bisa membuahkan talenta-talenta yang bisa membawa kebanggaan untuk kita semua.

Ini untuk menutupi minimnya kompetisi di dalam negeri?

Iya. Ini kompetisi-kompetisi di daerah level SD dan SMP secara intensif ini pasti bisa menyaring talenta-talenta, mudah-mudahan nanti mau masuk di pelatnas. Kalau mereka lihat pelatihnya bagus, lingkungannya kondusif, manajemennya lumayan, kesejahteraannya lumayan, ada sekolah lagi dan sekolahnya sistem pendidikannya disesuaikan dengan jadwal latihan dan sebagainya.

Hal lain, saat ini  minimnya siaran bulutangkis dari televisi nasional kita, misalnya ketika Liliyana dan Tantowi sedang tampil di final All England kita semua nonton Chelsea melawan Manchester United karena itu disiarkan televisi nasional. Bagaimana tanggapan anda?

Saya yakin kalau Liliyana-Tantowi menang terus apalagi partai-partai lain bisa menang pasti anda tidak akan nonton Chelsea lagi. Saya waktu itu nonton di Youtube itu live streaming waktu Liliyana-Tantowi di All England. Medianya mudah sekarang kita bisa nonton lewat alat telekomunikasi kita, tinggal bagaimana kita bisa membuahkan kemenangan secara rutin dan lebih banyak partainya pasti orang akan balik. Karena olahraga badminton ini sangat kental di hati masyarakat luas.

Sebagai Ketua Umum PBSI apa yang ingin anda capai untuk bulutangkis Indonesia?

Kejayaan dan prestasi yang berkelanjutan. Siapapun nanti penerusnya insyaallah bisa menikmati.
 
Dimulai dengan kaderisasi tadi itu ya?

Harus dengan skala yang besar, kalau tidak ya kita tidak akan bisa. Kalau Tiongkok itu mereka tidak khawatir kalau Lin Dan tidak main lagi, karena ada Lin Dan 2, Lin Dan 3, Lin Dan 4, Lin Dan 5. Kemarin di Sydney saja lihat pemain juniornya bisa berjaya, itu sudah jelas.

Berarti nanti fokus pengiriman atlet ke luar negeri untuk yang muda-muda saja atau yang senior?

Yang berprestasi, berprospek itu akan kita kirim. Jelas ini pembinaan prestasi, dia akan menyeleksi siapapun yang layak untuk bisa bersaing.
 
Berarti tidak ada lagi junior dan senior ya?

Saya tidak lihat begitu. Kemarin Rian juniornya Hendra sama Ahsan, bahkan dia menang kalahkan seniornya.

Kira-kira perlu waktu berapa lama kita bisa menyaingi Cina?

2-3 tahun. 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Arab Saudi Akan Gratiskan Vaksin Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Polemik TNI 'cawe-cawe' Copoti Baliho Rizieq Shihab

Kabar Baru Jam 8

Wagub DKI Ingatkan Sanksi Bagi Penolak Tes Covid-19 di Petamburan