Belum Ada Vaksin, RI Andalkan Suplemen Tangani Pasien COVID-19

"Apa yang dilakukan rumah sakit yang merawat pasien dengan corona positif adalah supporting. Suporting terapi dengan menggunakan suplemen segala macam, untuk meningkatkan daya tahan tubuh."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 05 Mar 2020 14:49 WIB

Author

Dwi Reinjani

Belum Ada Vaksin, RI Andalkan Suplemen Tangani Pasien COVID-19

Ruang isolasi RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Senin (27/1/2020). (Foto: ANTARA/Aditya Pradana)

KBR, Jakarta - Pemerintah mengandalkan suplemen untuk menangani pasien positif terkena penyakit virus corona (COVID-19).

Sekretaris Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan, standar perawatan pasien COViD-19 di Indonesia sama dengan di negara lain mengikuti arahan WHO.

Karena belum adanya vaksin ataupun obat maka pemberian stimulus kekebalan tubuh menjadi salah satu treatmen yang digunakan rumah sakit.

"Memang spesifik obatnya belum ada, maka kuncinya meningkatkan daya tahan tubuh. Sehingga apa yang dilakukan rumah sakit yang merawat pasien dengan corona positif adalah supporting. Suporting terapi dengan menggunakan suplemen segala macam, untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Ini standarnya sama. Di Cina pun juga ada beberapa yang kemudian diberikan herbal dan sebagainya. Sama,” kata Achmad Yurianto di Kantor Staf Presiden (KSP) Jakarta, Kamis (5/3/2020).

Menurut Yuri, asupan suplemen berupa peningkat imun dari obat kimia ataupun herbal disarankan agar terhindar dari paparan COVID-19.

Menurutnya, temuan WHO dalam kasus COVID-19 di daratan Cina, lebih dari 55 ribu pasien positif sembuh dari total pasien 80 ribu, lantaran kondisi pasien fit.

Para pasien yang dinyatakan sembuh memiliki rentang usia 35 sampai 40 atau tergolong muda dan memiliki daya tahan tubuh baik.

Sedangkan untuk pasien positif yang meninggal memiliki rentang usia 65 sampai 75 atau tergolong tua dan rentan imun.

“Yang meninggal kalau rentang usia 65-75 dan hampir 70 persen memiliki penyakit yang kita sebut penyakit kronis sebelum infeksi yang mempengaruhi daya tahan tubuh seperti, jantung, diabetes, gagal ginjal kronis, paru kronis. Itu menyebabkan daya tahan tubuh rendah. Begitu terinfeksi akan jatuh dalam kondsi tubuh jelek," kata Yuri.

Menurut Yuri, penanganan flu biasa di kalangan masyarakat dengan menggunakan masker, istirahat cukup, lalu memberi stimulus-stimulus kekebalan tubuh sudah benar dilakukan.

Pada dasarnya COVID-19 merupakan virus flu yang bermutasi, maka kekebalan tubuh menjadi kunci utama penyembuhan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Pemerintah Akui Penerapan PSBB di Daerah Sulit

Kabar Baru Jam 17

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 15