Mengintip Kecanggihan 5G, Teknologi Internet Generasi Terbaru

Dengan teknologi 5G, proses unduh film bisa dilakukan hanya dalam tiga detik. Para dokter bedah juga bisa melakukan operasi dari jarak jauh. Mungkinkah ini diterapkan di Indonesia?

RUANG PUBLIK , BERITA , NASIONAL

Jumat, 01 Mar 2019 18:00 WIB

Author

Adi Ahdiat

Mengintip Kecanggihan 5G, Teknologi Internet Generasi Terbaru

Ilustrasi. (Foto: Creative Commons/CC-BY-NC-ND 3.0)

Perkembangan teknologi komunikasi telah sampai pada generasi kelima (5G). Meski wacananya sudah muncul sejak tahun 2014, baru di tahun 2019 ini wujudnya bisa kita lihat dengan jelas.

Contoh wujud teknologi 5G bisa dilihat pada smartphone Huawei Mate X yang baru saja diluncurkan dalam ajang Mobile World Congress (MWC) 2019 di Barcelona, Senin lalu (24/02/2019).

Terlepas dari desain layarnya yang unik dan bisa dilipat (foldable), kekuatan utama gawai 5G ini ada pada kapasitas download-nya yang mencapai 4,6 gigabyte (GB) per detik, atau sekitar 100 kali lipat dari smartphone 4G biasa.

Dengan kemampuan itu, proses unduh video high definition (HD) sebesar 1 GB bisa dilakukan hanya dalam tiga detik. Jauh lebih cepat dibanding internet 4G yang membutuhkan waktu sekitar enam menit.

Namun, kecanggihan 5G bukan hanya berguna untuk download film saja.

Menurut Global System for Mobile Communications Association (GSMA) Intelligence, teknologi 5G merupakan alat untuk membangun “hyperconnected society”, di mana internet kian memainkan peran penting dalam pengembangan kondisi sosial dan ekonomi warga dunia.

Dalam publikasi berjudul Understanding 5G: Perspectives on future technological advancements in mobile (2014), GSMA Intelligence menjelaskan lebih lanjut tentang berbagai potensi teknologi 5G di masa depan. Berikut paparan singkatnya.


5G untuk Virtual Reality

Menurut GMSA Intelligence, teknologi 5G masih terus dikembangkan untuk mencapai “1 millisecond latency”, di mana transmisi data bisa dilakukan dengan jeda waktu (latency) seperseribu detik.

Kemampuan meniadakan latency ini nantinya bisa digunakan untuk mengembangkan teknologi virtual reality, yang berguna untuk kebutuhan entertainment (seperti pembuatan video game), pengembangan artificial intelligence di bidang medis, industri manufaktur, dan lain sebagainya.

GMSA Intelligence mencontohkan, jika 1 millisecond latency ini bisa tercapai, maka di masa depan dokter bedah bisa melakukan operasi jarak jauh dengan bantuan robot.

Namun demikian, menurut GMSA hal ini perlu didukung dengan pengembangan teknologi lain, seperti teknologi sensor gerak dan juga Head-Up Display (HUD) Systems, yakni teknologi penyajian data di medium transparan seperti yang digambarkan di film Iron Man.


5G untuk Otomatisasi Kendaraan

Kecepatan transmisi data 5G juga bisa digunakan untuk mengembangkan sistem autonomous driving, atau kendaraan otomatis.

Menurut GSMA Intelligence, penerapan autonomous driving bisa mengurangi potensi kesalahan pengemudi dan bisa menurunkan tingkat kecelakaan lalu lintas.

Hanya saja, untuk mewujudkan hal tersebut teknologi 5G benar-benar dituntut mampu menekan latency hingga mendekati nol.


5G untuk “Kantor Online”

Teknologi 5G bisa menghubungkan banyak gawai dan melakukan transmisi data hampir tanpa jeda.

Dengan begitu, berbagai perusahaan bisa menjalankan berbagai rapat dan koordinasi harian lewat multi-person video conferencing.

Hal itu sebenarnya sudah bisa dilakukan dengan teknologi 4G. Tapi menurut GSMA, konferensi video kelompok bisa dilakukan dengan semakin leluasa dan tanpa gangguan dengan menggunakan 5G.


5G untuk Mesin Cerdas

Teknologi 5G juga bisa digunakan untuk meningkatkan koneksi machine-to-machine (M2M).

Menurut GSMA Intelligence, kemungkinan penerapan sistem M2M ini tak terbatas. Mulai dari industri manufaktur, pemantauan kesehatan, pemadaman kebakaran, pelayanan konsumen, sampai untuk membantu kebutuhan rumah tangga.


Tantangan Infrastruktur Teknologi 5G

Meski smartphone 5G yang ada sekarang sudah terlihat sangat canggih, GSMA Intelligence menilai bahwa teknologi generasi baru ini masih dalam tahap pengembangan.

Untuk menerapkan teknologi 5G secara meluas ada juga sejumlah tantangan infrastruktur yang harus dilalui. Salah satunya: membangun banyak tiang pemancar (cell tower) mini.

Teknologi 5G melakukan transmisi data sangat besar lewat gelombang udara berfrekuensi super tinggi. Karena itu, gelombang jenis ini sulit melakukan perjalanan jarak jauh. Gelombang 5G juga tidak bisa begitu saja menembus benda padat seperti dinding atau atap.

Konsekuensinya, operator penyedia layanan 5G perlu membangun ribuan, bahkan mungkin jutaan, cell tower mini di berbagai tempat. Mulai dari jalanan, sela-sela gedung, sampai ke dalam rumah-rumah konsumen.


Penerapan Teknologi 5G di Indonesia

Menurut Prof. Dr. Eng. Khoirul Anwar, S.T.,M.Eng, pakar teknologi komunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), teknologi 5G baru akan diimplementasikan oleh negara-negara maju pada tahun 2020.

Sedangkan Indonesia diperkirakan baru siap menerapkan 5G pada tahun 2022.

Dalam lansiran situs resmi ITB.ac.id, Prof. Khoirul menyebut bahwa penundaan implementasi 5G dipengaruhi oleh berbagai hambatan, mulai dari wilayah Indonesia yang sangat luas, serta infrastruktur yang kurang mendukung.

(Sumber: www.gsma.com; www.itb.ac.id)

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.