Corona Mewabah, Indonesia Tidak Akan Buka Data Contact Tracing Pasien

"Contact tracing, maaf kami belum bisa membuka seperti di Singapura, karena tracing kita ternyata tidak berputar di wilayah kecil,"

BERITA | NASIONAL

Selasa, 10 Mar 2020 21:27 WIB

Author

Resky Novianto

Corona Mewabah, Indonesia Tidak Akan Buka Data Contact Tracing Pasien

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona, Achmad Yurianto memberikan keterangan pers di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (6/3/20). ANTARA FOTO/Hafidz M

KBR, Jakarta- Indonesia memastikan penelusuran kontak (contact tracing) untuk mengtahui rekam hubungan pasien positif covid-19 dilakukan secara tertutup.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto khawatir jika pemerintah membuka data tersebut maka orang yang melakukan kontak dengan pasien positif corona akan kabur.

"Tracing (misalnya) yang kita kejar sudah berada di luar Jawa, mobilitas tinggi, dan ini datanya ada di tempat kami," ucap Achmad Yurianto di Media Center Covid-19, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2020).

Ahmad Yurianto menekankan, pola penelusuran yang tertutup ini dilakukan guna melindungi data pasien. Ia menambahkan, upaya penelusuran tetap melibatkan semua pihak termasuk pemerintah daerah.

Sementara itu, ketika dibandingkan dengan Singapura yang membuka data rekam hubungan pasien, Yuri mengatakkan wilayah Indonesia lebih luas ketimbang Negeri Singa itu. Sehingga tantangan dalam penelusuran kontak itu pun berbeda.

"Contact tracing maaf kami belum bisa membuka seperti di Singapura, karena tracing kita ternyata tidak berputar di wilayah kecil," ujarnya.

Pantauan KBR, Pemerintah Singapura membuka informasi mengenai penanganan wabah virus corona di negaranya melalui laman Covid19 SG , Singapura.

Laman itu di antaranya memuat informasi contact tracing pasien positif Covid-19.


Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Gubernur Jakarta Usulkan Ojek Daring Tetap Boleh Layani Penumpang Selama PSBB

Kabar Baru Jam 17