Rumah Singgah bagi Petugas Ambulans Covid-19

Petugas ambulans gawat darurat termasuk tenaga medis yang berisiko tinggi terpapar Covid-19

BERITA | NASIONAL

Jumat, 27 Mar 2020 01:58 WIB

Author

Ninik Yuniati, Budi Prasetiyo

Rumah Singgah bagi Petugas Ambulans Covid-19

Petugas medis di samping ruang isolasi RSPI Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta, Kamis (5/3/2020). ANT/Sigid Kurniawan

KBR, Jakarta - Di antara tenaga medis yang berjuang di garda terdepan perang melawan Covid-19, peran petugas ambulans gawat darurat (AGD) kerap luput dari perhatian. Padahal mereka juga berpotensi terpapar saat memberi layanan antar jemput pasien. 

Berpijak pada kondisi itu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta membuat rumah singgah di wilayah Sunter, Jakarta Utara. 

Kepala Unit AGD Dinkes DKI Jakarta, Iwan Setiawan mengatakan rumah tersebut diperuntukkan bagi petugas yang berstatus orang dalam pengawasan (ODP) usai kontak langsung dengan pasien positif Corona.

"Jadi ini sebetulnya untuk menghindari kontak lebih banyak lagi, kalau mereka dipulangkan ke rumah masing-masing. Jadi biar nggak ada kontak dengan keluarganya, dengan saudaranya, dengan tetangganya untuk membantu juga memutus rantai penularan," kata Iwan kepada KBR, Rabu (25/03/2020).

Iwan menuturkan tenaga medis lain juga bisa memanfaatkan fasilitas rumah singgah. Di sana, petugas akan dikarantina selama 14 hari. 

"Teman-teman ini diawasi 24 jam. Pada saat masuk kita juga lakukan swab. Kemudian tiap hari juga dipantau tenaga dokter 24 jam ada di lokasi," ujarnya.

Sejak beroperasi sekitar 2 pekan lalu, rumah singgah melayani 14 petugas yang menjalani isolasi. Daya tampungnya ditargetkan sebanyak 50 tempat tidur, meski saat ini baru tersedia 20 unit. 

"Untuk kebutuhan mereka (petugas yang dikarantina), logistik dan sebagainya kita juga bantu untuk penuhi. Dari internal AGD maupun dari donatur, Alhamdulillah banyak yang nyumbang," tutur Iwan.

Iwan membenarkan pembuatan rumah singgah juga didorong adanya kasus petugas yang tidak berani pulang ke rumah. 

"Salah satunya karena ada beberapa petugas yang tidak berani pulang karena takut menularkan ke keluarganya. Mudah-mudahan, petugas yang tidak bisa pulang atau mungkin terkendala karena selalu kontak dengan pasien, khususnya penderita positif, bisa memanfaatkan fasilitas ini," ucapnya. 

Petugas yang hasil tesnya negatif Corona usai karantina, bakal langsung bekerja kembali. Proses karantina yang memakan waktu lama, cukup menganggu layanan ambulans karena terbatasnya SDM. 

"Sampai sekarang masih tertangani karena kami juga dibantu 6 ambulans puskes di Jakarta Utara. Mudah-mudahan di daerah juga sudah menyiapkan ambulans untuk membantu transfer pasien Covid-19," ungkap Iwan.

Iwan memastikan para petugas ambulans sudah terlatih untuk menangani kasus penyakit infeksi seperti Covid-19. Namun, kendala utama ada pada keterbatasan jumlah alat pelindung diri (APD).

"Alhamdulillah AGD sudah mendapatkan 850 unit dari pemprov DKI. Mudah-mudahan bisa mencukupi untuk beberapa waktu. Tapi kami tetap mengusahakan untuk membeli APD sendiri," tutur dia.

Iwan turut mengimbau masyarakat untuk mematuhi anjuran pembatasan sosial dan jaga jarak aman. Hal ini juga untuk mengurangi beban tenaga medis dan risiko terjangkit virus.

"Supaya masyarakat menahan diri di rumah, mengurangi kontak, mengurangi penularan, sehingga tidak lebih banyak lagi orang yang tertular. APD yang pasti harus tersedia supaya kami bisa bekerja dengan baik dan tenang," pungkas Iwan. 

Rumah singgah dan tes massal

Dokter Marcus, salah satu pasien Covid-19 di Jawa Timur yang berhasil sembuh, mendesak pemerintah provinsi segera membangun rumah singgah bagi tenaga medis. 

Marcus tertular dari pasien Corona di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.Soetomo. Pasien tersebut bersin tetapi tidak mengenakan masker, sehingga menulari Markus yang berada di dekatnya. 

"(Rumah singgah) supaya kami, tenaga medis, tidak khawatir ketika bekerja kemudian pulang dan membawa virus itu," kata Marcus saat telekonferensi di Surabaya, Selasa (24/03/2020). 

Marcus mendesak pemerintah segera melakukan tes massal. Menurutnya, tes ini bisa mendorong publik lebih mawas diri. 

Dokter anestesi di RSUD dr.Soetomo ini juga mengimbau masyarakat disiplin melakukan pembatasan sosial dan jaga jarak aman. 

"Yang menjaga diri untuk tidak ikut melakukan perkumpulan-perkumpulan, yang menjaga diri, mengisolasi diri di rumah, sehingga tidak menyebarkan virus, saya sangat menghargai usaha kalian," ujar Marcus. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Instagram Perketat Aturan Soal Iklan

Kabar Baru Jam 7

Menakar Tawaran Pembangkangan Sipil terhadap Undang-undang Cipta Kerja

Masa Depan Anak Broken Home

Kabar Baru Jam 8