Bising Tak Hanya Bikin Tuli Tetapi Bisa Pengaruhi Psikis

KBR68H, Jakarta - Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian menyatakan kebisingan dapat menentukan tingkat kecerdasan penduduk di suatu tempat.

BERITA

Kamis, 25 Apr 2013 16:43 WIB

Author

Doddy Rosadi

Bising Tak Hanya Bikin Tuli Tetapi Bisa Pengaruhi Psikis

bising, tuli, pengaruhnya

KBR68H, Jakarta - Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian menyatakan kebisingan dapat menentukan tingkat kecerdasan penduduk di suatu tempat. Ketua Komnas PGPKT, Damayanti mengatakan, hal itu disebabkan oleh terganggu atau tidaknya pendengaran penduduk di suatu daerah tersebut. Apabila pendengaran sudah terganggu, maka komunikasi akan terhambat. Sementara, penggunaan earphone yang berkepanjangan merupakan faktor utama bagi remaja mengalami gangguan pendengaran hingga mencapai ketulian yang permanen. Seperti apa sebenarnya tingkat kebisingan yang berbahaya itu? Simak perbincangan KBR68H dengan Ketua Komunitas Telinga Hati, Atieq Lityowati dalam program Sarapan Pagi.

Ada peringkat kota-kota di Indonesia yang paling bising dimana?

Belum ada datanya tapi yang jelas Indonesia peringkat keempat di dunia yang menderita ketulian paling banyak.

Ketulian ini disebabkan karena apa?

Antara lain kebisingan. Jadi sekarang ini WHO mencanangkan konsep Sound Hearing 2030 dan itu prioritasnya adalah konsep less noise city seperti Jakarta atau kota-kota metropolitan lainnya di dunia. Itu harus diwaspadai persoalan kebisingannya, karena bising tidak hanya menyebabkan tuli tapi secara psikis.

Seperti apa itu?

Emosi. Jadi orang mudah emosional, dia meningkatkan adrenalin negatif dan mencitptakan hormon yang bikin kita mudah marah, stres.

Jadi mempengaruhi kecerdasan ini karena tingkat emosinya tidak terkendali ya?

Bisa jadi begitu. Suara itu kaitannya dengan otak, ketika sel otak kita terbentuk karena suara, mutu suaranya seperti apa seperti itulah sel otak yang akan berkembang. Sel otak ini yang menyuruh semua sel-sel tubuh perkembangannya seperti apa dan kita punya sel otak yang karakter baik namanya lobus frontal. Lobus frontal itu karakter baik, kalau misalnya suara yang masuk itu baik maka lobus frontal menjadi berkembang.


Ini yang paling berbahaya salah satunya warga yang tinggal dekat bandara. Bagaimana kita mengatasi polusi kebisingan semacam ini?

Kalau kita berada di daerah seperti itu siapkan ear muff atau ear plug. Kalau dengan sumpalan biasa kita tidak mendengar apa-apa, tapi kalau dengan ear plug tersaring suaranya bisingnya hilang tapi tetap mendengar. Yang kita butuhkan sinergi pemerintah dan masyarakat luas, ketika kesadaran masyarakat luas tercapai maka pemerintah mudah memberlakukan peraturan perundangan. Peraturannya sudah ada, sudah lengkap dari Dinas Perhubungan segala macam ada.

Aplikasinya seperti apa sejauh ini?

Belum karena kesadaran masyarakat belum merata.
     

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN