Mengenal Suku Penghuni Hutan: Orang Rimba, Batin Sembilan dan Talang Mamak

Komunitas penghuni hutan di kawasan Jambi dan Riau biasa disebut dengan satu nama, yakni: Suku Anak Dalam. Padahal, menurut KKI Warsi, mereka terdiri dari suku yang berbeda-beda.

RUANG PUBLIK , BERITA , NASIONAL

Kamis, 14 Mar 2019 14:58 WIB

Author

Adi Ahdiat

Mengenal Suku Penghuni Hutan: Orang Rimba, Batin Sembilan dan Talang Mamak

Ilustrasi. Rumah Suku Anak Dalam di pinggir hutan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. (Foto: dephut.go.id)

Hutan bukan hanya tempat hidup bagi flora dan fauna. Di Indonesia, hutan juga menjadi rumah bagi suku-suku minoritas.

Semakin hari, hak hidup suku-suku minoritas kian tergerus laju pembangunan. Menurut informasi yang dihimpun Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, wilayah hutan yang jadi rumah dan sumber penghidupan mereka sudah banyak hancur akibat industri perkebunan dan proyek pembangunan jalan.

Berikut adalah gambaran umum tentang karakteristik suku-suku penghuni hutan Indonesia.


Orang Rimba, Kubu atau Suku Anak Dalam (SAD)

Menurut penjelasan yang dilansir Warsi.or.id, suku yang menghuni hutan di kawasan provinsi Jambi menamakan diri mereka dengan sebutan Orang Rimba.

Pola hidup mereka nomadik (berpindah-pindah) dengan sumber penghidupan dari berburu dan meramu hasil hutan. Di setiap persinggahannya, mereka tinggal dalam pondok-pondok sederhana yang dibuat dari kayu, daun dan rotan.

Untuk pakaian, mereka menggunakan cawat dan kemben untuk menutupi organ vital. Sedangkan dalam hal kepercayaan, mereka memuja dewa-dewa dan arwah leluhur.

Dengan pola kehidupan demikian, masyarakat Melayu di masa lalu menyebut mereka dengan nama “Kubu”, yang dalam bahasa Melayu berarti juga primitif, bodoh, kafir, kotor atau menjijikan.

Sebutan “Kubu” ini kemudian menjadi populer karena sering disebut dalam tulisan-tulisan pemerintah kolonial dan etnografer.

Pemerintah Provinsi Jambi sendiri menyebut Orang Rimba sebagai “Suku Anak Dalam” (SAD), menyiratkan makna orang terbelakang yang tinggal di pedalaman.

Pada kelanjutannya sebutan SAD lantas dipakai secara meluas. Bukan hanya untuk Orang Rimba saja, SAD juga digunakan untuk menyebut suku penghuni hutan lain yang terdapat di Jambi, yaitu Batin Sembilan dan Talang Mamak.

Padahal, menurut KKI Warsi, Orang Rimba tidak bisa disamakan begitu saja dengan Batin Sembilan dan Talang Mamak. Meski sekilas mirip, mereka punya cara hidup dan pola perpindahan yang berbeda.

Jika dibanding Orang Rimba yang aktif berpindah tempat, suku Batin Sembilan dan Talang Mamak ini relatif menetap lebih lama dan mampu menerapkan sistem peladangan sederhana untuk penghidupan mereka.


Baca Juga: Hutan Jadi Kebun Sawit, Warga SAD Jambi Kesulitan Cari Makanan


Batin Sembilan

Menurut KKI Warsi, suku yang bernama Batin Sembilan ini hidup di hutan-hutan di kawasan Kabupaten Muara Jambi, Batanghari dan Sarolangun.

KKI Warsi menyebut, konon penamaan Batin Sembilan merujuk kepada sembilan kawasan sungai yang biasa mereka tempati.

Pasca era Orde Baru, wilayah-wilayah yang ditempati suku Batin Sembilan banyak diserobot oleh pembangunan perkebunan sawit, hutan tanaman industri (HTI), serta kegiatan transmigrasi.


Talang Mamak

Suku Talang Mamak menghuni hutan di kawasan Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, dan juga Kabupaten Tebo, Jambi.

Di samping terancam oleh industri perkebunan sawit, KKI Warsi menyebut bahwa suku Talang Mamak menghadapi ancaman dari perusahan-perusahaan kayu gelondongan yang menggunduli hutan.

Suku Talang Mamak yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Batang Gangsal, Riau, juga rentan berkonflik dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) yang menjadikan kawasan tersebut sebagai area konservasi.


Perumahan untuk Orang Rimba, Batin Sembilan dan Talang Mamak

Untuk mengatasi konflik antara suku penghuni hutan dengan berbagai pihak luar, pemerintah telah berkali-kali mencoba mengeluarkan mereka dari hutan.

Tahun 2015 Presiden Jokowi sempat mendatangi Orang Rimba dan menawarkan mereka rumah di luar kawasan hutan.

Setiap tahunnya Kementerian Sosial lantas mengucurkan anggaran pembangunan rumah untuk SAD di berbagai kabupaten di Jambi. Menurut lansiran Antara.com, bahkan tahun 2019 ini Kepala Dinas Sosial Jambi, Arief Munandar, mengatakan akan membangun 62 unit rumah bantuan untuk SAD senilai Rp 2,4 miliar (22/2/2019).

Sayangnya, meski didasari niat baik, program pemberian rumah itu belum jelas efektivitasnya. Setelah beberapa tahun percobaan, rumah-rumah untuk Orang Rimba banyak dijual atau tak ditinggali hingga rusak dan terbengkalai.

Proyek pembangunan rumah bantuan SAD juga kerap ditemukan mangkrak di tengah jalan karena pengelolaan yang tidak jelas.


Baca Juga: Ajak Suku Anak Dalam Menetap, AMAN: Presiden Tak Tahu Budaya

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Polisi Didesak Ungkap Jaringan Perdagangan Orang dengan Modus Pernikahan

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Seperti Apa Peran Perempuan Mendorong Penggunaan Energi Terbarukan?